She #32 - Rain
Malam itu dia sendirian. Ginny telah
pergi kerja dan Ren duduk di kursi ruang tamu. Ia memuaskan matanya, memandangi
rumah yang ia tinggali ini dan tidak percaya kalau waktu rasanya seperti
terbang.
Beberapa jam lagi, setelah matahari
terbit, ia akan pergi.
Ruangan ini, kamar ini, meja makan ini…
semuanya membuatnya yakin kalau dia akan merindukannya. Ia juga telah bertemu
dengan Aira, gadis kecil buta yang sangat senang saat bertemu dengannya dan
berteriak, “Cokelat!”
Ren tertawa, tidak tahu kalau dia memang
berbau cokelat atau tidak. Tapi ia tahu kalau Aira sangat jujur dan polos.
“Aku akan membuat toko bunga! Aku bisa
membedakan harum bunga dan Mama suka bunga.”
Ren tidak kuat. Ia sama sekali tidak
suka melihat kenyataan yang ada di depannya.
“Dan Mama nggak perlu kerja di luar lagi
karena kali ini aku yang kerja,” katanya riang.
Aira, anak sepolos itu, harus menanggung
beban karena tak sempurna. Tapi dia sangat optimis pada hidup. Mungkin karena
dia masih kecil dan belum berpikir macam-macam. Tapi ia tahu kalau mimpi itu
seharusnya ia pertahankan.
“Kalau gitu, jangan berenti
membicarakannya,” kata Ren.
Bicarakan mimpimu agar kau menjadi kuat.
Bicarakan mimpimu karena hanya kamu yang punya. Tak peduli jika orang lain
tertawa karena mimpi itu hanya milikmu sendiri.
Banyak harapan yang disimpan oleh semua
orang di sini. Mereka tidak dilarang bermimpi dan mereka semua masih
melakukannya.
Helsy, gadis luar biasa itu, menyentak
mereka semua. Ginny bercerita kalau semua pembicaraan Helsy tentang cita-cita dan
mimpinya hanya dianggap sebagai mimpi di siang bolong. Tapi saat Helsy berlari
dan berkata kalau dia akan ke Jepang, semua orang terdiam. Ada yang
menganggapnya kebetulan, ada yang menganggapnya anugerah, ada yang
menganggapnya keajaiban.
Helsy menutup telinganya dan ia memang
tidak perlu mendengar pendapat orang lain. Yang ia tahu, ia menginginkannya dan
Tuhan tahu itu.
Perpisahan adalah hal sentimentil yang
dibenci Ren. Ia benci menangis karena itu akan membuat orang lain tahu kalau
dia berat berpisah dengan semua ini. Ferry, Ginny, Rossa, Mint, dan Zulki
berdiri di halaman rumah Ginny untuk melepas mereka berdua. Barang-barang telah
dinaikkan ke atas mobil dan mereka siap berangkat.
“Jangan lupa hubungi kami,” kata Ginny
pada Ren.
“Pasti. Aku juga bisa main ke sini kan?”
tanya Ren.
Ginny tertawa, “Pasti. Kamu bisa datang
kapan saja. Nanti kalau Helsy pulang akan kuberitahu.”
Mereka telah saling bertukar nomor
kontak dan ini membuat Ren bisa menghubunginya kapan saja.
“Kalau aku sudah sampai aku sms,” janji
Ren pada mereka.
Ferry yang membantu Andrea memasukkan
barang-barang ke bagasi langsung menjabat tangan pria itu.
“Aku nggak suka ini, Kawan,” katanya
sambil tersenyum.
“Aku akan sering main ke sini. Tapi
dia…” ia menatap Ren yang masih berbincang dengan Ginny, Rossa, dan Mint,
“harus ke sini dengan perlindunganku.”
“Ah ya!” ia menyembunyikan senyumnya.
Dan setelah saling berpelukan dan
mengucapkan selamat tinggal, mereka melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa sadar Ren menghela napasnya dan
menyadarkan tubuhnya dengan lelah ke sandaran kursi. Ia diam sekali.
“Bagaimana?” tanya Andrea.
Ren memalingkan wajahnya menatap
pemandangan yang berjalan mundur dari jendela. Ia tidak menanggapi pertanyaan
pria itu. Hatinya merasa berat dan ia tahu kalau ia hampir menangis.
Ia merindukan tempat itu,
orang-orangnya, dan juga segala pengalamannya. Rasanya semua seperti mimpi. Ia
mengingatkan dirinya sendiri kalau itu bukan dunianya. Ia pelajar. Ia normal.
Ia akan tidur diwaktu malam dan beraktifitas di waktu siang. Dunia malam bukan
dunianya. Bau alkohol bukan udaranya. Tapi ketentraman dan segala yang terjadi
itu begitu cepat berlalu. Terlalu cepat malah.
Dan di sini. Di dalam mobil ini ia
menahan dirinya untuk bergerak turun dan kembali ke sana hanya karena banyak
keajaiban yang terjadi. Hidupnya bukan lagi sesuatu yang berjalan biasa-biasa
saja tapi sangat penuh gelombang dan hal baru. Ia tidak bosan.
Ren menelan ludahnya yang artinya dia
menelan kepahitannya sendiri.
Saat ia sampai di kamar kosannya dan
saat liburannya berakhir, maka semuanya kembali normal.
Andrea tidak mengganggu Ren selama gadis
itu memutuskan untuk diam saja. Ia juga pernah merasakan hal yang sama. Ia
sangat betah di sana sebelum Rossa memburunya agar dirinya kembali ke
keluarganya. Sekarang ia datang bukan lagi sebagai anak tersasar, tapi sebagai
peneliti yang punya niat terselubung.
Ia mengultimatum Ren untuk mencatat
apapun yang dikatakan semua informannya termasuk perkataan Ginny dan Rossa.
Dari paksaan itulah ia tahu apa sebenarnya diinginkan kedua wanita itu. Ia bisa
membantu Ginny dan Rossa mewujudkan impian mereka, secara diam-diam tentunya.
Tapi ia tetap tidak bisa menyelamatkan Ferry yang kaya raya berkat bisnis
kotornya. Ia sudah karatan ada di sana.
Baginya hanya tinggal menunggu waktu
sebelum Rossa bisa lepas dari kontrak terkutuk itu dan membangun toko kue
impiannya. Andrea berniat untuk menanamkan modalnya di sana. Selain itu ia akan
mencoba membebaskan Ginny dengan uang tebusan. Hanya saja ia baru bisa
melakukan itu untuk dua orang itu saja karena harga kebebasan mereka
masing-masing sangat berbeda. Ia akan melakukannya pelan-pelan dulu dan
mendorong Rossa untuk memajukan usahanya sehingga bisa membuka lapangan usaha
baru.
Ia tahu untuk menghapus satu kotak hitam
di dalam peta prostitusi sangatlah sulit. Banyak orang yang menggantungkan
hidupnya di sana dan ini adalah pekerjaan yang mudah didapat karena peminatnya
juga banyak. Karena itu hukumpun juga tidak berkutik melakukan pembebasan bagi
kebebasan mereka. Dan karena dunia nyata begitu kejam, maka yang bisa dilakukan
adalah menyeimbangkan segala kebutuhan dengan pendapatan. Tapi itu juga masih
susah mengingat perekonomian di negara ini saja masih rendah.
Andrea membiarkan keheningan menyelimuti
mereka dan akhirnya Ren berkata, “Hei, mau makan KFC? Aku lapar. Tapi kamu yang
traktir. Sungguh! Kamu bikin aku galau.”
Andrea tertawa pelan dan menyetujuinya.

0 comments: