She #26 - Rain

12:18 PM fe 0 Comments



Andrea terkejut. Ia baru saja berlari untuk mencari Ren demi mengingatkan sesuatu. Tapi ia kalah cepat karena gadis itu, Aya, menemukan Ren lebih dulu dan mengajaknya ke tempat sepi favoritnya. Andrea tidak butuh waktu lama untuk menemukannya karena Ginny baru saja melihat Ren berjalan dengan Aya.
“Kenapa membiarkannya?” tanya Andrea marah.
“Yah, aku juga sedang buru-buru dan mereka terlalu jauh. Aku baru saja mau telepon kamu tapi kamu sudah di sini.”
Lalu ia tahu kemana Aya akan membawa gadis itu pergi dan memang benar tebakannya. Aya terlalu mudah ditebak. Ia ingin menghampiri tapi akhirnya mundur dan memilih bersembunyi. Ia mendengar semua percakapan mereka dan cukup terkejut karena Ren memilih pergi.

Baginya masa lalu mereka sama sekali tidak penting dan baginya itu bukan urusannya.
Andrea kagum dengan Ren yang bisa menahan rasa penasarannya dan memilih memainkan logikanya dibandingkan apapun lalu pergi. Tapi sedetik kemudian ia tersentak pada satu kenyataan yang membuatnya terpana.
Serena yang berkata tidak peduli itu justru menunjukkan sikap tubuh yang tegang dan rasa marah yang ditahan. Bukan hanya itu, rasa kesal itu membuat Andrea bertanya-tanya apa yang wanita itu pikirkan.
Apa dia berpikir kalau Aya menyebalkan atau karena waktunya terbuang percuma? Atau ada sebab yang lain?


Hari ini Mint mendapati kalau Ren tidak seramah biasanya. Hari ini rekannya itu memang ramah tapi tidak seramah biasa. Ia menggosok gelasnya lebih lama, mengaturnya di rak sambil mengira-ngira posisi yang tepat, dan bahkan mengelap mejanya lebih lama. Semua benda terlihat lebih rapi, teratur, cemerlang, dan sangat menyegarkan. Bahkan ia juga lebih berani dalam menegur tamunya.
“Hei! Jangan begitulah!” protes tamu Ren yang menyalakan rokok di depan bar. Semua orang tahu kalau di sini ada ruangan khusus merokok dan pria ini melanggarnya.  
Ren mengambil rokok itu langsung dari mulut si tamu bertampang sangar dan mematikan apinya di meja sambil tersenyum ramah. “Yah… Tapi peraturan tetap peraturan. Aku nggak mau kamu ditendang gara-gara merokok di sini,” kata Ren menjelaskan lalu menambahkan dengan nada bisikan, “bos ku nggak akan suka dan Zulki bisa saja datang menyeretmu.”
Pria itu tertawa dan berkata, “Kamu pikir aku takut, hah?”
Ren menghela napasnya dan mengabaikan suara tawa tak enak itu. “Aku tahu kamu nggak takut. Tapi sayang sekali tempat ini punya pemilik dan kamu nggak bisa macam-macam.”
“Hooo… Jadi kamu mencemaskanku, manis?” godanya.
“Aku mencemaskan uangku,” kata Ren tidak peduli. “Lagi pula di sini ada ruangan khusus merokok. Kenapa nggak ke sana saja?”
“Bagaimana aku bisa ke sana kalau kamu di sini?”
Ren tertawa, “Pintar. Kalau begitu kamu nggak boleh merokok di sini. Bos ku itu menjaga kesehatan tamu dan pekerjanya. Dia baik, kan?” memang itu kenyataannya. Tapi walau peraturan itu diterapkan tempat ini tetap tidak pernah sepi.
Pria itu mengeluh dan memasukkan kotak rokoknya kembali ke kantung jaketnya, “Nah? Puas?”
“Bagus,” pujinya puas.
Mint memperhatikan itu semua dan mulai merasa kalau Ren sedang dalam kondisi yang tidak biasa. Ren kembali kepekerjaannya dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Sambil membelakangi tamu itu ia mencuci gelas-gelas yang kotor. Suasana hatinya sedang tidak bagus rupanya.
Musik menghentak kuat dan ia melihat kalau Ren menahan nafsunya untuk berlari demi mematikan musik itu. Untung saja bukan hanya dia yang memperhatikan itu. Andrea mendesak maju melalui kerumunan orang-orang dan langsung berdiri di samping pria itu.
“Hei!” Andrea memanggil Ren.
Mendengar itu Ren langsung membalikkan badannya tanpa senyum tanpa sambutan selamat datang hanya karena dia tahu kalau yang memanggilnya itu Andrea.
Andrea bisa melihat sikap tubuh Ren yang tegang walau wajahnya datar. Dia menunggu Ren melayaninya seperti tamu lainnya. Akhirnya Ren menyerah dan mendekat.
“Ya?” tanya Ren dengan semburat nada tidak suka.
Andrea diam sejenak seperti mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya ia berkata, “Ikut aku.”
Ren tidak sempat protes karena Andrea langsung pergi begitu saja. Ia meminta Mint untuk menggantikannya sebentar lalu pergi mengikuti pria itu dengan wajah sebal.
Mereka kembali tiba di bangunan luar belakang, tempat mereka bertengkar kemarin.
“Ada apa?” tanya Andrea.
Bagi Ren itu pertanyaan yang aneh karena ia merasa kalau pertanyaan itu miliknya.
“Ada apa bagaimana?” tanya Ren. “Seharusnya aku yang tanya begitu, kan?”
Andrea menghela napas. “Kamu nggak seperti biasanya.”
“Oh ya?”
“Ada yang terjadi?”
Ren menggeleng dan Andrea tersenyum. Pria itu mendekat padanya dan dengan lembut menyelipkan rambut Ren ke belakang telinganya sambil berkata, “Kalau ada yang mengganggumu, bilang padaku.”
Ren mundur. Ia tidak suka mendengar suara lembut Andrea yang membuatnya berdebar-debar dan perlakuan Andrea tadi padanya. Ini begitu tiba-tiba!
“Nggak. Nggak ada,” katanya buru-buru. “Aku mau balik.”
“Kamu ketemu dia, kan?” Andrea menahannya. “Kamu ketemu Aya, kan?”
Ren terkejut. Pelan-pelan ia berbalik untuk melihat Andrea lagi. “Kok tahu?” tanyanya pelan.
“Apa dia bilang sesuatu?”
Ren diam. Ia tidak menyangka akan ditanyai masalah itu dan dari mana pria itu tahu?
“Ren?”
“Ya,” Ren langsung menjawab. “Kenapa?”
“Dia bilang apa?”
Ren menimbang-nimbang jawabannya, “Apa itu penting?”
“Ya.”
Sial! Ren tidak tahu harus bicara apa tapi sekarang mulutnya ingin bicara. Dari tadi ia menahannya sementara di dalam dirinya ada desakan untuk menceritakan semuanya. Dari tadi ia menahan semua hal yang tidak ia suka sementara hatinya memberontak untuk melakukannya. Jadi ia memilih untuk bicara selagi ada yang mendengarkan. Tapi masalahnya orang itu, pria bernama lengkap tak indah ini, adalah topik pembicaraannya.
Ren menderita.
Sungguh!
“Jadi?” desak Andrea.
“Kamu senang ya kalau kamu jadi pusat perhatian?” tanya Ren curiga.
Andrea sebenarnya tahu apa pembicaraan mereka. Hanya saja ia sangat ingin mendengar Ren menumpahkan semuanya padanya dari pada ia bersikap menahan diri seperti tadi.
“Aku suka mendengar semua tentang diriku,” jawab Andrea mantap. “Jadi?”
“Orang itu…” Ren menguatkan dirinya untuk tidak mengatakan apapun yang ingin dia katakan, “Mantanmu, kan?”
Andrea diam sejenak sebelum mengangguk, “Ya.”
Oh, bagus! Dia benar-benar berada di dalam lingkaran kehidupan pria itu sekarang.
“Dia bilang kamu membencinya,” Ren masih tenang. “Dan dia sangat merindukanmu,” kali ini ia seperti membongkar pertahanan dirinya untuk tidak bicara lebih lanjut. “Dan dia seperti orang yang menunggumu. Dia kelihatan menderita.”
Andrea menyimaknya baik-baik.
“Aku nggak habis pikir kenapa kamu bisa sampai sebenci itu dengan orang itu,” Ren makin susah mengendalikan dirinya. “Kamu mengerikan!”
“Memang,” sahut Andrea.
Ren menatapnya kaget.
“Memang begitu,” kata Andrea pelan. “Jadi bagaimana?”
Kali ini Ren meledak. “Ya Tuhan! Yang kamu lawan itu bukan pria-pria brengsek di dalam tapi seorang wanita! Perempuan! Pacarmu dulu! Memangnya kamu nggak bisa maafin dia?”
“Aku sudah maafin dia tapi aku nggak mau berhubungan lagi dengannya,” jawab Andrea ringan. “Cuma itu.”
“Yak! Cuma itu,” Ren mengangkat tangannya sambil mengulang kalimat terakhir Andrea yang menyebalkan. “Dan kenapa aku bisa berada di lingkaran kehidupanmu? Dia nemuin aku, berkenalan denganku, mengajakku jalan, dan mulai melankolis menceritakan masa lalunya denganmu. Memangnya aku peduli?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
Andrea membiarkannya.
“Aku bisa baca pikirannya. Dia pikir aku penghalang!” kata Ren marah. “Penghalang?” kali ini ia tertawa tidak percaya. “Ya ampun! Bahkan aku tahu kalau aku nggak cocok dengan masalah ini!”
Andrea mengerutkan keningnya, mencoba mencerna kata-katanya.
“Orang itu menyebalkan! Sangat menyebalkan! Itu yang mau kamu dengar?” tanya Ren padanya. “Dia mengakui semua perasaannya pada orang yang baru dikenalnya. Memangnya itu penting, apa? Nggak penting!”
“Dan kamu marah-marah? Kupikir kamu nggak peduli dengan masalah itu,” Andrea mengingatkannya.
Ren kaget. Seharusnya dia memang melupakan masalah itu tapi dia tidak bisa melupakannya. Masih ada hal mengganjal dihatinya dan dia tidak tahu itu apa.
Ia bisa maklum sekarang kalau Freud tidak bisa menjabarkan pikiran wanita dengan lebih baik. Itu semua karena wanita tidak tahu apa keinginan pasti mereka. Dan Ren merasakannya.
Pikiran logisnya berkata kalau semuanya sudah cukup dan sudah berlalu. Tapi hatinya resah minta ampun dan itu yang membuatnya uring-uringan. Apa yang dia mau? Dia sendiri tidak tahu.
“Iya! Aku nggak mau peduli!” Ren masih bertahan, mencoba untuk bertahan sebagai dirinya sendiri.
Tapi Andrea tahu kalau kali ini Ren terlalu memaksakan diri.
“Apa yang mau kamu dengar?” tanya Andrea memastikan.
Sangat sulit melawan seorang pria S2 yang suka menangani masalah mikro dan inilah yang dihadapi Ren. Dia lupa siapa Andrea!
“Apa yang ingin ku dengar?” ia balik bertanya. “Oh! Aku nggak tahu.”
Andrea menatap dalam-dalam matanya. Ren menghindari tatapan itu dengan menatap kearah lain.
“Mau kutebak?” tanya Andrea menawarkan keahliannya.
“Memangnya bisa?” tantang Ren yang masih menatap ke arah lain.
“Bisa. Aku ahlinya,” pria itu terdengar percaya diri sekarang.
“Oke. Apa itu?”
“Tatap dulu mataku,” perintahnya.
Ren mengerutkan dahinya dan masih memaku tatapannya kearah lain. “Memangnya harus?”
“Kalau begitu gimana cara aku dapat jawabannya?” tanyanya.
Kesal dengan ini semua, Ren langsung menatap matanya, “Oke,” ia langsung menerima tantangan itu.
Andrea menatap dalam-dalam mata gadis itu yang keras menatapnya. Jelas sekali kalau gadis itu tidak merasa takut karena rasa jengkel dan marah yang sedang menguasainya. Bahkan tatapan itu bisa membuatnya tahu jawabannya. Semakin dalam ia menatap, semakin ia tahu apa yang ingin di dengar gadis itu.
Ia mendekat, memastikan jawabannya dan akhirnya dengan serius berkata, “Aku nggak mencintainya.”
Dan tatapan mata itu berubah drastis. Rasa terkejut terlihat di sana lalu tatapan itu melembut dan Andrea masih menatapnya dengan sungguh-sungguh.
Ia tahu kalau itu jawaban yang tepat. 




Ren tidak menyangka kalau perasaan marah dan bingungnya menguap drastis dan digantikan dengan satu kata.
Lega.
Hanya satu kata itu saja yang bisa menggambarkan suasana hatinya. Ia merasa rasa lega itu menggulung-gulung hatinya dan membuat semuanya menjadi lebih jernih kembali.
Ia juga baru sadar kalau jawaban itu bisa memuaskannya sampai tuntas. Hanya saja ia tidak tahu mengapa? Mengapa harus jawaban itu yang membuatnya bisa sebahagia ini? Mengapa Andrea tahu kalau itu jawabannya sedangkan dia sendiri tidak tahu apa sampai pria itu mengatakannya?
Dada Ren sesak dengan rasa bahagianya sendiri dan jantungnya berdegup kencang. Bibirnya sangat ingin tersenyum dan tubuhnya seakan dialiri semangat yang meluap-luap.
Tapi ia menahannya mati-matian sambil berusaha mundur teratur dari kedekatan mereka dan bergumam, “Aku harus balik,” dan ia segera masuk.
Andrea mengembuskan napas lega sekaligus senang. Ia tersenyum sendiri sekarang merasakan euforia yang tak terduga di dirinya. Hanya dengan mengatakan itu saja ia merasa bebannya terangkat.
Ia jujur mengatakannya.
Baginya Aya hanyalah masa lalu terkelam yang harus dibuang jauh-jauh.
Ren tahu kalau Andrea jujur, benar-benar jujur dari dalam hati. Ia tidak kembali ke meja bar tapi langsung menuju ke ruang ganti, menutup pintu, bersandar di sana, dan tersenyum lebar.
Ia  meloncat, mengekspresikan kegembiraan dan kelegaan hatinya sendiri. Ia tersenyum lima menit penuh. Suasana hatinya benar-benar baik sekarang. Ia tidak peduli dengan anehnya jawaban yang diberikan Andrea padanya. Yang ia tahu hatinya benar-benar lega sekarang.
Biar besok logika mengambil alih semuanya.
Ia ingin menikmati hari ini, hari di mana kenyataan aneh berputar disekitarnya.

You Might Also Like

0 comments: