She #27 - Rain

12:21 PM fe 0 Comments



Ren terjaga sendirian di kamarnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia masih bisa mendengar suara Andrea menggema disekitarnya saat mengatakan tiga kata itu semalam. Ia masih dalam euforianya dan ia sangat menikmatinya.
Ia juga sudah siap menambah banyak data baru dalam laporannya. Dan ia sangat bersemangat. Saat ia kembali ke meja bar nya semalam, Mint berkomentar aneh.
“Wah! Akhirnya kamu berubah juga.”

Ren tidak mengacuhkannya. Ia terlalu bersemangat sehingga cepat menyelesaikan tugasnya. Ia sudah bisa mengatasi para pelanggan nakal dan sudah bisa membuat mereka nyaman dengan caranya sendiri. Menemukan topik dan bicara, itu triknya. Anehnya, walau itu sama sekali tidak punya nilai jual di mata Ferry, ia tidak melarang Ren melakukannya.
Tamunya yang kebanyakan memang pria-pria hidung belang ternyata sama dengan pria-pria lainnya. Mereka suka bicara, dan jika ia memancing topik yang tepat maka mereka bisa duduk berdiskusi berjam-jam. Ren bahkan dapat tip atas jasanya itu.
Ren masih termakan euforianya sampai seseorang mengetuk pintunya dan Ginny muncul di pintu kamarnya.
“Ren, aku mau pergi sebentar,” katanya pada Ren.
“Oh? Mau kemana?”
“Warnet. Aku mau cek email, siapa tahu Helsy ngirim email. Sudah lama dia nggak ngirim kabar. Aku kuatir.”
Helsy, sang pemilik kamar, pasti bukan orang yang biasa membuat orang lain cemas, kan? Hanya saja Ginny dan Rossa selalu kuatir karena gadis itu tidak memberi kabar apapun setelah lama di Jepang.
“Pakai punyaku saja. Aku ada modem,” tawar Ren langsung.
“Eh?”
“Iya. Tunggu sebentar,” Ren mengeluarkan laptopnya dan modemnya.
“Apa nggak apa-apa?” tanya Ginny tidak enak.
“Santai saja. Lagi pula di sini sinyalnya bagus, jadi sambungannya juga cepat. Dari pada repot-repot ke warnet, mending di sini saja. Akan kutunjukkan gimana cara pakainya jadi kalau mau internetan bisa langsung pakai saja,” kata Ren sambil menghidupkan laptopnya.


Ginny sedang mencari kabar dari beberapa orang kenalannya saat ia tahu kalau Helsy belum membalas emailnya sampai sekarang. Ia terlihat sangat cemas.
“Aku takut kalau dia mulai lupa denganku,” katanya sambil tertawa miris. “Tapi kalau dia lupa… ya sudah.”
Ren mendengar keluhannya. Ginny sangat menyayangi Helsy sejak gadis itu kecil. Mereka seperti saudara dan saling melindungi walau aslinya mereka bukan saudara kandung.
Ren menatap tulisan dan foto-foto yang ditempel di dinding itu. “Kupikir orang yang meyakinkan orang lain untuk nggak takut bermimpi bukan orang yang seperti itu.”
Ginny menatap Ren. “Tapi orang bisa berubah, kan?”
Ren mengangkat bahunya, “Memang ada orang yang sombong jika dipuncak kesuksesan. Tapi selama aku mencari tadi, aku nggak menemukan satu artikelpun tentang Helsy,” Ren berpikir sejenak. “Kita nggak tahu apa yang terjadi dengannya di sana. Di sini kita hanya bisa berharap.”
Ginny masih menunjukkan wajah cemasnya.
“Aku jamin, Helsy bukan orang seperti itu,” ia menunjuk kearah tempelan-tempelan itu. “Dia tahu apa impiannya dan ia mendorongmu untuk mencapai impianmu juga.”
Kali ini Ginny tersenyum, “Apa Andrea mengajarimu itu?”
Ren tertawa, “Nggak. Kurasa ini karena firasat atau kemampuan atau apapun itu.”
“Sama seperti kamu menilai bolu Rossa?”
“Katakan saja kalau itu bakat. Aku penggemar bolu dan aku tahu mana bolu yang enak dan yang nggak,” kata Ren. “Aku senang karena ada Helsy yang mengingatkan kalau semua orang boleh bermimpi.”
Ginny tertawa, “Dia itu seperti Andrea.”
“Oh ya?”
“Ya. Keras kepalanya sangat mirip Andrea.”
“Aku nggak tahu.”
Ginny mengenang sesuatu sekarang. “Andrea yang kukenal dulu saat anak-anak adalah seorang petarung. Dia senang tinju, suka tawuran, penggemar film action, dan suka marah,” ia mulai bercerita.
“Yang aku tahu dia itu sabar, murah senyum, berpikiran terbuka, santai, dan pemaksa,” dan Ren tertawa, “Itu yang sering dia tunjukkan. Tapi saat aku di sini semua kesan itu lenyap. Dia mengerikan, pembaca pikiran, dingin, dan suka marah-marah sendiri.”
Ginny juga ikut tertawa, “Selamat datang di kutub utara yang beku, Ren. Kategori-kategori seram itu memang karakter aslinya. Dia memang begitu awalnya tapi lama-lama dia terlihat sangat menyenangkan, ramah dan hangat. Semua itu sebenarnya tergantung dari tantangannya. Dia sangat suka tantangan.”
“Kamu kenal baik dia, ya?”
“Oh tentu. Aku, Andrea, Rossa, dan Ferry pernah tinggal bersama selama hampir sepuluh tahun sebelum dia akhirnya bertemu dengan keluarganya yang mengangkat derajatnya.”
“Apa?” Ren takut salah dengar.
“Dia itu anak hilang dulunya. Umur enam tahun dia tersasar di sini, nggak tahu jalan pulang. Ferry yang menemukannya langsung memberi nama anak bule itu sesukanya. Ia beri nama Jason walau anak itu mengaku bernama Andrea. Dia dididik keras di sini oleh pengasuh kami saat itu, Opank.”
“Ha? Itu nama orang?” Ren tidak percaya.
“Yah, begitu kami memanggilnya dulu,” kenang Ginny. “Pada usia segitu aku dan Rossa sudah mengurus banyak hal seperti mencuci, memasak, itu hanya karena kami berdua yang perempuan. Sedangkan yang laki-laki diajari cara mengamen, mencuri,  menyilet, berlari cepat, dan segala hal yang benar-benar menyebalkan. Aku dan Rossa menekuni profesi sekarang karena hanya ini yang bisa kami lakukan untuk bisa mengumpulkan uang agar bisa keluar dari sini. Sayangnya kami keliru. Kami terikat kontrak. Tapi nasib Andrea lebih baik. Ia kembali ditemukan oleh keluarganya, disekolahkan, dan tentu saja menjalani kehidupan yang lebih baik.”
Ren menyimak cerita itu dengan baik.
“Karena itu kami bisa berteman baik sampai sekarang,” sambungnya akhirnya.
Ren mengangguk-angguk. “Lalu Aya?”
Ginny tertawa, “Cinta monyet itu ya?”
Ren mengerutkan keningnya tanda bingung. “Kenapa?”
“Ah! Tanya saja padanya.”

You Might Also Like

0 comments: