She #26 - Rain
Andrea terkejut. Ia baru saja berlari
untuk mencari Ren demi mengingatkan sesuatu. Tapi ia kalah cepat karena gadis
itu, Aya, menemukan Ren lebih dulu dan mengajaknya ke tempat sepi favoritnya.
Andrea tidak butuh waktu lama untuk menemukannya karena Ginny baru saja melihat
Ren berjalan dengan Aya.
“Kenapa membiarkannya?” tanya Andrea
marah.
“Yah, aku juga sedang buru-buru dan
mereka terlalu jauh. Aku baru saja mau telepon kamu tapi kamu sudah di sini.”
Lalu ia tahu kemana Aya akan membawa
gadis itu pergi dan memang benar tebakannya. Aya terlalu mudah ditebak. Ia
ingin menghampiri tapi akhirnya mundur dan memilih bersembunyi. Ia mendengar
semua percakapan mereka dan cukup terkejut karena Ren memilih pergi.
Baginya masa lalu mereka sama sekali
tidak penting dan baginya itu bukan urusannya.
Andrea kagum dengan Ren yang bisa
menahan rasa penasarannya dan memilih memainkan logikanya dibandingkan apapun
lalu pergi. Tapi sedetik kemudian ia tersentak pada satu kenyataan yang
membuatnya terpana.
Serena yang berkata tidak peduli itu
justru menunjukkan sikap tubuh yang tegang dan rasa marah yang ditahan. Bukan
hanya itu, rasa kesal itu membuat Andrea bertanya-tanya apa yang wanita itu
pikirkan.
Apa dia berpikir kalau Aya menyebalkan
atau karena waktunya terbuang percuma? Atau ada sebab yang lain?
Hari ini Mint mendapati kalau Ren tidak
seramah biasanya. Hari ini rekannya itu memang ramah tapi tidak seramah biasa.
Ia menggosok gelasnya lebih lama, mengaturnya di rak sambil mengira-ngira
posisi yang tepat, dan bahkan mengelap mejanya lebih lama. Semua benda terlihat
lebih rapi, teratur, cemerlang, dan sangat menyegarkan. Bahkan ia juga lebih berani
dalam menegur tamunya.
“Hei! Jangan begitulah!” protes tamu Ren
yang menyalakan rokok di depan bar. Semua orang tahu kalau di sini ada ruangan
khusus merokok dan pria ini melanggarnya.
Ren mengambil rokok itu langsung dari
mulut si tamu bertampang sangar dan mematikan apinya di meja sambil tersenyum
ramah. “Yah… Tapi peraturan tetap peraturan. Aku nggak mau kamu ditendang
gara-gara merokok di sini,” kata Ren menjelaskan lalu menambahkan dengan nada
bisikan, “bos ku nggak akan suka dan Zulki bisa saja datang menyeretmu.”
Pria itu tertawa dan berkata, “Kamu pikir
aku takut, hah?”
Ren menghela napasnya dan mengabaikan
suara tawa tak enak itu. “Aku tahu kamu nggak takut. Tapi sayang sekali tempat
ini punya pemilik dan kamu nggak bisa macam-macam.”
“Hooo… Jadi kamu mencemaskanku, manis?”
godanya.
“Aku mencemaskan uangku,” kata Ren tidak
peduli. “Lagi pula di sini ada ruangan khusus merokok. Kenapa nggak ke sana
saja?”
“Bagaimana aku bisa ke sana kalau kamu
di sini?”
Ren tertawa, “Pintar. Kalau begitu kamu
nggak boleh merokok di sini. Bos ku itu menjaga kesehatan tamu dan pekerjanya.
Dia baik, kan?” memang itu kenyataannya. Tapi walau peraturan itu diterapkan
tempat ini tetap tidak pernah sepi.
Pria itu mengeluh dan memasukkan kotak
rokoknya kembali ke kantung jaketnya, “Nah? Puas?”
“Bagus,” pujinya puas.
Mint memperhatikan itu semua dan mulai
merasa kalau Ren sedang dalam kondisi yang tidak biasa. Ren kembali
kepekerjaannya dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Sambil membelakangi tamu
itu ia mencuci gelas-gelas yang kotor. Suasana hatinya sedang tidak bagus rupanya.
Musik menghentak kuat dan ia melihat
kalau Ren menahan nafsunya untuk berlari demi mematikan musik itu. Untung saja
bukan hanya dia yang memperhatikan itu. Andrea mendesak maju melalui kerumunan
orang-orang dan langsung berdiri di samping pria itu.
“Hei!” Andrea memanggil Ren.
Mendengar itu Ren langsung membalikkan
badannya tanpa senyum tanpa sambutan selamat datang hanya karena dia tahu kalau
yang memanggilnya itu Andrea.
Andrea bisa melihat sikap tubuh Ren yang
tegang walau wajahnya datar. Dia menunggu Ren melayaninya seperti tamu lainnya.
Akhirnya Ren menyerah dan mendekat.
“Ya?” tanya Ren dengan semburat nada
tidak suka.
Andrea diam sejenak seperti
mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya ia berkata, “Ikut aku.”
Ren tidak sempat protes karena Andrea langsung
pergi begitu saja. Ia meminta Mint untuk menggantikannya sebentar lalu pergi
mengikuti pria itu dengan wajah sebal.
Mereka kembali tiba di bangunan luar
belakang, tempat mereka bertengkar kemarin.
“Ada apa?” tanya Andrea.
Bagi Ren itu pertanyaan yang aneh karena
ia merasa kalau pertanyaan itu miliknya.
“Ada apa bagaimana?” tanya Ren.
“Seharusnya aku yang tanya begitu, kan?”
Andrea menghela napas. “Kamu nggak
seperti biasanya.”
“Oh ya?”
“Ada yang terjadi?”
Ren menggeleng dan Andrea tersenyum.
Pria itu mendekat padanya dan dengan lembut menyelipkan rambut Ren ke belakang
telinganya sambil berkata, “Kalau ada yang mengganggumu, bilang padaku.”
Ren mundur. Ia tidak suka mendengar
suara lembut Andrea yang membuatnya berdebar-debar dan perlakuan Andrea tadi
padanya. Ini begitu tiba-tiba!
“Nggak. Nggak ada,” katanya buru-buru.
“Aku mau balik.”
“Kamu ketemu dia, kan?” Andrea
menahannya. “Kamu ketemu Aya, kan?”
Ren terkejut. Pelan-pelan ia berbalik
untuk melihat Andrea lagi. “Kok tahu?” tanyanya pelan.
“Apa dia bilang sesuatu?”
Ren diam. Ia tidak menyangka akan
ditanyai masalah itu dan dari mana pria itu tahu?
“Ren?”
“Ya,” Ren langsung menjawab. “Kenapa?”
“Dia bilang apa?”
Ren menimbang-nimbang jawabannya, “Apa
itu penting?”
“Ya.”
Sial! Ren tidak tahu harus bicara apa
tapi sekarang mulutnya ingin bicara. Dari tadi ia menahannya sementara di dalam
dirinya ada desakan untuk menceritakan semuanya. Dari tadi ia menahan semua hal
yang tidak ia suka sementara hatinya memberontak untuk melakukannya. Jadi ia
memilih untuk bicara selagi ada yang mendengarkan. Tapi masalahnya orang itu,
pria bernama lengkap tak indah ini, adalah topik pembicaraannya.
Ren menderita.
Sungguh!
“Jadi?” desak Andrea.
“Kamu senang ya kalau kamu jadi pusat perhatian?”
tanya Ren curiga.
Andrea sebenarnya tahu apa pembicaraan
mereka. Hanya saja ia sangat ingin mendengar Ren menumpahkan semuanya padanya
dari pada ia bersikap menahan diri seperti tadi.
“Aku suka mendengar semua tentang
diriku,” jawab Andrea mantap. “Jadi?”
“Orang itu…” Ren menguatkan dirinya
untuk tidak mengatakan apapun yang ingin dia katakan, “Mantanmu, kan?”
Andrea diam sejenak sebelum mengangguk,
“Ya.”
Oh, bagus! Dia benar-benar berada di
dalam lingkaran kehidupan pria itu sekarang.
“Dia bilang kamu membencinya,” Ren masih
tenang. “Dan dia sangat merindukanmu,” kali ini ia seperti membongkar
pertahanan dirinya untuk tidak bicara lebih lanjut. “Dan dia seperti orang yang
menunggumu. Dia kelihatan menderita.”
Andrea menyimaknya baik-baik.
“Aku nggak habis pikir kenapa kamu bisa
sampai sebenci itu dengan orang itu,” Ren makin susah mengendalikan dirinya. “Kamu
mengerikan!”
“Memang,” sahut Andrea.
Ren menatapnya kaget.
“Memang begitu,” kata Andrea pelan.
“Jadi bagaimana?”
Kali ini Ren meledak. “Ya Tuhan! Yang
kamu lawan itu bukan pria-pria brengsek di dalam tapi seorang wanita!
Perempuan! Pacarmu dulu! Memangnya kamu nggak bisa maafin dia?”
“Aku sudah maafin dia tapi aku nggak mau
berhubungan lagi dengannya,” jawab Andrea ringan. “Cuma itu.”
“Yak! Cuma itu,” Ren mengangkat
tangannya sambil mengulang kalimat terakhir Andrea yang menyebalkan. “Dan
kenapa aku bisa berada di lingkaran kehidupanmu? Dia nemuin aku, berkenalan
denganku, mengajakku jalan, dan mulai melankolis menceritakan masa lalunya
denganmu. Memangnya aku peduli?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
Andrea membiarkannya.
“Aku bisa baca pikirannya. Dia pikir aku
penghalang!” kata Ren marah. “Penghalang?” kali ini ia tertawa tidak percaya.
“Ya ampun! Bahkan aku tahu kalau aku nggak cocok dengan masalah ini!”
Andrea mengerutkan keningnya, mencoba
mencerna kata-katanya.
“Orang itu menyebalkan! Sangat
menyebalkan! Itu yang mau kamu dengar?” tanya Ren padanya. “Dia mengakui semua
perasaannya pada orang yang baru dikenalnya. Memangnya itu penting, apa? Nggak
penting!”
“Dan kamu marah-marah? Kupikir kamu
nggak peduli dengan masalah itu,” Andrea mengingatkannya.
Ren kaget. Seharusnya dia memang
melupakan masalah itu tapi dia tidak bisa melupakannya. Masih ada hal
mengganjal dihatinya dan dia tidak tahu itu apa.
Ia bisa maklum sekarang kalau Freud
tidak bisa menjabarkan pikiran wanita dengan lebih baik. Itu semua karena wanita
tidak tahu apa keinginan pasti mereka. Dan Ren merasakannya.
Pikiran logisnya berkata kalau semuanya
sudah cukup dan sudah berlalu. Tapi hatinya resah minta ampun dan itu yang
membuatnya uring-uringan. Apa yang dia mau? Dia sendiri tidak tahu.
“Iya! Aku nggak mau peduli!” Ren masih
bertahan, mencoba untuk bertahan sebagai dirinya sendiri.
Tapi Andrea tahu kalau kali ini Ren
terlalu memaksakan diri.
“Apa yang mau kamu dengar?” tanya Andrea
memastikan.
Sangat sulit melawan seorang pria S2
yang suka menangani masalah mikro dan inilah yang dihadapi Ren. Dia lupa siapa Andrea!
“Apa yang ingin ku dengar?” ia balik
bertanya. “Oh! Aku nggak tahu.”
Andrea menatap dalam-dalam matanya. Ren
menghindari tatapan itu dengan menatap kearah lain.
“Mau kutebak?” tanya Andrea menawarkan
keahliannya.
“Memangnya bisa?” tantang Ren yang masih
menatap ke arah lain.
“Bisa. Aku ahlinya,” pria itu terdengar
percaya diri sekarang.
“Oke. Apa itu?”
“Tatap dulu mataku,” perintahnya.
Ren mengerutkan dahinya dan masih memaku
tatapannya kearah lain. “Memangnya harus?”
“Kalau begitu gimana cara aku dapat
jawabannya?” tanyanya.
Kesal dengan ini semua, Ren langsung
menatap matanya, “Oke,” ia langsung menerima tantangan itu.
Andrea menatap dalam-dalam mata gadis
itu yang keras menatapnya. Jelas sekali kalau gadis itu tidak merasa takut
karena rasa jengkel dan marah yang sedang menguasainya. Bahkan tatapan itu bisa
membuatnya tahu jawabannya. Semakin dalam ia menatap, semakin ia tahu apa yang
ingin di dengar gadis itu.
Ia mendekat, memastikan jawabannya dan
akhirnya dengan serius berkata, “Aku nggak mencintainya.”
Dan tatapan mata itu berubah drastis.
Rasa terkejut terlihat di sana lalu tatapan itu melembut dan Andrea masih
menatapnya dengan sungguh-sungguh.
Ia tahu kalau itu jawaban yang tepat.
Ren tidak menyangka kalau perasaan marah
dan bingungnya menguap drastis dan digantikan dengan satu kata.
Lega.
Hanya satu kata itu saja yang bisa menggambarkan
suasana hatinya. Ia merasa rasa lega itu menggulung-gulung hatinya dan membuat
semuanya menjadi lebih jernih kembali.
Ia juga baru sadar kalau jawaban itu
bisa memuaskannya sampai tuntas. Hanya saja ia tidak tahu mengapa? Mengapa
harus jawaban itu yang membuatnya bisa sebahagia ini? Mengapa Andrea tahu kalau
itu jawabannya sedangkan dia sendiri tidak tahu apa sampai pria itu
mengatakannya?
Dada Ren sesak dengan rasa bahagianya
sendiri dan jantungnya berdegup kencang. Bibirnya sangat ingin tersenyum dan
tubuhnya seakan dialiri semangat yang meluap-luap.
Tapi ia menahannya mati-matian sambil
berusaha mundur teratur dari kedekatan mereka dan bergumam, “Aku harus balik,”
dan ia segera masuk.
Andrea mengembuskan napas lega sekaligus
senang. Ia tersenyum sendiri sekarang merasakan euforia yang tak terduga di
dirinya. Hanya dengan mengatakan itu saja ia merasa bebannya terangkat.
Ia jujur mengatakannya.
Baginya Aya hanyalah masa lalu terkelam
yang harus dibuang jauh-jauh.
Ren tahu kalau Andrea jujur, benar-benar
jujur dari dalam hati. Ia tidak kembali ke meja bar tapi langsung menuju ke
ruang ganti, menutup pintu, bersandar di sana, dan tersenyum lebar.
Ia meloncat, mengekspresikan kegembiraan dan
kelegaan hatinya sendiri. Ia tersenyum lima menit penuh. Suasana hatinya
benar-benar baik sekarang. Ia tidak peduli dengan anehnya jawaban yang
diberikan Andrea padanya. Yang ia tahu hatinya benar-benar lega sekarang.
Biar besok logika mengambil alih
semuanya.
Ia ingin menikmati hari ini, hari di mana
kenyataan aneh berputar disekitarnya.

0 comments: