She #24 - Rain

12:15 PM fe 0 Comments



Ginny tertawa saat esok sorenya Ren mengomel tentang kejadian semalam. Setelah Ren memutuskan untuk masuk dan membiarkan Andrea di sana, ia berhasil memancing banyak informasi dari pelanggan yang muncul di bar dengan hati-hati. Ia tidak mau diseret bos nya lagi hanya gara-gara melemparkan tatapan merayu.
Apa yang bisa dilakukannya hanyalah bercakap dengan logikanya sebagai pria dan juga menunjukkan sikap hangat seperti seorang teman lama. Ia melempar semua metode yang dipraktikkan Mint ke dalam tempat pembakaran sampah dibenaknya.
Ginny masih tertawa. Bahkan dia tidak bisa memakan makanannya sendiri sekarang karena saking gelinya.
“Ya ampuuun… Apa kamu bilang? Semua mahasiswi pasti akan gigit binder?” lalu Ginny tertawa lagi sangat puas!
Ren duduk diam di depannya sambil membiarkan tawa gadis itu meledak begitu saja.

“Aku nggak akan bilang begitu kalau kenyataannya nggak seperti itu,” kata Ren jengkel. “Lagi pula sekarang aku sangat tahu sifat aslinya. Dia benar-benar hebat akting rupanya. Heran, kenapa semua orang bisa tertipu dengan itu?”
“Hanya karena mereka nggak mengenalnya sebaik kita,” kata Ginny setelah berhasil meredakan tawanya. “Kenyataannya memang begitu kok. Dia itu sempurna. Dia bisa jadi orang yang paling sabar tapi jika kesabarannya terusik, terutama jika ada satu hal yang dia senangi, dia nggak segan-segan berubah jadi orang yang berbeda. Yah, seperti yang kamu ceritakan tadi.”
“Haa… Jadi dia sangat menyukaiku, begitu?” goda Ren tak tahu malu.
“Bagaimanapun juga dia harus melindungimu karena kamu itu bekerja untuknya,” ingat Ginny.
Ah ya, benar! Bagaimanapun juga Andrea harus bertanggung jawab dengan keselamatannya.
“Iya, aku tahu,” Ren jelas-jelas tidak mau mengakui kalau logika itu tidak membuatnya senang.
“Jadi wajar kalau dia cemas, kan?”
“Tentu saja,” jawabnya cepat. “Aku kan kerja buat dia.”
Ginny mengulum senyumnya tahu kalau Ren baru saja dihantamnya dengan logika yang lain. Yah, apapun itu ia senang melihat hubungan mereka berdua yang unik.


Di sisi lain Andrea merasa tidak habis pikir dengan apa yang dilakukannya semalam. Ia tahu kalau Ren sedang berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi ia tidak tahu kalau Ren bisa menjadi orang yang menarik. Bahkan dari kejauhan saja ia sudah melihat adanya daya pikat yang dilancarkan gadis itu kalau dia mau.
Senyuman maut itu membuatnya merasa kalau Ren sangat keterlaluan. Bukan hanya itu, ia yakin kalau Ren tidak tahu dengan pesona dirinya sendiri. Sungguh, pesona yang alami dan polos itu membuatnya gila karena ia tahu kalau dia tidak suka senyum itu bukan untuknya. Dan kenapa dia mengeluarkannya pada orang yang jelas-jelas asing baginya?
Saat ia kembali, ia melihat Rossa terpingkal-pingkal menertawakannya dan Andrea jengkel bukan main pada wanita itu. Ia duduk, melupakan tugasnya dan malah mengawasi gadis itu. Tapi sekarang sepertinya gadis itu paham kalau dia harus mengubah metodenya.
Ia terlihat seperti orang yang berbeda, tidak lagi merayu seperti yang dilakukan Mint untuk melayani tamunya. Ia terlihat tenang dan berubah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan sehingga entah kenapa itu juga menjadi daya tariknya sendiri. Banyak pria yang mengerubunginya malam itu dan ia yakin kalau Ren mendapatkan banyak informasi bagus dari mereka semua.
Hebat.
Apapun yang dilakukan gadis itu, sekalipun harus merubah metode untuk meladeni pria-pria hidung belang, ia tetap bisa menarik perhatian.
“Oke, Bung. Kamu nggak perlu sekasar itu dengannya. Dia baru saja mendobrak tradisi bartender di barku dan aku terlalu cemas kalau pria-pria itu lebih senang mengobrol dengannya dibandingkan memakai jasa lain,” kata Ferry yang sedang sibuk menghitung uang di balik meja kerjanya.
Andrea melihat pria itu dan mengidentikkan gayanya seperi Mr.Crabs yang gila uang.
“Ah ya? Bagaimana kalau kamu buka jasa mengobrol saja?” tanya Andrea.
“Hati-hati, Bung. Tempatku bukan warung kopi, tapi Bar. Dan aku punya banyak wanita yang bisa ngobrol berjam-jam di tempat tidur,” katanya. “Gadismu nggak akan bisa melakukannya.”
Andrea tertawa, tidak termakan dengan ejekan itu. “Kuyakinkan saja, dia bisa melakukannya kalau mau.”
Plus pertengkaran? Adu mulut? Adu bantal? Adu kekuatan? Dia hanya akan membuat bisnisku berantakan,” Ferry menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.
“Bagus. Dia memang nggak cocok di sini,” kata Andrea.
“Sepertinya orang yang mau dengannya hanya orang gila.”
“Apa katamu?” Andrea mengancamnya.
Ferry mengangkat tangannya, “Dia bahkan berani menentangmu, kawan. Tidakkah dia berbahaya? Kalau aku pribadi, aku lebih suka tipe penurut, ramah, dan manis.”
“Selera umum,” gumam Andrea acuh.
Ferry tergelak, “Aku tahu kalau itu pikiranmu.” Lalu ia teringat sesuatu, “Oh ya, dia mencarimu.”
“Siapa?”
“Aya?”
Andrea terdiam.

You Might Also Like

0 comments: