She #34 - Rain

2:52 PM fe 0 Comments



Ren membuka satu lembar kertas kosong di depannya dan mulai mengetukkan pulpennya di sana.
Hari ini dia berniat untuk mulai bermimpi.
Sebenarnya ia bingung mau menulis apa tapi ia butuh melakukannya. Ia sudah berada di semester akhir dan ia harus melakukan perencanaan masa depan yang matang. Masalahnya ia baru memulainya sekarang.
Ia mencoretnya dan mengungkapkan semua keinginannya.

Ia ingin bekerja, tapi jadi apa?
Ren menghela napas dan melipat kertas itu lagi lalu memasukkannya ke dalam tas seolah-olah ia tak pernah membukanya. Ia menghidupkan komputernya, satu-satunya benda yang bisa membuatnya terhubung ke seluruh dunia. Laptop milik Sherly yang ia pinjam selama penelitian telah ia kembalikan.
Ia bahkan bingung mau menulis apa sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kampus dan duduk di bangku jurusan yang sepi.
Ini memang tempat favoritnya hanya karena hari ini tempat ini begitu nyaman untuk ditiduri.
Saat ia hampir setengah sadar, seseorang menepuk bahunya dan tertawa padanya.
“Ini bukan kamar, Ren. Kamu harusnya tidur di rumah,” sapanya dengan nada geli yang tidak ditutup-tutupi.
Ren gelagapan dan ia segera duduk tegak saat melihat seorang pria yang sangat ia kenal berdiri di depannya dan tersenyum lebar padanya.
“Hah? Apa?” Ren yang kaget dan panik langsung mencoba mengembalikan kesadarannya. “Sial! Jangan bangunkan aku tiba-tiba!” protesnya reflek dan orang itu tertawa sambil duduk di seberang Ren.
“Kamu ini gimana? Ini jurusan, bukan kamar,” Andrea menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ren mengucek matanya persis seperti anak kecil yang imut dan lucu. Wajahnya merengut kesal dan Andrea merasa sangat senang menggodanya.
Tapi bukan hanya itu, ia senang bisa melihat gadis itu lagi. Sudah hampir sebulan ia tidak melihatnya dan itu membangkitkan rasa penasaran dan rindu yang aneh.
“Apa kabar?” tanya Andrea.
Ren mencoba santai sekarang. Ia tidak suka pada Andrea yang bersikap tenang dan sedang tersenyum manis di depannya. Ini bukan Andrea yang dia kenal. Tapi disamping itu ia senang karena bisa melihatnya. Ren mengulum senyumnya dan menjawab, “Aman.”
Andrea mengangguk.
“Bapak kemana saja selama ini?” Ren mencoba, sungguh-sungguh mencoba untuk bersikap santai, hormat, dan terbuka layaknya mahasiswa umumnya. Ia menempatkan dirinya sebagai mahasiswa dan Andrea sebagai dosen.
Baginya Andrea bukan lagi rekannya dan bukan lagi pria yang sama dengan yang dikenalnya beberapa bulan lalu. Ia mengatupkan rahangnya, menahan rasa sakit karena sekarang ada palang pembatas diantara mereka.
Jujur, dia tidak suka.
Tapi bukan hanya Ren yang merasakan itu. Andrea juga sama. Ia tidak suka karena harus menghadapi kenyataan yang sebenarnya di sini, di dunia asli mereka sendiri. Senyumnya menghilang sejenak sebelum berganti dengan senyuman wajar yang biasa ia berikan pada mahasiswanya.
“Keluar kota,” jawabnya ringan. “Ada banyak hal yang harus diurus dan itu makan waktu.”
Ren mengangguk paham. Lalu keheningan mengambang disekitar mereka.
Ren menundukkan pandangannya dan hanya diam. Andrea juga sama, hanya diam.
“Jadi…” Ren memulai, “…sangat sibuk ya?” Ren benar-benar kehilangan kata-kata saat dua orang mahasiswa melalui jalan di tengah mereka. “Aku rasa kok ada yang janggal ya?” tanyanya lebih seperti gumaman.
“Begitu?”
Ren mengangkat kepalanya dan tertawa dengan satu teori yang melintas dibenaknya dalam waktu sepersekian detik tadi.
Benarkah pikirannya itu?
“Ah ya! Giman hasil penelitiannya?”

You Might Also Like

0 comments: