She #24 - Rain
Ginny tertawa saat esok sorenya Ren
mengomel tentang kejadian semalam. Setelah Ren memutuskan untuk masuk dan
membiarkan Andrea di sana, ia berhasil memancing banyak informasi dari
pelanggan yang muncul di bar dengan hati-hati. Ia tidak mau diseret bos nya
lagi hanya gara-gara melemparkan tatapan merayu.
Apa yang bisa dilakukannya hanyalah
bercakap dengan logikanya sebagai pria dan juga menunjukkan sikap hangat
seperti seorang teman lama. Ia melempar semua metode yang dipraktikkan Mint ke
dalam tempat pembakaran sampah dibenaknya.
Ginny masih tertawa. Bahkan dia tidak
bisa memakan makanannya sendiri sekarang karena saking gelinya.
“Ya ampuuun… Apa kamu bilang? Semua
mahasiswi pasti akan gigit binder?” lalu Ginny tertawa lagi sangat puas!
Ren duduk diam di depannya sambil membiarkan
tawa gadis itu meledak begitu saja.
“Aku nggak akan bilang begitu kalau
kenyataannya nggak seperti itu,” kata Ren jengkel. “Lagi pula sekarang aku
sangat tahu sifat aslinya. Dia benar-benar hebat akting rupanya. Heran, kenapa
semua orang bisa tertipu dengan itu?”
“Hanya karena mereka nggak mengenalnya
sebaik kita,” kata Ginny setelah berhasil meredakan tawanya. “Kenyataannya
memang begitu kok. Dia itu sempurna. Dia bisa jadi orang yang paling sabar tapi
jika kesabarannya terusik, terutama jika ada satu hal yang dia senangi, dia
nggak segan-segan berubah jadi orang yang berbeda. Yah, seperti yang kamu
ceritakan tadi.”
“Haa… Jadi dia sangat menyukaiku,
begitu?” goda Ren tak tahu malu.
“Bagaimanapun juga dia harus
melindungimu karena kamu itu bekerja untuknya,” ingat Ginny.
Ah ya, benar! Bagaimanapun juga Andrea
harus bertanggung jawab dengan keselamatannya.
“Iya, aku tahu,” Ren jelas-jelas tidak
mau mengakui kalau logika itu tidak membuatnya senang.
“Jadi wajar kalau dia cemas, kan?”
“Tentu saja,” jawabnya cepat. “Aku kan
kerja buat dia.”
Ginny mengulum senyumnya tahu kalau Ren
baru saja dihantamnya dengan logika yang lain. Yah, apapun itu ia senang
melihat hubungan mereka berdua yang unik.
Di sisi lain Andrea merasa tidak habis
pikir dengan apa yang dilakukannya semalam. Ia tahu kalau Ren sedang berusaha
menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi ia tidak tahu kalau Ren bisa menjadi
orang yang menarik. Bahkan dari kejauhan saja ia sudah melihat adanya daya
pikat yang dilancarkan gadis itu kalau dia mau.
Senyuman maut itu membuatnya merasa
kalau Ren sangat keterlaluan. Bukan hanya itu, ia yakin kalau Ren tidak tahu
dengan pesona dirinya sendiri. Sungguh, pesona yang alami dan polos itu
membuatnya gila karena ia tahu kalau dia tidak suka senyum itu bukan untuknya.
Dan kenapa dia mengeluarkannya pada orang yang jelas-jelas asing baginya?
Saat ia kembali, ia melihat Rossa
terpingkal-pingkal menertawakannya dan Andrea jengkel bukan main pada wanita
itu. Ia duduk, melupakan tugasnya dan malah mengawasi gadis itu. Tapi sekarang
sepertinya gadis itu paham kalau dia harus mengubah metodenya.
Ia terlihat seperti orang yang berbeda,
tidak lagi merayu seperti yang dilakukan Mint untuk melayani tamunya. Ia
terlihat tenang dan berubah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan sehingga
entah kenapa itu juga menjadi daya tariknya sendiri. Banyak pria yang
mengerubunginya malam itu dan ia yakin kalau Ren mendapatkan banyak informasi bagus
dari mereka semua.
Hebat.
Apapun yang dilakukan gadis itu,
sekalipun harus merubah metode untuk meladeni pria-pria hidung belang, ia tetap
bisa menarik perhatian.
“Oke, Bung. Kamu nggak perlu sekasar itu
dengannya. Dia baru saja mendobrak tradisi bartender di barku dan aku terlalu
cemas kalau pria-pria itu lebih senang mengobrol dengannya dibandingkan memakai
jasa lain,” kata Ferry yang sedang sibuk menghitung uang di balik meja
kerjanya.
Andrea melihat pria itu dan mengidentikkan
gayanya seperi Mr.Crabs yang gila uang.
“Ah ya? Bagaimana kalau kamu buka jasa
mengobrol saja?” tanya Andrea.
“Hati-hati, Bung. Tempatku bukan warung
kopi, tapi Bar. Dan aku punya banyak wanita yang bisa ngobrol berjam-jam di
tempat tidur,” katanya. “Gadismu nggak akan bisa melakukannya.”
Andrea tertawa, tidak termakan dengan
ejekan itu. “Kuyakinkan saja, dia bisa melakukannya kalau mau.”
“Plus
pertengkaran? Adu mulut? Adu bantal? Adu kekuatan? Dia hanya akan membuat
bisnisku berantakan,” Ferry menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.
“Bagus. Dia memang nggak cocok di sini,”
kata Andrea.
“Sepertinya orang yang mau dengannya
hanya orang gila.”
“Apa katamu?” Andrea mengancamnya.
Ferry mengangkat tangannya, “Dia bahkan
berani menentangmu, kawan. Tidakkah dia berbahaya? Kalau aku pribadi, aku lebih
suka tipe penurut, ramah, dan manis.”
“Selera umum,” gumam Andrea acuh.
Ferry tergelak, “Aku tahu kalau itu
pikiranmu.” Lalu ia teringat sesuatu, “Oh ya, dia mencarimu.”
“Siapa?”
“Aya?”
Andrea terdiam.

0 comments: