She #33 - Rain
Some
Where Only We Know dari Keane mengalun
lembut ditelinga Ren saat ia meluruskan kakinya, menghirup aroma lorong
jurusannya yang khas dan dingin, menikmati semburan angin mengalir dari ujung
lorong ke ujung lainnya, menikmati rasa sepi di lorong yang sepi, dan
memejamkan matanya agar tubuhnya santai.
Semester baru.
Ini adalah semester baru di tahunnya yang ketiga. Ia sudah mengenal tempat ini
hampir tiga tahun terakhir dan masih menyukai ritual paginya, datang pagi-pagi
dan memejamkan matanya sambil mendengarkan lagu-lagu berirama lembut dan easy listening.
Sudah dua minggu
penuh ia tidak bertemu dengan Andrea lagi sejak ia mengantarnya kembali ke
kosannya. Sudah dua minggu juga ia tidak mendengar suara dan kabar pria itu.
Sebagai gantinya ia malah mendapat macam-macam kabar dari Ginny, Rossa, dan
Mint. Setiap akhir minggu mereka suka saling melakukan konferensi bersama walau
hanya sekedar menggosip atau menceritakan apapun yang dianggap menarik. Oh,
itulah yang dilakukan kaum hawa saat berkumpul. Apa lagi?
Pukul delapan
tepat ia kembali ke kelasnya dan menemui beberapa temannya ada di sana. Neno
memeluknya.
“Reeeennnn!!”
serunya bahagia. “Gimana? Gimana liburannya?” tanyanya semangat.
“Ada oleh-oleh
dulu nggak?”
Neno mendesis
kesal, “Iya. Ada. Nih gue bawain. Terus kata Sherly lu nggak pulang ya?”
“Hm.”
“Ya elah! Dasar!
Ya udah, ambil dulu nih oleh-olehnya,” Neno menyerahkan satu bungkusan hitam
besar pada Ren.
“Eh, tapi ini
untuk gue semua kan? Ga bagi dua sama Sherly, kan?” tanya Ren penuh harap.
“Iya, iya. Ini buat
lu sendiri. Kalau Sherly ada lagi,” ia menunjuk ke bungkusan besar yang lain.
“Yes! Thanks!”
“Terus gimana?
Lu kemana?”
Ren duduk
dibangkunya dan menceritakan pengalamannya walau hanya sedikit. Intinya dia
takkan membagi informasi tentang sosok Andrea sebenarnya dan juga ia sangat
senang karena bisa ikut penelitian itu.
“Gila! Yang
bener?” Neno membelalak tidak percaya.
“Serius!” kata
Ren. “Malah gue senang bisa ikut penelitian ini.”
Neno
manggut-manggut dan ia mulai bicara tentang apa yang dilakukannya selama
liburan dengan penuh semangat. Tapi Ren tidak fokus. Ia tahu kalau nama Andrea
ada di dalam daftar dosen yang akan memberi bahan ajar di mata kuliah pagi ini.
Hanya saja orang yang ingin ditemuinya itu sama sekali tidak terlihat sekalipun
ia sudah sengaja melongokkan kepalanya ke dalam ruang dosen.
Tidak ada.
Andrea tidak ada
hari ini.
Tapi sialnya
dalam seminggu itu pria itu sama sekali tidak terlihat di kampus dan
jurusannya. Ren mengabaikannya. Hidupnya kembali seperti biasa.
Ia berkumpul
dengan teman-temannya, mendengar semua cerita mereka, dan membuat tugas seperti
biasa. Hal ini terus berlanjut selama dua minggu kemudian.
Ren menghela
napasnya.
Ia penasaran dan
rasa penasaran yang dari awal sudah ditekannya membuatnya menderita. Ia sudah
berkali-kali memandang ponselnya dan mempertimbangkan untuk meneleponnya.
Akhirnya di
siang yang sepi itu, saat dia memutuskan untuk mengakses internet sendirian di
kampusnya, Ren membuka kunci ponselnya dan menekan nomor Andrea.
Tut…
Satu nada
sambung itu membuatnya tersentak kaget!
Ia segera
mematikan sambungannya dan merasakan rasa takut. Jantungnya berdetak keras dan
ia cepat-cepat memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya, berharap tidak ada yang
menghubunginya hari ini.
Ia mengalihkan pikirannya
dan mencoba fokus dengan blog nya. Ia
menarik napas, mencoba menenangkan diri sambil memaki diri.
Apa yang
dilakukannya?
Kontrak kerja
mereka sudah habis, kan? Dan ia tidak punya alasan untuk mencari pria itu walau
ia hanya ingin melihat wajahnya. Setidaknya ia ingin memastikan kalau orang itu
masih hidup.
Tapi ia lupa
mematikan dering ponselnya sendiri jika ia tidak ingin tahu ada orang yang
menghubunginya. Suara petikan gitar dari Sugar Ray berjudul Someday mengalun dari dalam tasnya.
Ren terkejut
bukan kepalang. Dia panik dan saking paniknya dia hampir mengeluarkan isi
tasnya hanya demi mengambil ponsel.
Nama Andrea
tertera di sana dan kepanikannya meningkat. Tapi si penelepon sepertinya tidak
berniat mematikan sambungannya jadi akhirnya setelah agak lama baru dia
mengangkatnya.
“Halo?” Ren
mulai bicara.
“Ren? Hei,”
sapanya. “Apa tadi kamu menghubungi saya?” tanyanya.
“Ah, ya… Salah
pencet!” Ren tiba-tiba mengubah alasannya dan ia merasa asing. Kalimat formal
itu, ‘saya’ dan ‘anda’, kembali ke dalam dunia normalnya dan Ren merasa asing.
Benar-benar merasa asing. Rasa senangnya karena bisa mendengar suara pria itu
seketika berkurang.
“Oh gitu. Saya
kira ada masalah apa,” suaranya terdengar tenang diujung telepon sana. “Ya
sudah. Kalau nggak ada apa-apa.”
Ren membuka
mulutnya tapi dia segera berhenti. Lalu dengan pelan berkata, “Ya.”
Dan sambungan
terputus.
Ren menatap
ponselnya lama dan ia sama sekali tidak menyangkal kalau ada rasa kecewa
sekarang. Rasa kecewa yang sangat besar yang membuatnya ingin menangis. Matanya
panas dan ia merasa bodoh. Saat air mata itu mengalir di pipinya tanpa ia
inginkan, ia menghapusnya dengan kasar.
Bodoh!
Buat apa
menangis? Lagi pula mereka berdua berhubungan secara normal sebagai dosen dan
mahasiswa. Jadi kenapa kecewa?
Ren tertawa,
berusaha melogiskan pikirannya agar hatinya tak sakit. Tapi ia tahu kalau dia
terluka, merasa kehilangan, dan merasa kalau itu adalah mimpi.
Masa liburan itu
memang menyenangkan dan sudah saatnya ia mengucapkan selamat tinggal. Selamat
tinggal pada liburannya, dan pada pengalamannya yang sekarang jadi memori.
Sekarang dia
sudah kembali. Sudah di sini, menjadi seorang mahasiswa biasa yang bergelut
dengan buku, teori, argumen… dan segala hal yang berbau pendidikan.
Ren tertawa dan
menghapus air matanya yang masih keluar karena hatinya yang sakit.
Sungguh! Dia tak
ingin menangis!

0 comments: