She #25 - Rain

12:17 PM fe 0 Comments



Gadis mungil di depannya ini sangat cantik. Tipe tulangnya kecil. Wajahnya kuning langsat bercahaya dan sangat menarik dengan mata bulat besar yang menawan. Rambutnya panjang terurai dan ia menawan dengan bentuk bibir yang merah dan penuh.
Sebenarnya Ren sedang dicegat saat ia memutuskan untuk jalan-jalan siang ini. Gadis itu tersenyum di depannya dan suaranya mengalun indah layaknya suara seorang penyanyi.
“Boleh bicara?” tanyanya pada Ren.
Ren tidak mengenalnya tapi gadis ini sangat ramah di depannya jadi ia mengiyakannya saja.

Ren berjalan di belakangnya saat gadis itu menuntunnya ke pinggir laut. Baru kali ini Ren berada di tempat itu. Tempat itu sepi dan sangat nyaman. Angin bersemilir lembut menimbulkan ombak-ombak kecil. Mereka duduk di sana, di atas pembatas jalan sambil menghadap laut.
“Namaku Aya,” ia memperkenalkan diri.
“Ren,” Ren juga memperkenalkan diri, “Lebih tepatnya Serena.”
Gadis itu mengangguk. Jika ditaksir-taksir usianya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Ren.
“Kamu baru tinggal di sini, ya?” tanya Aya.
“Ya… Tapi hanya untuk beberapa bulan.”
Aya kembali mengangguk paham. “Di rumah Ginny?”
“Kok tahu?” tanya Ren heran.
Ia tertawa, sebuah tawa kecil yang renyah dan menyenangkan. “Aku melihatmu keluar masuk dari sana.”
Oh ya? Jadi dia sedang dimata-matai?
“Ooh…” hanya itu komentar Ren yang bingung.
“Aku juga dengar kalau Andrea ke sini… denganmu,” gadis itu melempar tatapannya ke depan sana, ke arah kaki langit yang biru.
“Ya…” Ren sampai bertanya-tanya seberapa hebat Andrea ini hingga bisa jadi terkenal begini.
“Aku senang dia kembali,” katanya pelan, lebih seperti gumaman. “Kamu tahu?”
“Apa?”
“Ini tempat favoritnya.”
Ren berkedip. Hebat sekali! Sekarang ia bisa menarik kesimpulan kalau Andrea sangat suka main di sini. Kalau bukan suka main di sini, berarti ia pernah tinggal di sini. Setidaknya ini masih hipotesis awal dan ia butuh data penguat lainnya.
“Oh ya?” hanya itu yang keluar dari mulut Ren.
“Dia sering duduk di sini sore-sore melihat matahari tenggelam. Mungkin dia masih suka ke sini.”
Ren mengangguk dan mulai melihat adanya hubungan emosional antara gadis ini dengan Andrea. Gadis itu jelas-jelas menunjukkan rasa rindunya pada pria itu. Tapi kenapa begitu? Hubungan seperti apa yang dilakoni mereka berdua dulu?
Sayangnya ia juga harus menanyakan pertanyaan yang sama pada Ferry, Ginny, dan Rossa. Tapi ia belum sempat melakukannya dan ia mulai menyesali karena waktunya terbuang percuma. Lagi pula ia hanya bertemu Ginny dua jam sebelum kerja hanya karena malamnya mereka bekerja dan siangnya mereka tidur.
Siang dan malam sudah berganti fungsinya bagi mereka.
“Kamu nggak ketemu dia?” tanya Ren. “Dia kan sudah di sini.”
Wajah gadis mungil itu terlihat sedih. “Apa dia mau?”
Ren makin bingung. “Kamu belum coba kan?” alih-alih bertanya kenapa, Ren mengganti kalimatnya.
“Memang.”
“Kalau nggak dicoba, mana tahu hasilnya.”
Dan kali ini gadis itu tersenyum miris, “Andrea itu keras kepala. Sekali dia membenci seseorang, dia akan dendam selamanya.”
“Oh ya?” ini menarik. “Memangnya dia begitu? Aku nggak tahu.”
Aya tertawa pelan, “Nanti kamu tahu.”
“Kalau dia membenci seseorang, aku nggak yakin kalau orangnya kamu.”
Ia menghela napas lelah sekarang, “Sayangnya kenyataannya begitu.”
Ren memiringkan kepalanya, “Bohong.”
Ia tersenyum, “Dia sudah membenciku dan aku terlalu keras kepala merindukannya.”
Ren terkejut dengan kejujuran gadis itu. “Kamu merindukannya tapi dia membencimu?”
Ia mengangguk.
Masih menghindari satu kata ‘mengapa’, Ren mendongak menatap langit. Ia tidak mau jadi orang yang mati penasaran tapi sekarang ia sedang berada di lingkaran kehidupan Andrea yang misterius. Andrea seperti mendorongnya untuk masuk ke dalam lingkaran hidupnya sendiri agar Ren bisa merasakannya.
“Kamu pasti sangat istimewa sampai-sampai dia membencimu,” kata Ren begitu saja. Begitu tiba-tiba lebih tepatnya.
Aya kembali tertawa. Tawa miris yang membuatnya terpaksa mengingat masa lalunya atau membuatnya tidak bisa lepas dari sana. Lalu muncullah jawaban itu, “Aku mantannya.”
Nah! Itu dia!
Ren tidak bisa menutupi rasa kagetnya walau jawaban itu sudah diterkanya. Ada hubungan emosional yang entah apa dalam diri mereka berdua. Tapi semuanya sudah jelas sekarang.
“Ah! Oh…” Ren bingung harus merespon apa. “Begitu…” gumamnya. Ia tiba-tiba merasa tidak nyaman sekarang.
Aya tersenyum kecil, senyum sedih yang membuatnya merasa jadi orang malang sedunia.
“Dulu kami sering ada di sini. Dia menyukai laut dan sering melakukan apapun di sini. Aku senang sekali memperhatikannya melukis atau hanya bicara. Dia benar-benar baik dan lembut…” cerita Aya sambil menerawang ke depan sana, masuk ke dalam masa lalunya sendiri.
Tapi Ren berpikiran lain sekarang. Kenapa gadis ini menyeretnya ke sini? Apa hanya untuk mengumumkan ini? Ren menatapnya mencoba menganalisisnya dan menemukan jawabannya.
Orang ini masih mencintai mantannya dan ia sangat ingin keadaannya berbalik seperti dulu. Lalu ia melihat keadaannya sendiri sekarang dan tertawa miris. Jadi Ren terlihat seperti ancaman?
Ya ampun!
Bahkan orang yang sudah memasuki kategori dewasa saja bisa bertingkah seperti remaja puber yang merasa harus menjelaskan status mereka – entah itu status kekasih atau mantan – kepada orang yang dianggap sebagai penghalang.
Pikiran bagus.
Sungguh hebat kekuatan cinta dan cemburu itu.
Dan itu membuatnya tiba-tiba kesal dan marah.
Ren berdiri, “Oke, sepertinya aku harus balik.”
Aya buru-buru berdiri, “Kenapa?”
“Kerja. Apa lagi?” tanyanya masih bersikap biasa walau ia merasa mulai tak suka dengan gadis ini.
“Tapi kita baru di sini,” alasannya.
“Masalahnya aku nggak tahu kenapa kamu bawa aku ke sini. Tiba-tiba saja kamu cerita hubunganmu dengan Andrea sedangkan aku orang asing bagimu. Aneh, kan?”
Aya menatap Ren tidak percaya, baru sadar kalau Ren sangat menyebalkan dengan kejujurannya dan kelogisannya.
“Aku cuma mau kenal sama kamu. Nggak lebih,” alasannya.
Ren tersenyum, “Well, aku senang. Tapi sayangnya aku nggak tertarik dengan kisahmu itu. Aku heran, buat apa kamu tiba-tiba jadi melankolis dan menceritakan semua hal tentang kalian berdua?”
Aya tercengang dan Ren makin di atas angin.
“Jadi,” kata Ren, “Dari pada aku buang waktu, mending aku pergi. Ah! Kalau kamu mau ketemu dia, ketemu saja. Senang kenal denganmu,” dan Ren buru-buru berlalu.

You Might Also Like

0 comments: