She #27 - Rain
Ren terjaga sendirian di kamarnya dan
menatap langit-langit kamarnya. Ia masih bisa mendengar suara Andrea menggema
disekitarnya saat mengatakan tiga kata itu semalam. Ia masih dalam euforianya
dan ia sangat menikmatinya.
Ia juga sudah siap menambah banyak data
baru dalam laporannya. Dan ia sangat bersemangat. Saat ia kembali ke meja bar
nya semalam, Mint berkomentar aneh.
“Wah! Akhirnya kamu berubah juga.”
Ren tidak mengacuhkannya. Ia terlalu
bersemangat sehingga cepat menyelesaikan tugasnya. Ia sudah bisa mengatasi para
pelanggan nakal dan sudah bisa membuat mereka nyaman dengan caranya sendiri. Menemukan
topik dan bicara, itu triknya. Anehnya, walau itu sama sekali tidak punya nilai
jual di mata Ferry, ia tidak melarang Ren melakukannya.
Tamunya yang kebanyakan memang pria-pria
hidung belang ternyata sama dengan pria-pria lainnya. Mereka suka bicara, dan
jika ia memancing topik yang tepat maka mereka bisa duduk berdiskusi
berjam-jam. Ren bahkan dapat tip atas jasanya itu.
Ren masih termakan euforianya sampai
seseorang mengetuk pintunya dan Ginny muncul di pintu kamarnya.
“Ren, aku mau pergi sebentar,” katanya
pada Ren.
“Oh? Mau kemana?”
“Warnet. Aku mau cek email, siapa tahu
Helsy ngirim email. Sudah lama dia nggak ngirim kabar. Aku kuatir.”
Helsy, sang pemilik kamar, pasti bukan
orang yang biasa membuat orang lain cemas, kan? Hanya saja Ginny dan Rossa selalu
kuatir karena gadis itu tidak memberi kabar apapun setelah lama di Jepang.
“Pakai punyaku saja. Aku ada modem,”
tawar Ren langsung.
“Eh?”
“Iya. Tunggu sebentar,” Ren mengeluarkan
laptopnya dan modemnya.
“Apa nggak apa-apa?” tanya Ginny tidak
enak.
“Santai saja. Lagi pula di sini
sinyalnya bagus, jadi sambungannya juga cepat. Dari pada repot-repot ke warnet,
mending di sini saja. Akan kutunjukkan gimana cara pakainya jadi kalau mau
internetan bisa langsung pakai saja,” kata Ren sambil menghidupkan laptopnya.
Ginny sedang mencari kabar dari beberapa
orang kenalannya saat ia tahu kalau Helsy belum membalas emailnya sampai
sekarang. Ia terlihat sangat cemas.
“Aku takut kalau dia mulai lupa
denganku,” katanya sambil tertawa miris. “Tapi kalau dia lupa… ya sudah.”
Ren mendengar keluhannya. Ginny sangat
menyayangi Helsy sejak gadis itu kecil. Mereka seperti saudara dan saling
melindungi walau aslinya mereka bukan saudara kandung.
Ren menatap tulisan dan foto-foto yang
ditempel di dinding itu. “Kupikir orang yang meyakinkan orang lain untuk nggak
takut bermimpi bukan orang yang seperti itu.”
Ginny menatap Ren. “Tapi orang bisa
berubah, kan?”
Ren mengangkat bahunya, “Memang ada
orang yang sombong jika dipuncak kesuksesan. Tapi selama aku mencari tadi, aku
nggak menemukan satu artikelpun tentang Helsy,” Ren berpikir sejenak. “Kita
nggak tahu apa yang terjadi dengannya di sana. Di sini kita hanya bisa
berharap.”
Ginny masih menunjukkan wajah cemasnya.
“Aku jamin, Helsy bukan orang seperti
itu,” ia menunjuk kearah tempelan-tempelan itu. “Dia tahu apa impiannya dan ia
mendorongmu untuk mencapai impianmu juga.”
Kali ini Ginny tersenyum, “Apa Andrea mengajarimu
itu?”
Ren tertawa, “Nggak. Kurasa ini karena
firasat atau kemampuan atau apapun itu.”
“Sama seperti kamu menilai bolu Rossa?”
“Katakan saja kalau itu bakat. Aku
penggemar bolu dan aku tahu mana bolu yang enak dan yang nggak,” kata Ren. “Aku
senang karena ada Helsy yang mengingatkan kalau semua orang boleh bermimpi.”
Ginny tertawa, “Dia itu seperti Andrea.”
“Oh ya?”
“Ya. Keras kepalanya sangat mirip Andrea.”
“Aku nggak tahu.”
Ginny mengenang sesuatu sekarang. “Andrea
yang kukenal dulu saat anak-anak adalah seorang petarung. Dia senang tinju,
suka tawuran, penggemar film action, dan suka marah,” ia mulai bercerita.
“Yang aku tahu dia itu sabar, murah
senyum, berpikiran terbuka, santai, dan pemaksa,” dan Ren tertawa, “Itu yang
sering dia tunjukkan. Tapi saat aku di sini semua kesan itu lenyap. Dia
mengerikan, pembaca pikiran, dingin, dan suka marah-marah sendiri.”
Ginny juga ikut tertawa, “Selamat datang
di kutub utara yang beku, Ren. Kategori-kategori seram itu memang karakter
aslinya. Dia memang begitu awalnya tapi lama-lama dia terlihat sangat
menyenangkan, ramah dan hangat. Semua itu sebenarnya tergantung dari
tantangannya. Dia sangat suka tantangan.”
“Kamu kenal baik dia, ya?”
“Oh tentu. Aku, Andrea, Rossa, dan Ferry
pernah tinggal bersama selama hampir sepuluh tahun sebelum dia akhirnya bertemu
dengan keluarganya yang mengangkat derajatnya.”
“Apa?” Ren takut salah dengar.
“Dia itu anak hilang dulunya. Umur enam
tahun dia tersasar di sini, nggak tahu jalan pulang. Ferry yang menemukannya
langsung memberi nama anak bule itu sesukanya. Ia beri nama Jason walau anak
itu mengaku bernama Andrea. Dia dididik keras di sini oleh pengasuh kami saat
itu, Opank.”
“Ha? Itu nama orang?” Ren tidak percaya.
“Yah, begitu kami memanggilnya dulu,”
kenang Ginny. “Pada usia segitu aku dan Rossa sudah mengurus banyak hal seperti
mencuci, memasak, itu hanya karena kami berdua yang perempuan. Sedangkan yang
laki-laki diajari cara mengamen, mencuri,
menyilet, berlari cepat, dan segala hal yang benar-benar menyebalkan. Aku
dan Rossa menekuni profesi sekarang karena hanya ini yang bisa kami lakukan
untuk bisa mengumpulkan uang agar bisa keluar dari sini. Sayangnya kami keliru.
Kami terikat kontrak. Tapi nasib Andrea lebih baik. Ia kembali ditemukan oleh
keluarganya, disekolahkan, dan tentu saja menjalani kehidupan yang lebih baik.”
Ren menyimak cerita itu dengan baik.
“Karena itu kami bisa berteman baik
sampai sekarang,” sambungnya akhirnya.
Ren mengangguk-angguk. “Lalu Aya?”
Ginny tertawa, “Cinta monyet itu ya?”
Ren mengerutkan keningnya tanda bingung.
“Kenapa?”
“Ah! Tanya saja padanya.”

0 comments: