She #23 - Rain
Bagian belakang dari bar itu ternyata
adalah sebuah lorong yang panjang. Di atas pintu keluar ada satu bola lampu
terang yang dipasang dan beberapa meter di depan sana ada bak sampah yang
dibuat dengan semen. Di sanalah Ren diseret atas perintah atasannya dan mereka
hanya berdua saja.
Suasana ribut langsung teredam begitu
pintu belakang itu dibanting tertutup oleh Andrea.
Ren waspada menghadapi macan di
depannya. Ia tidak tahu kenapa Andrea semarah ini. Wajah pria itu jelas-jelas
menunjukkan kesan tidak sukanya. Apa Ren membuat kesalahan lagi? Dia hampir
saja bisa mengorek keterangan lebih banyak lagi dari pria brengsek itu sebelum
orang ini mengacaukannya.
“Aku nggak suka!” katanya dengan
kemarahan yang ditahan.
Ren tercengang. Sekarang ia akan
menghadapi bom waktu yang sebenarnya. Sisi lain dari Andrea terkuak satu
persatu saat mereka memasuki daerah ini. Ia berbeda, sungguh berbeda.
Malaikat yang berubah menjadi iblis
benar-benar akan terlihat berbeda! Semua mahasiswi di kampusnya harus gigit
binder jika tahu siapa orang ini sebenarnya.
“Maksudnya?” tanya Ren hati-hati.
“Aku nggak suka lihat cara kamu cari
informasi tadi!” tegasnya yang membuat Ren tidak habis pikir.
“Caraku?” ulangnya. “Caraku yang tadi?”
ia merasa tidak percaya dengan pendengarannya. “Memangnya apa lagi yang
kulakukan?”
“Semua yang kamu lakukan itu –”
“Apa? Berbahaya?” potong Ren sengit.
“Jangan memotongku!” perintahnya.
Ren kaget. Benar-benar kaget! Dia sama
sekali tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan itu salah.
“Mari kita perjelas,” Ren tidak mau
kalah sekarang. “Apanya yang salah? Kita sudah buat perjanjian kalau kamu akan
mencari info dari wanita-wanita itu sedangkan aku akan mencarinya dari para
pria brengsek hidung belang itu. Iya, kan? Sekarang di mana letak salahnya?”
“Letak salahnya ada dicaramu sendiri.”
“Apa?” Ren menatapnya tidak percaya. “Aku
nggak ngerti kamu mau apa. Yang jelas aku sudah hampir bisa nanya macam-macam
dengannya dan kamu mengganggu!”
Andrea menatap langit dengan wajah
frustasi lalu menghujam tatapannya pada Ren, “Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu
masih terlalu polos dan –”
“Aku tahu apa yang mereka pikirkan!”
potong Ren lagi. Ia jelas-jelas mengabaikan peringatan keras Andrea tadi. “Dan
aku tahu kalau mereka juga menilaiku, persis seperti yang ferry dan Rossa
lakukan.”
“Kamu…” Andrea diam lalu menghela
napasnya.
“Aku juga tahu kalau orang itu tahu
keadaanku. Maksunya dia tahu kalau aku memang belum pernah melakukannya dan aku
tahu kalau dia sangat pintar merayu.”
“Itu yang kumaksud,” kata Andrea. “Kau
memberikan tatapan mengundang yang semua orang tahu kalau kau terlihat seperti
perayu ulung!”
Jiwa kewanitaan Ren terusik dengan
kata-kata pria itu. Tapi ia mencoba melawan ketidaknyamanannya sendiri
sekarang. Itu yang dipikirkan seorang pria. Itu yang dipikirkan Andrea
sekarang!
“Aku? Merayu?” bisik Ren tidak percaya.
“Kau merayunya dan aku tahu itu!”
“Aku sama sekali nggak berniat
melakukannya!”
“Benarkah?” tanya Andrea sengit.
Ren bahkan tidak tahu kalau dia sanggup
melakukan itu. Ia tercengang dengan dirinya sendiri dan tercengang dengan kemampuannya
untuk menangkap banyak pelajaran selama Mint berada di sampingnya. Mint
melakukannya dan Ren menirukannya. Sebenarnya semuanya hanya sesederhana itu.
Tapi sekarang caranya menjadi masalah di mata Andrea.
“Jadi aku harus gimana? Menghindari
pelanggang? Hanya muncul saat ada orang yang memesan kopi lalu pergi mencuci
piring? Begitu? Itu yang kamu mau? Terus apa yang akan kamu dapatkan jika aku terus begitu? Kamu nggak akan dapat apa-apa!
Nggak akan dapat apa-apa!” Ren bahkan mengulang kalimat terakhirnya dengan nada
marah membuncah. “Atau kamu mau data yang didapat dengan menyebarkan questionare? Kalau itu yang kamu mau aku
bisa keliling seperti sales.”
“Kamu baru saja mengantar dirimu sendiri
ke pria brengsek itu!”
“Well, kalau itu membuatmu senang,
kenapa nggak!”
“Serena!”
Teriakan marah itu membuat Ren langsung
diam. Ia sama sekali tidak tahu kenapa kalimat itu muncul begitu saja. Andrea
sangat marah dan otot-ototnya mengencang. Ia baru kali ini menghadapi pria itu
yang sedang marah luar biasa.
Akhirnya kesabarannya habis juga dan Ren
langsung berdiri mematung.
Ia salah. Seharusnya dia tidak menguji
kesabaran dari orang yang sabar. Tapi ia terlalu mendesak pria itu sekarang
hanya karena tanpa sadar ia memberikan tatapan rayuan pada si pria hidung
belang.
Tapi apanya yang salah? Ia tidak
benar-benar akan melemparkan dirinya ke sana. Ia tidak akan pernah
melakukannya. Dan jika ia tidak melakukan wawancara reflek seperti itu,
bagaimana caranya ia bisa mendapatkan data?
Jadi akhirnya dia berteriak tidak
mengerti, “Maumu apa?”
Andrea berkedip saat ditantang seperti
itu. Apa maunya? Itu dia pertanyaannya.
“Aku nggak akan pernah semudah itu
melemparkan diri ke sana. Kamu kira aku murahan, hah?” kali ini Ren balas
berteriak. “Kamu kenal aku dan kamu harusnya tahu itu!”
Andrea menyengir tanda mendapatkan
kelucuan dari situasi ini sedangkan Ren tercengang padanya.
Ini lucu!
Sungguh lucu!
Dan ia sadar kalau Ren tahu pikirannya
dibuktikan dari mata gadis itu yang menyipit penuh curiga lalu tertawa. “Jangan
bilang kalau kamu –” Ren kembali menatapnya tidak percaya.
Sungguh! Ren bisa membaca itu semua
dengan baik. Dan ia yakin kalau
dugaan mereka berdua dipastikan sama!
Cemburu.
Itu adalah satu kata yang tidak masuk
akal diantara mereka berdua. Anehnya jawaban itu muncul begitu saja tanpa di
duga. Ren tidak harus berpikiran seperti lelaki jika sudah begini. Siapapun
tahu jawaban ini dan dua orang ini hampir tertawa karena rasanya ini mustahil terjadi.
Jadi Ren melemparkan tatapan tidak
sukanya dan langsung kembali ke dalam sedangkan Andrea langsung menghantamkan
tinjunya ke dinding.
Sial! Seharusnya ini bisa jadi lebih
mudah!

0 comments: