She #35 - Rain

2:54 PM fe 0 Comments



Andrea menatap kosong layar laptopnya. Ia ingat semuanya saat awal ia dan Ren berkomunikasi secara intens di sini. Bagaimana gadis itu mendebatnya, menjebaknya, dan bagaimana ia dengan susah payah mencari cara agar ia tidak terlambat datang menepati janjinya.
Ia ingat bagaimana ia sangat marah saat Ren berubah menjadi seorang perayu ulung, bagaimana satu kata ‘cemburu’ mereka temukan berdua saat bertengkar di belakang bangunan itu, bagaimana Ren menantang Aya, dan bagaimana Ren hampir menangis saat mereka pulang meninggalkan tempat itu.
Baginya itu seperti mimpi dan itu yang membuatnya harus berpikir ribuan kali.

Mereka punya status. Bagi Ren selama penelitian itu berlangsung, statusnya adalah anak buah dan bos. Sekarang dia harus kembali ke statusnya yang asli. Dosen dan mahasiswa. Ia bisa melihat di mata Ren kalau gadis itu tidak menyukainya.
Sangat tidak menyukainya.
Saat Ren meneleponnya itu adalah saat yang membuatnya senang bukan main. Ia tidak berhenti tersenyum selama lima menit penuh sampai akhirnya ia sadar status mereka sendiri.
Status sialan!
Bahkan ia tahu selama sebulan mereka tidak bertemu, ia sangat merindukan masa-masa itu. Tapi ia kesal karena Ren kembali memanggilnya Pak, yang berarti nama Mr.Jason akan menggantikan nama Andrea di dalam benaknya. Ren menarik napasnya seolah memutuskan sesuatu tadi. Ia melihatnya. Ada beban berat dipunggungnya dan ia juga merasakan beban yang sama.
Tidak suka dengan kenyataan itu, Andrea menutup laptopnya dan berjalan meninggalkan ruangan.


Bagi Sherly, Ren tidak pernah sediam ini sebelumnya.
Temannya itu duduk diam, tidak mengomentari apapun yang mungkin salah di depan matanya dan ia malah mengaduk-aduk jusnya. Kosan mereka sangat sepi sekarang seiring sibuknya orang-orang disiang hari.
Sherly heran. Benar-benar heran.
“Ren?” panggilnya.
Ren tidak menjawab.
“Hei! Ren!”
Kali ini Ren tersadar. “Oh, Sori.”
“Lu kenapa? Sakit?” tanyanya cemas.
“Nggak?”
“Cacingan?”
“Eits!” Ren menangkis pemikiran itu. “Nggak!”
“Terus kenapa diam? Nggak biasa, tahu!”
Ren hanya tersenyum sedikit dan meminum jusnya. Ia diam lagi.
Sherly meradang, “Ya ampuuunn… Gue nggak biasa lihat lu diam! Ngomong, kek!”
Dan kali ini Ren sama sekali tidak tertawa seperti biasa. Ia justru menghela napas berat.
“Ren?” panggil Sherly lagi.
“Hm?”
“Kalau ada apa-apa, ngomong,” ia memperingatkan.
Ren menimbang-nimbang pilihannya.
“Kalau kamu nggak ngomong, gimana ada solusinya?” bujuk Sherly lagi.
“Lu punya berapa mantan?” tanya Ren tiba-tiba.
“Ya ampun! Gue kira lu mau nanya apa,” Sherly kaget dan bersandar ke dinding. “Lima,” jawabnya. “Kenapa?”
“Apa lu pernah suka duluan sama mereka?”
Sherly menghembuskan napas lelah, “Empat orang pertama suka duluan sama gue. Tapi orang yang terakhir ini… beda. Gue yang suka sama dia.”
Ren mengangguk paham.
“Kalau lu suka sama orang, apa lu merasa menderita?”
Sherly mengerutkan keningnya mencoba untuk menerka arah pembicaraan ini, “Yaah… Pasti senang lah. Tapi kenapa?”
“Kok gue nggak ya?”
Sherly waspada, “Jangan bilang kalau lu sedang…”lalu ia terkesiap, “Serius Ren?” pikirnya.
“Tapi nggak seindah lu,” Ren memeluk lututnya sekarang dan membenamkan kepalanya di sana. “Gue nggak pernah sesakit ini,” bisiknya jujur.
“Ren?”
“Gue nggak mau punya perasaan ini! Gue nggak mau!” dan Ren terisak.
Sherly tercengang. Baru kali ini ia melihat Ren menangis. Ren itu tipe gadis yang tegar dan logis. Dia lebih masuk akal jika berdebat tapi sekarang dia melihat sisi lainnya. Sherly tahu, sekeras apapun Ren menutupinya, Ren tetaplah wanita. Dia mungkin lebih banyak menggunakan logika ketimbang perasaan dan sekarang dia jelas-jelas sedang meraba perasaannya dan kata hatinya. Ia mendekat dan mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya.
“Gue nggak mau, Sher… Nggak mau…” katanya sambil menangis. “Dia itu mimpi. Dia nggak nyata!”
Sherly memeluknya dan paham apa yang terjadi.
“Ren… Emosi bukan sesuatu yang bisa kamu sukai atau nggak,” katanya lembut.
“Tapi gue nggak mau! Rasanya sakit dan gue nggak suka.”
“Karena apa?”
“Karena…” Ren terdiam saat menatap Sherly yang menunggu ucapannya. Ren kembali membenamkan kepalanya ke lututnya dan menggeleng.
“Karena lu pikir orang yang lu sukai itu terlarang untuk lu? Begitu?” terka Sherly lagi.
Ren tidak menjawab dan itu sudah cukup untuk membuktikan jawabannya.
“Tatap mata gue!” perintah Sherly.
Ren diam ditempat.
“Tatap mata gue, Ren. Gue mau nanya,” pinta Sherly lagi.
Ren dengan pelan mengangkat kepalanya dan menatap mata temannya itu.
“Lu pernah ngelakuin ini sama gue dulu. Tapi sekarang giliran gue yang lakuin ini sama lu,” ia merapikan rambut Ren yang kusut. “Lu suka sama dia atau mencintainya?”
Ren kaget. Itu kalimatnya! Sherly membalikkan kalimatnya padanya. Ren sering menginterogasi orang yang sedang dimabuk cinta dengan cara seperti ini dan sekarang dia menembakkan senjatanya sendiri ke dirinya.
Sherly menatapnya lekat-lekat dan serius.
Ren diam sejenak, mencoba berpikir keras saat temannya itu menanyakannya.
Suka dan cinta memang berbeda tipis. Ia mencoba mencari jawaban yang tepat diantara dua itu. Dan akhirnya jawaban yang sama muncul lagi.
“Gue cinta sama dia,” akunya jujur penuh derita.
Sherly tersenyum.

You Might Also Like

0 comments: