She #25 - Rain
Gadis mungil di depannya ini sangat
cantik. Tipe tulangnya kecil. Wajahnya kuning langsat bercahaya dan sangat
menarik dengan mata bulat besar yang menawan. Rambutnya panjang terurai dan ia
menawan dengan bentuk bibir yang merah dan penuh.
Sebenarnya Ren sedang dicegat saat ia
memutuskan untuk jalan-jalan siang ini. Gadis itu tersenyum di depannya dan suaranya
mengalun indah layaknya suara seorang penyanyi.
“Boleh bicara?” tanyanya pada Ren.
Ren tidak mengenalnya tapi gadis ini sangat
ramah di depannya jadi ia mengiyakannya saja.
Ren berjalan di belakangnya saat gadis
itu menuntunnya ke pinggir laut. Baru kali ini Ren berada di tempat itu. Tempat
itu sepi dan sangat nyaman. Angin bersemilir lembut menimbulkan ombak-ombak
kecil. Mereka duduk di sana, di atas pembatas jalan sambil menghadap laut.
“Namaku Aya,” ia memperkenalkan diri.
“Ren,” Ren juga memperkenalkan diri,
“Lebih tepatnya Serena.”
Gadis itu mengangguk. Jika
ditaksir-taksir usianya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Ren.
“Kamu baru tinggal di sini, ya?” tanya
Aya.
“Ya… Tapi hanya untuk beberapa bulan.”
Aya kembali mengangguk paham. “Di rumah
Ginny?”
“Kok tahu?” tanya Ren heran.
Ia tertawa, sebuah tawa kecil yang
renyah dan menyenangkan. “Aku melihatmu keluar masuk dari sana.”
Oh ya? Jadi dia sedang dimata-matai?
“Ooh…” hanya itu komentar Ren yang
bingung.
“Aku juga dengar kalau Andrea ke sini…
denganmu,” gadis itu melempar tatapannya ke depan sana, ke arah kaki langit
yang biru.
“Ya…” Ren sampai bertanya-tanya seberapa
hebat Andrea ini hingga bisa jadi terkenal begini.
“Aku senang dia kembali,” katanya pelan,
lebih seperti gumaman. “Kamu tahu?”
“Apa?”
“Ini tempat favoritnya.”
Ren berkedip. Hebat sekali! Sekarang ia
bisa menarik kesimpulan kalau Andrea sangat suka main di sini. Kalau bukan suka
main di sini, berarti ia pernah tinggal di sini. Setidaknya ini masih hipotesis
awal dan ia butuh data penguat lainnya.
“Oh ya?” hanya itu yang keluar dari
mulut Ren.
“Dia sering duduk di sini sore-sore
melihat matahari tenggelam. Mungkin dia masih suka ke sini.”
Ren mengangguk dan mulai melihat adanya
hubungan emosional antara gadis ini dengan Andrea. Gadis itu jelas-jelas
menunjukkan rasa rindunya pada pria itu. Tapi kenapa begitu? Hubungan seperti
apa yang dilakoni mereka berdua dulu?
Sayangnya ia juga harus menanyakan
pertanyaan yang sama pada Ferry, Ginny, dan Rossa. Tapi ia belum sempat
melakukannya dan ia mulai menyesali karena waktunya terbuang percuma. Lagi pula
ia hanya bertemu Ginny dua jam sebelum kerja hanya karena malamnya mereka
bekerja dan siangnya mereka tidur.
Siang dan malam sudah berganti fungsinya
bagi mereka.
“Kamu nggak ketemu dia?” tanya Ren. “Dia
kan sudah di sini.”
Wajah gadis mungil itu terlihat sedih.
“Apa dia mau?”
Ren makin bingung. “Kamu belum coba
kan?” alih-alih bertanya kenapa, Ren mengganti kalimatnya.
“Memang.”
“Kalau nggak dicoba, mana tahu
hasilnya.”
Dan kali ini gadis itu tersenyum miris, “Andrea
itu keras kepala. Sekali dia membenci seseorang, dia akan dendam selamanya.”
“Oh ya?” ini menarik. “Memangnya dia
begitu? Aku nggak tahu.”
Aya tertawa pelan, “Nanti kamu tahu.”
“Kalau dia membenci seseorang, aku nggak
yakin kalau orangnya kamu.”
Ia menghela napas lelah sekarang, “Sayangnya
kenyataannya begitu.”
Ren memiringkan kepalanya, “Bohong.”
Ia tersenyum, “Dia sudah membenciku dan
aku terlalu keras kepala merindukannya.”
Ren terkejut dengan kejujuran gadis itu.
“Kamu merindukannya tapi dia membencimu?”
Ia mengangguk.
Masih menghindari satu kata ‘mengapa’,
Ren mendongak menatap langit. Ia tidak mau jadi orang yang mati penasaran tapi
sekarang ia sedang berada di lingkaran kehidupan Andrea yang misterius. Andrea
seperti mendorongnya untuk masuk ke dalam lingkaran hidupnya sendiri agar Ren
bisa merasakannya.
“Kamu pasti sangat istimewa
sampai-sampai dia membencimu,” kata Ren begitu saja. Begitu tiba-tiba lebih
tepatnya.
Aya kembali tertawa. Tawa miris yang
membuatnya terpaksa mengingat masa lalunya atau membuatnya tidak bisa lepas
dari sana. Lalu muncullah jawaban itu, “Aku mantannya.”
Nah! Itu dia!
Ren tidak bisa menutupi rasa kagetnya
walau jawaban itu sudah diterkanya. Ada hubungan emosional yang entah apa dalam
diri mereka berdua. Tapi semuanya sudah jelas sekarang.
“Ah! Oh…” Ren bingung harus merespon
apa. “Begitu…” gumamnya. Ia tiba-tiba merasa tidak nyaman sekarang.
Aya tersenyum kecil, senyum sedih yang
membuatnya merasa jadi orang malang sedunia.
“Dulu kami sering ada di sini. Dia
menyukai laut dan sering melakukan apapun di sini. Aku senang sekali
memperhatikannya melukis atau hanya bicara. Dia benar-benar baik dan lembut…”
cerita Aya sambil menerawang ke depan sana, masuk ke dalam masa lalunya
sendiri.
Tapi Ren berpikiran lain sekarang. Kenapa
gadis ini menyeretnya ke sini? Apa hanya untuk mengumumkan ini? Ren menatapnya
mencoba menganalisisnya dan menemukan jawabannya.
Orang ini masih mencintai mantannya dan
ia sangat ingin keadaannya berbalik seperti dulu. Lalu ia melihat keadaannya
sendiri sekarang dan tertawa miris. Jadi Ren terlihat seperti ancaman?
Ya ampun!
Bahkan orang yang sudah memasuki
kategori dewasa saja bisa bertingkah seperti remaja puber yang merasa harus menjelaskan status mereka –
entah itu status kekasih atau mantan – kepada orang yang dianggap sebagai
penghalang.
Pikiran bagus.
Sungguh hebat kekuatan cinta dan cemburu
itu.
Dan itu membuatnya tiba-tiba kesal dan
marah.
Ren berdiri, “Oke, sepertinya aku harus
balik.”
Aya buru-buru berdiri, “Kenapa?”
“Kerja. Apa lagi?” tanyanya masih
bersikap biasa walau ia merasa mulai tak suka dengan gadis ini.
“Tapi kita baru di sini,” alasannya.
“Masalahnya aku nggak tahu kenapa kamu
bawa aku ke sini. Tiba-tiba saja kamu cerita hubunganmu dengan Andrea sedangkan
aku orang asing bagimu. Aneh, kan?”
Aya menatap Ren tidak percaya, baru
sadar kalau Ren sangat menyebalkan dengan kejujurannya dan kelogisannya.
“Aku cuma mau kenal sama kamu. Nggak
lebih,” alasannya.
Ren tersenyum, “Well, aku senang. Tapi
sayangnya aku nggak tertarik dengan kisahmu itu. Aku heran, buat apa kamu
tiba-tiba jadi melankolis dan menceritakan semua hal tentang kalian berdua?”
Aya tercengang dan Ren makin di atas
angin.
“Jadi,” kata Ren, “Dari pada aku buang
waktu, mending aku pergi. Ah! Kalau kamu mau ketemu dia, ketemu saja. Senang
kenal denganmu,” dan Ren buru-buru berlalu.

0 comments: