She #2 - Rain

11:35 AM fe 0 Comments



Semester VI di Bangku Kuliah
Ren sudah membaca pengumuman itu.

DIBUTUHKAN SEORANG MAHASISWA UNTUK   MENJADI ASISTEN DOSEN DALAM PENELITIAN.
HARAP ANTAR LAMARANNYA KE JURUSAN.
  
Ren tahu kalau dirinya butuh uang agar bisa pulang jadi ia segera mengurus segala macam lamaran untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu di hari bebas kuliahnya ini. Dan setelah semuanya beres, ia iseng-iseng masuk ke kelas mata kuliah pilihan yang diambil Sherly, teman satu kosannya.
Ren masuk ke dalam kelasnya yang sudah dipenuhi teman-temannya. Sambil membetulkan letak ranselnya yang disandang di sebelah bahunya, ia melihat jam tangannya. Pukul delapan pagi. Ia merasa sangat ngantuk dan tidak bersemangat. Sambil masuk ke kelas, ia langsung menuju ke kursi yang kosong dan duduk.
“Jadi? Apa yang kita lakukan di semester baru ini?” tanya Sherly bosan.

“Ini baru awal semester. Jangan bosan begitu, lah,” kata Ren sambil tersenyum. “Siapa saja, sih, dosennya?”
“Ada si bule Mr.Jason,” Neno tertawa dan memutar kursinya. “Jadi hari ini kita akan belajar dengan bapak ganteng lagi. Tapi lu kan nggak ambil kelas ini. Kenapa masuk?” tanyanya pada Ren.
“Lah! Lu juga masuk, kan?” kata Ren.
“Mau ambil kursi, sih, hehehe…”
“Sama,” Ren menertawakan alibi yang mereka buat. “Jadi kita ini jadi hantu saja, ya. Kan lumayan buat tambah referensi.”
“Yang benar itu tambah ilmu,” kata Sherly. “Jadi sekarang sebenarnya kalian masuk karena benar-benar mau ambil kursi atau mau lihat bapak ganteng itu?”
Ren tertawa menanggapi pernyataan itu seperti biasa. “Pikir sendiri.”
Kalau dipikir-pikir itu hanya dalih saja. Ia memang kagum dengan Mr.Jason yang sangat tampan, idola para mahasiswi kalau mau bilang begitu. Hanya saja kekagumannya itu tanpa rasa saja. Ia merasa biasa-biasa saja dengan dosennya yang satu itu, dosen yang membuatnya terperangah saat semester dua kemarin karena bahasa Indonesianya selancara orang Indonesia asli.  
Dari desas-desus tentang kehidupan pribadi orang itu, statusnya masih diragukan. Ada yang bilang kalau dia sudah menikah. Tapi ada juga yang bilang kalau dia belum menikah walau umur aslinya tidak diketahui. Ia akui kalau pria itu adalah pahlawan kebajikan. Ia tidak merokok, tidak suka melontarkan kata-kata kasar, tidak suka marah-marah, dan sepertinya sangat bersih.
Sambil duduk santai di kursinya, akhirnya kuliah hari itu dimulai juga.
Tanpa rasa.
Ia hanya fokus pada kuliah yang diberikan Mr.Jason hari ini. Sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk mengagumi pria itu.
“Kalau kita melihat ini,” ia melihat ke layar yang diterpa proyektor, “Kita akan tahu kalau labeling, dan generalisasi itu contohnya mirip. Tapi tidak. Coba perhatikan lagi. Generalisasi adalah pikiran yang menyamakan semua orang tanpa terkecuali. Contohnya, lelaki itu semuanya brengsek atau semua perempuan memang bawel,” ia menatap mahasiswanya sekarang. “Nah, kamu yang di sana. Coba cari satu contoh lain,” ia menatap Ren sekarang.
Otomatis punggung Ren jadi tegak dan ia mengubah posisi duduknya yang santai menjadi siap. “Mmm…,” Ren berpikir. “Biaya ke luar negeri itu… mahal?” ia ragu-ragu menjawab.
“Oke… Coba contoh lain lagi,” pintanya sambil menatap Ren.
Ren berpikir keras dan bertanya-tanya dalam hati apa orang ini tahu kalau ia tidak mengambil kelas pilihan ini? Ia menggigit bibirnya sambil berpikir lagi. “Semua bangsawan wanita suka selingkuh,” katanya berani.
Semua orang terkejut dan langsung berbisik di belakangnya.
“Apa alasan kamu mengatakannya?” tanya Mr.Jason padanya dengan pandangan bertanya.
Ren mengabaikan bisik-bisik itu dan berkata, “Yah, itu hanya pemikiran pria-pria bangsawan Inggris jaman dulu.”
Merasa tertarik dengan jawaban yang diberikan gadis itu, Jason mengubah posisi berdirinya menjadi lebih tegak lagi. Ia merasa sensitif mendengar kata Inggris yang juga merupakan kampung halaman ayahnya sendiri.
“Coba teruskan,” kata Jason lagi.
Gadis itu tersenyum dan berkata, “Dari yang kubaca, para wanita bangsawan Inggris yang sudah menikah lebih memilih untuk berselingkuh dengan pria lain karena tidak puas dengan suaminya. Bagi para pria bangsawan yang tidak suka mengikat diri dalam pernikahan dan banyak didatangi wanita bangsawan untuk melakukan… mmm… itu…,” ia terlihat agak malu sekarang, “maka pria-pria itu berpikir kalau wanita-wanita itu adalah wabah dan tidak setia.”
Jason mengangkat sedikit dagunya dan bertanya, “Benarkah?”
“Bagi pria yang bisa disebut… mmm… bajingan dan merasa sangat menarik, maka mereka biasanya memutuskan untuk tidak menikah karena mereka tahu kalau wanita-wanita itu suka berselingkuh di belakang suaminya.”
“Bagaimana kau bisa menyelami pikiran seorang pria?” tanyanya penasaran.
Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sebenarnya… saya banyak membaca buku yang bertema historical romance. Rata-rata penulisnya adalah orang Inggris dan banyak konflik yang bagus di dalamnya. Bukan itu saja, mereka juga menyelipkan beberapa kebiasaan Inggris zaman dulu seperti bagaimana pergaulan sosialnya, tingkatan nama yang diberikan pada bangsawan seperti Earl… atau Lord, lalu usia-usia matang wanita untuk mulai diperkenalkan ke masyarakat dan masalah perkawinan hingga skandal.”
Semua orang diam mendengar jawaban itu.
Mr.Jason mengangkat satu sudut bibirnya dan menyunggingkan senyum menawan. Ren bisa mendengar ada suara sentakan napas tertahan saat itu terjadi. Tidakkah pria itu menyadari kalau senyumnya itu sangat… menawan? Ren hanya diam karena mata mereka masih bertaut.
“Jadi kau mempelajari itu dari buku?” tanya pria itu padanya.
“Novel lebih tepatnya.”
“Hmm… Contoh yang menarik. Siapa namamu?”
“Ren… Maksudku Serena,” ralatnya buru-buru.
“Serena…,” ia menggumamkan nama itu sambil melihat daftar absen yang ada di mejanya.
“Namaku tidak ada di sana,” Ren berkata buru-buru.
“Tidak ada?” ia menatap Ren lagi.
Dengan malu Ren terpaksa mengaku. “Saya tidak mengambil mata kuliah ini,” katanya pelan.
Mr.Jason diam mendengar pengakuan itu. “Tidak masalah,” katanya ringan pada gadis tomboy itu.
Kemudian ia meletakkan daftar absen itu lagi dan mulai menerangkan pelajaran lagi.

You Might Also Like

0 comments: