She #23 - Rain

12:14 PM fe 0 Comments



Bagian belakang dari bar itu ternyata adalah sebuah lorong yang panjang. Di atas pintu keluar ada satu bola lampu terang yang dipasang dan beberapa meter di depan sana ada bak sampah yang dibuat dengan semen. Di sanalah Ren diseret atas perintah atasannya dan mereka hanya berdua saja.
Suasana ribut langsung teredam begitu pintu belakang itu dibanting tertutup oleh Andrea.
Ren waspada menghadapi macan di depannya. Ia tidak tahu kenapa Andrea semarah ini. Wajah pria itu jelas-jelas menunjukkan kesan tidak sukanya. Apa Ren membuat kesalahan lagi? Dia hampir saja bisa mengorek keterangan lebih banyak lagi dari pria brengsek itu sebelum orang ini mengacaukannya.

“Aku nggak suka!” katanya dengan kemarahan yang ditahan.
Ren tercengang. Sekarang ia akan menghadapi bom waktu yang sebenarnya. Sisi lain dari Andrea terkuak satu persatu saat mereka memasuki daerah ini. Ia berbeda, sungguh berbeda.
Malaikat yang berubah menjadi iblis benar-benar akan terlihat berbeda! Semua mahasiswi di kampusnya harus gigit binder jika tahu siapa orang ini sebenarnya.
“Maksudnya?” tanya Ren hati-hati.
“Aku nggak suka lihat cara kamu cari informasi tadi!” tegasnya yang membuat Ren tidak habis pikir.
“Caraku?” ulangnya. “Caraku yang tadi?” ia merasa tidak percaya dengan pendengarannya. “Memangnya apa lagi yang kulakukan?”
“Semua yang kamu lakukan itu –”
“Apa? Berbahaya?” potong Ren sengit.
“Jangan memotongku!” perintahnya.
Ren kaget. Benar-benar kaget! Dia sama sekali tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan itu salah.
“Mari kita perjelas,” Ren tidak mau kalah sekarang. “Apanya yang salah? Kita sudah buat perjanjian kalau kamu akan mencari info dari wanita-wanita itu sedangkan aku akan mencarinya dari para pria brengsek hidung belang itu. Iya, kan? Sekarang di mana letak salahnya?”
“Letak salahnya ada dicaramu sendiri.”
“Apa?” Ren menatapnya tidak percaya. “Aku nggak ngerti kamu mau apa. Yang jelas aku sudah hampir bisa nanya macam-macam dengannya dan kamu mengganggu!”
Andrea menatap langit dengan wajah frustasi lalu menghujam tatapannya pada Ren, “Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu masih terlalu polos dan –”
“Aku tahu apa yang mereka pikirkan!” potong Ren lagi. Ia jelas-jelas mengabaikan peringatan keras Andrea tadi. “Dan aku tahu kalau mereka juga menilaiku, persis seperti yang ferry dan Rossa lakukan.”
“Kamu…” Andrea diam lalu menghela napasnya.
“Aku juga tahu kalau orang itu tahu keadaanku. Maksunya dia tahu kalau aku memang belum pernah melakukannya dan aku tahu kalau dia sangat pintar merayu.”
“Itu yang kumaksud,” kata Andrea. “Kau memberikan tatapan mengundang yang semua orang tahu kalau kau terlihat seperti perayu ulung!”
Jiwa kewanitaan Ren terusik dengan kata-kata pria itu. Tapi ia mencoba melawan ketidaknyamanannya sendiri sekarang. Itu yang dipikirkan seorang pria. Itu yang dipikirkan Andrea sekarang!
“Aku? Merayu?” bisik Ren tidak percaya.
“Kau merayunya dan aku tahu itu!”
“Aku sama sekali nggak berniat melakukannya!”
“Benarkah?” tanya Andrea sengit.
Ren bahkan tidak tahu kalau dia sanggup melakukan itu. Ia tercengang dengan dirinya sendiri dan tercengang dengan kemampuannya untuk menangkap banyak pelajaran selama Mint berada di sampingnya. Mint melakukannya dan Ren menirukannya. Sebenarnya semuanya hanya sesederhana itu. Tapi sekarang caranya menjadi masalah di mata Andrea.
“Jadi aku harus gimana? Menghindari pelanggang? Hanya muncul saat ada orang yang memesan kopi lalu pergi mencuci piring? Begitu? Itu yang kamu mau? Terus apa yang akan kamu dapatkan jika aku terus begitu? Kamu nggak akan dapat apa-apa! Nggak akan dapat apa-apa!” Ren bahkan mengulang kalimat terakhirnya dengan nada marah membuncah. “Atau kamu mau data yang didapat dengan menyebarkan questionare? Kalau itu yang kamu mau aku bisa keliling seperti sales.”
“Kamu baru saja mengantar dirimu sendiri ke pria brengsek itu!”
“Well, kalau itu membuatmu senang, kenapa nggak!”
“Serena!”
Teriakan marah itu membuat Ren langsung diam. Ia sama sekali tidak tahu kenapa kalimat itu muncul begitu saja. Andrea sangat marah dan otot-ototnya mengencang. Ia baru kali ini menghadapi pria itu yang sedang marah luar biasa.
Akhirnya kesabarannya habis juga dan Ren langsung berdiri mematung.
Ia salah. Seharusnya dia tidak menguji kesabaran dari orang yang sabar. Tapi ia terlalu mendesak pria itu sekarang hanya karena tanpa sadar ia memberikan tatapan rayuan pada si pria hidung belang.
Tapi apanya yang salah? Ia tidak benar-benar akan melemparkan dirinya ke sana. Ia tidak akan pernah melakukannya. Dan jika ia tidak melakukan wawancara reflek seperti itu, bagaimana caranya ia bisa mendapatkan data?
Jadi akhirnya dia berteriak tidak mengerti, “Maumu apa?”
Andrea berkedip saat ditantang seperti itu. Apa maunya? Itu dia pertanyaannya.
“Aku nggak akan pernah semudah itu melemparkan diri ke sana. Kamu kira aku murahan, hah?” kali ini Ren balas berteriak. “Kamu kenal aku dan kamu harusnya tahu itu!”
Andrea menyengir tanda mendapatkan kelucuan dari situasi ini sedangkan Ren tercengang padanya.
Ini lucu!
Sungguh lucu!
Dan ia sadar kalau Ren tahu pikirannya dibuktikan dari mata gadis itu yang menyipit penuh curiga lalu tertawa. “Jangan bilang kalau kamu –” Ren kembali menatapnya tidak percaya.
Sungguh! Ren bisa membaca itu semua dengan baik. Dan ia yakin kalau dugaan mereka berdua dipastikan sama!
 Cemburu.
Itu adalah satu kata yang tidak masuk akal diantara mereka berdua. Anehnya jawaban itu muncul begitu saja tanpa di duga. Ren tidak harus berpikiran seperti lelaki jika sudah begini. Siapapun tahu jawaban ini dan dua orang ini hampir tertawa karena rasanya ini mustahil terjadi.
Jadi Ren melemparkan tatapan tidak sukanya dan langsung kembali ke dalam sedangkan Andrea langsung menghantamkan tinjunya ke dinding.
Sial! Seharusnya ini bisa jadi lebih mudah!

You Might Also Like

0 comments: