She #2 - Rain
Semester VI di
Bangku Kuliah
Ren sudah membaca pengumuman itu.
DIBUTUHKAN SEORANG MAHASISWA
UNTUK MENJADI ASISTEN DOSEN DALAM
PENELITIAN.
HARAP ANTAR LAMARANNYA KE JURUSAN.
Ren tahu kalau dirinya butuh uang agar bisa pulang jadi ia
segera mengurus segala macam lamaran untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu di
hari bebas kuliahnya ini. Dan setelah semuanya beres, ia iseng-iseng masuk ke
kelas mata kuliah pilihan yang diambil Sherly, teman satu kosannya.
Ren masuk ke dalam kelasnya yang sudah dipenuhi
teman-temannya. Sambil membetulkan letak ranselnya yang disandang di sebelah
bahunya, ia melihat jam tangannya. Pukul delapan pagi. Ia merasa sangat ngantuk
dan tidak bersemangat. Sambil masuk ke kelas, ia langsung menuju ke kursi yang
kosong dan duduk.
“Jadi? Apa yang kita lakukan di semester baru ini?” tanya
Sherly bosan.
“Ini baru awal semester. Jangan bosan begitu, lah,” kata Ren
sambil tersenyum. “Siapa saja, sih, dosennya?”
“Ada
si bule Mr.Jason,” Neno tertawa dan memutar kursinya. “Jadi hari ini kita akan
belajar dengan bapak ganteng lagi. Tapi lu kan nggak ambil kelas ini. Kenapa masuk?”
tanyanya pada Ren.
“Lah! Lu juga masuk, kan?”
kata Ren.
“Mau ambil kursi, sih, hehehe…”
“Sama,” Ren menertawakan alibi yang mereka buat. “Jadi kita
ini jadi hantu saja, ya. Kan
lumayan buat tambah referensi.”
“Yang benar itu tambah ilmu,” kata Sherly. “Jadi sekarang
sebenarnya kalian masuk karena benar-benar mau ambil kursi atau mau lihat bapak
ganteng itu?”
Ren tertawa menanggapi pernyataan itu seperti biasa. “Pikir
sendiri.”
Kalau dipikir-pikir itu hanya dalih saja. Ia memang kagum
dengan Mr.Jason yang sangat tampan, idola para mahasiswi kalau mau bilang
begitu. Hanya saja kekagumannya itu tanpa rasa saja. Ia merasa biasa-biasa saja
dengan dosennya yang satu itu, dosen yang membuatnya terperangah saat semester
dua kemarin karena bahasa Indonesianya selancara orang Indonesia asli.
Dari desas-desus tentang kehidupan pribadi orang itu,
statusnya masih diragukan. Ada
yang bilang kalau dia sudah menikah. Tapi ada juga yang bilang kalau dia belum
menikah walau umur aslinya tidak diketahui. Ia akui kalau pria itu adalah
pahlawan kebajikan. Ia tidak merokok, tidak suka melontarkan kata-kata kasar,
tidak suka marah-marah, dan sepertinya sangat bersih.
Sambil duduk santai di kursinya, akhirnya kuliah hari itu
dimulai juga.
Tanpa rasa.
Ia hanya fokus pada kuliah yang diberikan Mr.Jason hari ini.
Sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk mengagumi pria itu.
“Kalau kita melihat ini,” ia melihat ke layar yang diterpa
proyektor, “Kita akan tahu kalau labeling, dan generalisasi itu contohnya
mirip. Tapi tidak. Coba perhatikan lagi. Generalisasi adalah pikiran yang
menyamakan semua orang tanpa terkecuali. Contohnya, lelaki itu semuanya
brengsek atau semua perempuan memang bawel,” ia menatap mahasiswanya sekarang.
“Nah, kamu yang di sana.
Coba cari satu contoh lain,” ia menatap Ren sekarang.
Otomatis punggung Ren jadi tegak dan ia mengubah posisi
duduknya yang santai menjadi siap. “Mmm…,” Ren berpikir. “Biaya ke luar negeri
itu… mahal?” ia ragu-ragu menjawab.
“Oke… Coba contoh lain lagi,” pintanya sambil menatap Ren.
Ren berpikir keras dan bertanya-tanya dalam hati apa orang
ini tahu kalau ia tidak mengambil kelas pilihan ini? Ia menggigit bibirnya
sambil berpikir lagi. “Semua bangsawan wanita suka selingkuh,” katanya berani.
Semua orang terkejut dan langsung berbisik di belakangnya.
“Apa alasan kamu mengatakannya?” tanya Mr.Jason padanya
dengan pandangan bertanya.
Ren mengabaikan bisik-bisik itu dan berkata, “Yah, itu hanya
pemikiran pria-pria bangsawan Inggris jaman dulu.”
Merasa tertarik dengan jawaban yang diberikan gadis itu,
Jason mengubah posisi berdirinya menjadi lebih tegak lagi. Ia merasa sensitif
mendengar kata Inggris yang juga merupakan kampung halaman ayahnya sendiri.
“Coba teruskan,” kata Jason lagi.
Gadis itu tersenyum dan berkata, “Dari yang kubaca, para
wanita bangsawan Inggris yang sudah menikah lebih memilih untuk berselingkuh
dengan pria lain karena tidak puas dengan suaminya. Bagi para pria bangsawan
yang tidak suka mengikat diri dalam pernikahan dan banyak didatangi wanita
bangsawan untuk melakukan… mmm… itu…,” ia terlihat agak malu sekarang, “maka
pria-pria itu berpikir kalau wanita-wanita itu adalah wabah dan tidak setia.”
Jason mengangkat sedikit dagunya dan bertanya, “Benarkah?”
“Bagi pria yang bisa disebut… mmm… bajingan dan merasa
sangat menarik, maka mereka biasanya memutuskan untuk tidak menikah karena
mereka tahu kalau wanita-wanita itu suka berselingkuh di belakang suaminya.”
“Bagaimana kau bisa menyelami pikiran seorang pria?”
tanyanya penasaran.
Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sebenarnya…
saya banyak membaca buku yang bertema historical
romance. Rata-rata penulisnya adalah orang Inggris dan banyak konflik yang
bagus di dalamnya. Bukan itu saja, mereka juga menyelipkan beberapa kebiasaan
Inggris zaman dulu seperti bagaimana pergaulan sosialnya, tingkatan nama yang
diberikan pada bangsawan seperti Earl… atau Lord, lalu usia-usia matang wanita
untuk mulai diperkenalkan ke masyarakat dan masalah perkawinan hingga skandal.”
Semua orang diam mendengar jawaban itu.
Mr.Jason mengangkat satu sudut bibirnya dan menyunggingkan
senyum menawan. Ren bisa mendengar ada suara sentakan napas tertahan saat itu
terjadi. Tidakkah pria itu menyadari kalau senyumnya itu sangat… menawan? Ren
hanya diam karena mata mereka masih bertaut.
“Jadi kau mempelajari itu dari buku?” tanya pria itu
padanya.
“Novel lebih tepatnya.”
“Hmm… Contoh yang menarik. Siapa namamu?”
“Ren… Maksudku Serena,” ralatnya buru-buru.
“Serena…,” ia menggumamkan nama itu sambil melihat daftar
absen yang ada di mejanya.
“Namaku tidak ada di sana,” Ren berkata buru-buru.
“Tidak ada?” ia menatap Ren lagi.
Dengan malu Ren terpaksa mengaku. “Saya tidak mengambil mata
kuliah ini,” katanya pelan.
Mr.Jason diam mendengar pengakuan itu. “Tidak masalah,” katanya
ringan pada gadis tomboy itu.
Kemudian ia meletakkan daftar absen itu lagi dan mulai
menerangkan pelajaran lagi.

0 comments: