She #35 - Rain
Andrea menatap
kosong layar laptopnya. Ia ingat semuanya saat awal ia dan Ren berkomunikasi
secara intens di sini. Bagaimana gadis itu mendebatnya, menjebaknya, dan
bagaimana ia dengan susah payah mencari cara agar ia tidak terlambat datang
menepati janjinya.
Ia ingat
bagaimana ia sangat marah saat Ren berubah menjadi seorang perayu ulung,
bagaimana satu kata ‘cemburu’ mereka temukan berdua saat bertengkar di belakang
bangunan itu, bagaimana Ren menantang Aya, dan bagaimana Ren hampir menangis
saat mereka pulang meninggalkan tempat itu.
Baginya itu
seperti mimpi dan itu yang membuatnya harus berpikir ribuan kali.
Mereka punya
status. Bagi Ren selama penelitian itu berlangsung, statusnya adalah anak buah
dan bos. Sekarang dia harus kembali ke statusnya yang asli. Dosen dan
mahasiswa. Ia bisa melihat di mata Ren kalau gadis itu tidak menyukainya.
Sangat tidak
menyukainya.
Saat Ren
meneleponnya itu adalah saat yang membuatnya senang bukan main. Ia tidak
berhenti tersenyum selama lima menit penuh sampai akhirnya ia sadar status
mereka sendiri.
Status sialan!
Bahkan ia tahu
selama sebulan mereka tidak bertemu, ia sangat merindukan masa-masa itu. Tapi
ia kesal karena Ren kembali memanggilnya Pak, yang berarti nama Mr.Jason akan
menggantikan nama Andrea di dalam benaknya. Ren menarik napasnya seolah
memutuskan sesuatu tadi. Ia melihatnya. Ada beban berat dipunggungnya dan ia
juga merasakan beban yang sama.
Tidak suka
dengan kenyataan itu, Andrea menutup laptopnya dan berjalan meninggalkan
ruangan.
Bagi Sherly, Ren
tidak pernah sediam ini sebelumnya.
Temannya itu
duduk diam, tidak mengomentari apapun yang mungkin salah di depan matanya dan
ia malah mengaduk-aduk jusnya. Kosan mereka sangat sepi sekarang seiring
sibuknya orang-orang disiang hari.
Sherly heran.
Benar-benar heran.
“Ren?”
panggilnya.
Ren tidak
menjawab.
“Hei! Ren!”
Kali ini Ren
tersadar. “Oh, Sori.”
“Lu kenapa?
Sakit?” tanyanya cemas.
“Nggak?”
“Cacingan?”
“Eits!” Ren
menangkis pemikiran itu. “Nggak!”
“Terus kenapa
diam? Nggak biasa, tahu!”
Ren hanya
tersenyum sedikit dan meminum jusnya. Ia diam lagi.
Sherly meradang,
“Ya ampuuunn… Gue nggak biasa lihat lu diam! Ngomong, kek!”
Dan kali ini Ren
sama sekali tidak tertawa seperti biasa. Ia justru menghela napas berat.
“Ren?” panggil
Sherly lagi.
“Hm?”
“Kalau ada
apa-apa, ngomong,” ia memperingatkan.
Ren menimbang-nimbang
pilihannya.
“Kalau kamu
nggak ngomong, gimana ada solusinya?” bujuk Sherly lagi.
“Lu punya berapa
mantan?” tanya Ren tiba-tiba.
“Ya ampun! Gue
kira lu mau nanya apa,” Sherly kaget dan bersandar ke dinding. “Lima,”
jawabnya. “Kenapa?”
“Apa lu pernah
suka duluan sama mereka?”
Sherly
menghembuskan napas lelah, “Empat orang pertama suka duluan sama gue. Tapi
orang yang terakhir ini… beda. Gue yang suka sama dia.”
Ren mengangguk
paham.
“Kalau lu suka
sama orang, apa lu merasa menderita?”
Sherly
mengerutkan keningnya mencoba untuk menerka arah pembicaraan ini, “Yaah… Pasti
senang lah. Tapi kenapa?”
“Kok gue nggak
ya?”
Sherly waspada,
“Jangan bilang kalau lu sedang…”lalu ia terkesiap, “Serius Ren?” pikirnya.
“Tapi nggak
seindah lu,” Ren memeluk lututnya sekarang dan membenamkan kepalanya di sana. “Gue
nggak pernah sesakit ini,” bisiknya jujur.
“Ren?”
“Gue nggak mau
punya perasaan ini! Gue nggak mau!” dan Ren terisak.
Sherly
tercengang. Baru kali ini ia melihat Ren menangis. Ren itu tipe gadis yang
tegar dan logis. Dia lebih masuk akal jika berdebat tapi sekarang dia melihat
sisi lainnya. Sherly tahu, sekeras apapun Ren menutupinya, Ren tetaplah wanita.
Dia mungkin lebih banyak menggunakan logika ketimbang perasaan dan sekarang dia
jelas-jelas sedang meraba perasaannya dan kata hatinya. Ia mendekat dan
mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya.
“Gue nggak mau,
Sher… Nggak mau…” katanya sambil menangis. “Dia itu mimpi. Dia nggak nyata!”
Sherly
memeluknya dan paham apa yang terjadi.
“Ren… Emosi
bukan sesuatu yang bisa kamu sukai atau nggak,” katanya lembut.
“Tapi gue nggak
mau! Rasanya sakit dan gue nggak suka.”
“Karena apa?”
“Karena…” Ren
terdiam saat menatap Sherly yang menunggu ucapannya. Ren kembali membenamkan
kepalanya ke lututnya dan menggeleng.
“Karena lu pikir
orang yang lu sukai itu terlarang untuk lu? Begitu?” terka Sherly lagi.
Ren tidak
menjawab dan itu sudah cukup untuk membuktikan jawabannya.
“Tatap mata
gue!” perintah Sherly.
Ren diam
ditempat.
“Tatap mata gue,
Ren. Gue mau nanya,” pinta Sherly lagi.
Ren dengan pelan
mengangkat kepalanya dan menatap mata temannya itu.
“Lu pernah
ngelakuin ini sama gue dulu. Tapi sekarang giliran gue yang lakuin ini sama
lu,” ia merapikan rambut Ren yang kusut. “Lu suka sama dia atau mencintainya?”
Ren kaget. Itu
kalimatnya! Sherly membalikkan kalimatnya padanya. Ren sering menginterogasi
orang yang sedang dimabuk cinta dengan cara seperti ini dan sekarang dia
menembakkan senjatanya sendiri ke dirinya.
Sherly
menatapnya lekat-lekat dan serius.
Ren diam
sejenak, mencoba berpikir keras saat temannya itu menanyakannya.
Suka dan cinta
memang berbeda tipis. Ia mencoba mencari jawaban yang tepat diantara dua itu.
Dan akhirnya jawaban yang sama muncul lagi.
“Gue cinta sama
dia,” akunya jujur penuh derita.
Sherly
tersenyum.

0 comments: