She #32 - Rain

2:48 PM fe 0 Comments



Malam itu dia sendirian. Ginny telah pergi kerja dan Ren duduk di kursi ruang tamu. Ia memuaskan matanya, memandangi rumah yang ia tinggali ini dan tidak percaya kalau waktu rasanya seperti terbang.
Beberapa jam lagi, setelah matahari terbit, ia akan pergi.
Ruangan ini, kamar ini, meja makan ini… semuanya membuatnya yakin kalau dia akan merindukannya. Ia juga telah bertemu dengan Aira, gadis kecil buta yang sangat senang saat bertemu dengannya dan berteriak, “Cokelat!”
Ren tertawa, tidak tahu kalau dia memang berbau cokelat atau tidak. Tapi ia tahu kalau Aira sangat jujur dan polos.

“Aku akan membuat toko bunga! Aku bisa membedakan harum bunga dan Mama suka bunga.”
Ren tidak kuat. Ia sama sekali tidak suka melihat kenyataan yang ada di depannya.
“Dan Mama nggak perlu kerja di luar lagi karena kali ini aku yang kerja,” katanya riang.
Aira, anak sepolos itu, harus menanggung beban karena tak sempurna. Tapi dia sangat optimis pada hidup. Mungkin karena dia masih kecil dan belum berpikir macam-macam. Tapi ia tahu kalau mimpi itu seharusnya ia pertahankan.
“Kalau gitu, jangan berenti membicarakannya,” kata Ren.
Bicarakan mimpimu agar kau menjadi kuat. Bicarakan mimpimu karena hanya kamu yang punya. Tak peduli jika orang lain tertawa karena mimpi itu hanya milikmu sendiri.
Banyak harapan yang disimpan oleh semua orang di sini. Mereka tidak dilarang bermimpi dan mereka semua masih melakukannya.
Helsy, gadis luar biasa itu, menyentak mereka semua. Ginny bercerita kalau semua pembicaraan Helsy tentang cita-cita dan mimpinya hanya dianggap sebagai mimpi di siang bolong. Tapi saat Helsy berlari dan berkata kalau dia akan ke Jepang, semua orang terdiam. Ada yang menganggapnya kebetulan, ada yang menganggapnya anugerah, ada yang menganggapnya keajaiban.
Helsy menutup telinganya dan ia memang tidak perlu mendengar pendapat orang lain. Yang ia tahu, ia menginginkannya dan Tuhan tahu itu.


Perpisahan adalah hal sentimentil yang dibenci Ren. Ia benci menangis karena itu akan membuat orang lain tahu kalau dia berat berpisah dengan semua ini. Ferry, Ginny, Rossa, Mint, dan Zulki berdiri di halaman rumah Ginny untuk melepas mereka berdua. Barang-barang telah dinaikkan ke atas mobil dan mereka siap berangkat.
“Jangan lupa hubungi kami,” kata Ginny pada Ren.
“Pasti. Aku juga bisa main ke sini kan?” tanya Ren.
Ginny tertawa, “Pasti. Kamu bisa datang kapan saja. Nanti kalau Helsy pulang akan kuberitahu.”
Mereka telah saling bertukar nomor kontak dan ini membuat Ren bisa menghubunginya kapan saja.
“Kalau aku sudah sampai aku sms,” janji Ren pada mereka.
Ferry yang membantu Andrea memasukkan barang-barang ke bagasi langsung menjabat tangan pria itu.
“Aku nggak suka ini, Kawan,” katanya sambil tersenyum.
“Aku akan sering main ke sini. Tapi dia…” ia menatap Ren yang masih berbincang dengan Ginny, Rossa, dan Mint, “harus ke sini dengan perlindunganku.”
“Ah ya!” ia menyembunyikan senyumnya.
Dan setelah saling berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal, mereka melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa sadar Ren menghela napasnya dan menyadarkan tubuhnya dengan lelah ke sandaran kursi. Ia diam sekali.
“Bagaimana?” tanya Andrea.
Ren memalingkan wajahnya menatap pemandangan yang berjalan mundur dari jendela. Ia tidak menanggapi pertanyaan pria itu. Hatinya merasa berat dan ia tahu kalau ia hampir menangis.
Ia merindukan tempat itu, orang-orangnya, dan juga segala pengalamannya. Rasanya semua seperti mimpi. Ia mengingatkan dirinya sendiri kalau itu bukan dunianya. Ia pelajar. Ia normal. Ia akan tidur diwaktu malam dan beraktifitas di waktu siang. Dunia malam bukan dunianya. Bau alkohol bukan udaranya. Tapi ketentraman dan segala yang terjadi itu begitu cepat berlalu. Terlalu cepat malah.
Dan di sini. Di dalam mobil ini ia menahan dirinya untuk bergerak turun dan kembali ke sana hanya karena banyak keajaiban yang terjadi. Hidupnya bukan lagi sesuatu yang berjalan biasa-biasa saja tapi sangat penuh gelombang dan hal baru. Ia tidak bosan.
Ren menelan ludahnya yang artinya dia menelan kepahitannya sendiri.
Saat ia sampai di kamar kosannya dan saat liburannya berakhir, maka semuanya kembali normal.


Andrea tidak mengganggu Ren selama gadis itu memutuskan untuk diam saja. Ia juga pernah merasakan hal yang sama. Ia sangat betah di sana sebelum Rossa memburunya agar dirinya kembali ke keluarganya. Sekarang ia datang bukan lagi sebagai anak tersasar, tapi sebagai peneliti yang punya niat terselubung.
Ia mengultimatum Ren untuk mencatat apapun yang dikatakan semua informannya termasuk perkataan Ginny dan Rossa. Dari paksaan itulah ia tahu apa sebenarnya diinginkan kedua wanita itu. Ia bisa membantu Ginny dan Rossa mewujudkan impian mereka, secara diam-diam tentunya. Tapi ia tetap tidak bisa menyelamatkan Ferry yang kaya raya berkat bisnis kotornya. Ia sudah karatan ada di sana.
Baginya hanya tinggal menunggu waktu sebelum Rossa bisa lepas dari kontrak terkutuk itu dan membangun toko kue impiannya. Andrea berniat untuk menanamkan modalnya di sana. Selain itu ia akan mencoba membebaskan Ginny dengan uang tebusan. Hanya saja ia baru bisa melakukan itu untuk dua orang itu saja karena harga kebebasan mereka masing-masing sangat berbeda. Ia akan melakukannya pelan-pelan dulu dan mendorong Rossa untuk memajukan usahanya sehingga bisa membuka lapangan usaha baru.
Ia tahu untuk menghapus satu kotak hitam di dalam peta prostitusi sangatlah sulit. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sana dan ini adalah pekerjaan yang mudah didapat karena peminatnya juga banyak. Karena itu hukumpun juga tidak berkutik melakukan pembebasan bagi kebebasan mereka. Dan karena dunia nyata begitu kejam, maka yang bisa dilakukan adalah menyeimbangkan segala kebutuhan dengan pendapatan. Tapi itu juga masih susah mengingat perekonomian di negara ini saja masih rendah.
Andrea membiarkan keheningan menyelimuti mereka dan akhirnya Ren berkata, “Hei, mau makan KFC? Aku lapar. Tapi kamu yang traktir. Sungguh! Kamu bikin aku galau.”
Andrea tertawa pelan dan menyetujuinya.

You Might Also Like

0 comments: