She #31 - Rain

2:46 PM fe 0 Comments



Ren membereskan barang-barangnya. Besok dia akan pulang. Semua penelitian dan data yang dia butuhkan telah lengkap semua. Anehnya dia betah ada di sini. Ia betah bersama Ginny, Rossa, Mint, dan Ferry. Ia juga sangat suka dengan laut dan sudah terbiasa mencium bau alkohol, meladeni pembicaraan nakal tamunya, memperingatkan tamunya, dan menyajikan kopi dengan lebih baik.
Tapi tidak. Ini bukan dunianya jadi mau tak mau ia harus pergi.

Malam ini ia tidak bekerja dan Rossa yang kebetulan libur kembali mengajaknya ke rumahnya.
“Harga oven besar sangat mahal,” kata Rossa sambil membolak-balik majalan kue dan masakan di meja makannya.
“Yah… Itu modal pertama, “Ren juga ikut membolak balik majalahnya.
“Aku mau punya satu toko kue… Mungkin lebih baik toko cake dengan dekorasi kuning lemon dan dinding kaca transparan. Ada bunga-bunga yang digantung diterasnya, lalu mejanya beralaskan taplak motif kotak-kotak dan terletak di jalan utama. Kertas dindingnya harus yang kualitas bagus, lampunya juga harus didesain unik,” Rossa terus bercerita tentang konsep toko kuenya nanti.
Konsep impiannya.
Ah! Rasanya memang benar. Banyak orang yang tidak berani bermimpi hanya karena mereka tahu realitanya seperti apa. Tapi Rossa termotivasi oleh dua orang dihidupnya, Andrea dan Helsy.
Ren tahu kalau dulu saat Andrea diseret pulang oleh keluarganya, Rossa mengancam akan membunuhnya kalau Andrea masih ingin tinggal di sini. Ancaman itu tidak main-main tentunya.
Rossa melepaskannya, melepaskan satu orang anak lelaki yang jelas memiliki jalan yang berbeda dengannya untuk pergi ke dunia yang lebih baik. Dan Andrea pergi karena dia tahu kalau Rossa tidak bisa diuji kesabarannya. Jika dia marah, maka amukannya bisa merusak apapun! Tapi kesabarannya luar biasa!
Helsy membuktikannya kalau dia bisa meraih mimpinya dan mendorong Ginny dan Rossa untuk bergerak menuju mimpinya. Uang tabungan Rossa sudah hampir bisa membeli satu buah oven besar dan kulkas. Tapi dia masih kekurangan modal dan dia masih terikat kontrak selama beberapa bulan ke depan.
Ia takkan menyerahkan uangnya yang sebentar lagi bisa ia pakai untuk mewujudkan mimpinya dan ia juga takkan menyia-nyiakan Ginny. Segera jika uangnya sudah cukup ia akan menebus kebebasan bagi temannya itu. Ini masih rahasia sebenarnya tapi ia membocorkan rencana itu pada Ren.
Ren membiarkannya membicarakan mimpinya karena dia tahu jika ia membicarakannya maka ia akan bergerak selangkah mendekati mimpinya itu. Tapi sekarang Ren sendiri tidak tahu apa mimpinya.
Ginny dan Rossa bergerak, berusaha mencapai kebebasan mereka dari kontrak itu.
Sedangkan Ren, di sini, tidak tahu keinginannya sendiri.

You Might Also Like

0 comments: