She #36 - Rain
Ren mencoba
menegarkan dirinya setelah seharian menangis. Sekarang dia mencoba dengan
sekuat tenaga untuk menghindari Andrea. Ia takkan datang ke kelas yang
diberikan Andrea, ia menghindari ruang jurusan, dan menghindar jika akan
berpapasan dengan pria itu.
Ia butuh
melakukan itu sebelum rasa suka membunuhnya.
Tapi ia mengenal
satu kosa kata lain dihidupnya.
Kalau bukan suka
yang membunuhnya, maka rasa rindu akan bertindak memegang senjata dan menodongnya.
Ren makin
menderita.
Dalam hidupnya
yang teratur, ia sama sekali tidak suka ada yang mengaturnya. Dan sekarang
pikirannya tidak teratur.
Saat ia masuk
kelas hari ini, ia sama sekali tidak menyangka kalau Andrea yang akan mengajar
mata kuliah itu. Selama pelajaran berlangsung ia lebih banyak menunduk dan melihat
catatannya. Ia mencatat dengan tekun dan kesal karena suara Andrea terlalu
jelas di telinganya. Ia menahan diri untuk mengangkat kepala walau hanya
sekedar mengintip saja.
Sialnya, Andrea
malah menunjuknya. “Ren? Kamu bangun?”
Ren tergagap dan
langsung duduk tegak. “Ya? Maksudku, iya.” Jawabnya cepat.
Semua teman
sekelasnya tertawa melihat tingkah Ren sedangkan Sherly merasa kasihan padanya.
Andrea tersenyum.
“Jadi, apa kamu
bisa menerangkan teori pembangunan ini?” tanyanya.
Ren menderita,
ia sama sekali tidak konsentrasi dengan segala penjelasan yang diberikan Andrea
dan semua orang di kelas itu tertawa. Ren menggigit bibirnya agar tidak
berteriak. Andrea memperhatikannya dan langsung menghampirinya.
Ren tegang di
tempat. Ia tidak berani menatap pria itu.
Andrea mengambil
catatannya dan membacanya. Ren membiarkannya.
“Saya rasa kamu
mencatat semua yang saya bicarakan,” katanya, “Bagus.”
Ia meletakkan
catatan itu kembali dan pergi.
Ren menghela
napas. Setidaknya ia mencoba melakukannya untuk melegakan hatinya, tapi dia
tidak bisa. Ia lelah dengan rasa gugupnya.
Andrea tahu
kalau tindakannya tadi seperti tidak berperasaan. Ren tegang dan itu terlihat
dari sikap tubuh dan kepanikannya. Sama seperti yang ia lihat sewaktu di bar
dulu. Ia kasihan padanya sekaligus tahu kalau Ren sekarang sangat ingin
menghindarinya.
Ia membiarkannya
tapi tetap saja ia penasaran.

0 comments: