She #31 - Rain
Ren membereskan barang-barangnya. Besok
dia akan pulang. Semua penelitian dan data yang dia butuhkan telah lengkap
semua. Anehnya dia betah ada di sini. Ia betah bersama Ginny, Rossa, Mint, dan Ferry.
Ia juga sangat suka dengan laut dan sudah terbiasa mencium bau alkohol,
meladeni pembicaraan nakal tamunya, memperingatkan tamunya, dan menyajikan kopi
dengan lebih baik.
Tapi tidak. Ini bukan dunianya jadi mau
tak mau ia harus pergi.
Malam ini ia tidak bekerja dan Rossa
yang kebetulan libur kembali mengajaknya ke rumahnya.
“Harga oven besar sangat mahal,” kata
Rossa sambil membolak-balik majalan kue dan masakan di meja makannya.
“Yah… Itu modal pertama, “Ren juga ikut
membolak balik majalahnya.
“Aku mau punya satu toko kue… Mungkin
lebih baik toko cake dengan dekorasi kuning lemon dan dinding kaca transparan.
Ada bunga-bunga yang digantung diterasnya, lalu mejanya beralaskan taplak motif
kotak-kotak dan terletak di jalan utama. Kertas dindingnya harus yang kualitas
bagus, lampunya juga harus didesain unik,” Rossa terus bercerita tentang konsep
toko kuenya nanti.
Konsep impiannya.
Ah! Rasanya memang benar. Banyak orang
yang tidak berani bermimpi hanya karena mereka tahu realitanya seperti apa. Tapi
Rossa termotivasi oleh dua orang dihidupnya, Andrea dan Helsy.
Ren tahu kalau dulu saat Andrea diseret
pulang oleh keluarganya, Rossa mengancam akan membunuhnya kalau Andrea masih
ingin tinggal di sini. Ancaman itu tidak main-main tentunya.
Rossa melepaskannya, melepaskan satu
orang anak lelaki yang jelas memiliki jalan yang berbeda dengannya untuk pergi
ke dunia yang lebih baik. Dan Andrea pergi karena dia tahu kalau Rossa tidak
bisa diuji kesabarannya. Jika dia marah, maka amukannya bisa merusak apapun!
Tapi kesabarannya luar biasa!
Helsy membuktikannya kalau dia bisa
meraih mimpinya dan mendorong Ginny dan Rossa untuk bergerak menuju mimpinya.
Uang tabungan Rossa sudah hampir bisa membeli satu buah oven besar dan kulkas.
Tapi dia masih kekurangan modal dan dia masih terikat kontrak selama beberapa
bulan ke depan.
Ia takkan menyerahkan uangnya yang
sebentar lagi bisa ia pakai untuk mewujudkan mimpinya dan ia juga takkan
menyia-nyiakan Ginny. Segera jika uangnya sudah cukup ia akan menebus kebebasan
bagi temannya itu. Ini masih rahasia sebenarnya tapi ia membocorkan rencana itu
pada Ren.
Ren membiarkannya membicarakan mimpinya
karena dia tahu jika ia membicarakannya maka ia akan bergerak selangkah
mendekati mimpinya itu. Tapi sekarang Ren sendiri tidak tahu apa mimpinya.
Ginny dan Rossa bergerak, berusaha
mencapai kebebasan mereka dari kontrak itu.
Sedangkan Ren, di sini, tidak tahu
keinginannya sendiri.

0 comments: