She #34 - Rain
Ren membuka satu
lembar kertas kosong di depannya dan mulai mengetukkan pulpennya di sana.
Hari ini dia
berniat untuk mulai bermimpi.
Sebenarnya ia
bingung mau menulis apa tapi ia butuh melakukannya. Ia sudah berada di semester
akhir dan ia harus melakukan perencanaan masa depan yang matang. Masalahnya ia
baru memulainya sekarang.
Ia mencoretnya
dan mengungkapkan semua keinginannya.
Ia ingin
bekerja, tapi jadi apa?
Ren menghela
napas dan melipat kertas itu lagi lalu memasukkannya ke dalam tas seolah-olah
ia tak pernah membukanya. Ia menghidupkan komputernya, satu-satunya benda yang
bisa membuatnya terhubung ke seluruh dunia. Laptop milik Sherly yang ia pinjam
selama penelitian telah ia kembalikan.
Ia bahkan
bingung mau menulis apa sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kampus dan
duduk di bangku jurusan yang sepi.
Ini memang
tempat favoritnya hanya karena hari ini tempat ini begitu nyaman untuk
ditiduri.
Saat ia hampir
setengah sadar, seseorang menepuk bahunya dan tertawa padanya.
“Ini bukan
kamar, Ren. Kamu harusnya tidur di rumah,” sapanya dengan nada geli yang tidak
ditutup-tutupi.
Ren gelagapan
dan ia segera duduk tegak saat melihat seorang pria yang sangat ia kenal
berdiri di depannya dan tersenyum lebar padanya.
“Hah? Apa?” Ren
yang kaget dan panik langsung mencoba mengembalikan kesadarannya. “Sial! Jangan
bangunkan aku tiba-tiba!” protesnya reflek dan orang itu tertawa sambil duduk
di seberang Ren.
“Kamu ini
gimana? Ini jurusan, bukan kamar,” Andrea menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ren mengucek
matanya persis seperti anak kecil yang imut dan lucu. Wajahnya merengut kesal
dan Andrea merasa sangat senang menggodanya.
Tapi bukan hanya
itu, ia senang bisa melihat gadis itu lagi. Sudah hampir sebulan ia tidak
melihatnya dan itu membangkitkan rasa penasaran dan rindu yang aneh.
“Apa kabar?”
tanya Andrea.
Ren mencoba
santai sekarang. Ia tidak suka pada Andrea yang bersikap tenang dan sedang
tersenyum manis di depannya. Ini bukan Andrea yang dia kenal. Tapi disamping
itu ia senang karena bisa melihatnya. Ren mengulum senyumnya dan menjawab,
“Aman.”
Andrea mengangguk.
“Bapak kemana
saja selama ini?” Ren mencoba, sungguh-sungguh mencoba untuk bersikap santai,
hormat, dan terbuka layaknya mahasiswa umumnya. Ia menempatkan dirinya sebagai
mahasiswa dan Andrea sebagai dosen.
Baginya Andrea
bukan lagi rekannya dan bukan lagi pria yang sama dengan yang dikenalnya
beberapa bulan lalu. Ia mengatupkan rahangnya, menahan rasa sakit karena
sekarang ada palang pembatas diantara mereka.
Jujur, dia tidak
suka.
Tapi bukan hanya
Ren yang merasakan itu. Andrea juga sama. Ia tidak suka karena harus menghadapi
kenyataan yang sebenarnya di sini, di dunia asli mereka sendiri. Senyumnya
menghilang sejenak sebelum berganti dengan senyuman wajar yang biasa ia berikan
pada mahasiswanya.
“Keluar kota,”
jawabnya ringan. “Ada banyak hal yang harus diurus dan itu makan waktu.”
Ren mengangguk
paham. Lalu keheningan mengambang disekitar mereka.
Ren menundukkan
pandangannya dan hanya diam. Andrea juga sama, hanya diam.
“Jadi…” Ren
memulai, “…sangat sibuk ya?” Ren benar-benar kehilangan kata-kata saat dua
orang mahasiswa melalui jalan di tengah mereka. “Aku rasa kok ada yang janggal
ya?” tanyanya lebih seperti gumaman.
“Begitu?”
Ren mengangkat
kepalanya dan tertawa dengan satu teori yang melintas dibenaknya dalam waktu
sepersekian detik tadi.
Benarkah
pikirannya itu?
“Ah ya! Giman
hasil penelitiannya?”

0 comments: