She #22 - Rain

12:13 PM fe 0 Comments



Kontrak itu benar-benar mencekik pastinya. Jika dilanggar maka mereka akan diburu karena mereka telah “dibeli”. Mereka bisa saja lepas dari sini jika mampu “membeli” kebebasan mereka lagi dengan harga dua kali lipat dari harga mereka saat dijual dulu. Ren yakin kalau harga-harga itu sangat mencekik.
Sebuah kebebasan harus dibeli dengan uang.
Penghasilan mereka memang bisa sampai sejuta dalam semalam, tapi semua itu belum dipotong dengan biaya setoran yang ditetapkan sang majikan. Ujung-ujungnya jika pelanggan mereka sedikit, mereka bisa saja mendapat bagi hasil yang sedikit.
Satu lagi, mereka juga sangat konsumtif. Mereka bisa berbelanja ke ibu kota, membeli baju baru, sepatu baru, gadget, makan di restoran, dan hidup seperti orang kaya. Dari sini mereka juga rajin menyetor uang kepada orang tua mereka di kampung halaman sana, memberi hadiah, dan pulang kampung sebagai orang berada yang disegani karena membawa banyak oleh-oleh. Mereka berbeda dan mereka senang dengan hal-hal itu.

 Pekerjaan mereka mudah, uang mengalir cepat, banyak pelanggan, dan mereka senang melakukannya. Yang penting uang itu cepat datang pada mereka.
Dua hari kemudian Ren mendapati kenyataan itu saat tubuhnya kembali sehat dan dia bisa kembali kerja.
“Gadis manis, aku sama sekali nggak keberatan membayarmu lebih dari semua pelacur di sini,” goda seorang pria yang tampangnya terlihat seperti bapak-bapak punya anak dua.
Ren mencoba untuk tidak meringis karena melayani rayuan sama dengan melayani tamu. Dan tamu adalah raja. Jadi dia bertahan karena tahu pria ini sedang sangat ingin mencoba hal baru.
“Haaah,” ia menghela kesal dan meletakkan gelas yang dilapnya dengan hati-hati di tempatnya. Mint sama sekali tidak membantu. Ia juga sedang sibuk melayani pelanggan. Lagi pula dia sudah janji pada Andrea untuk menjadi seorang pelayan yang baik.
“Pak…”
“Om!” potong pria itu cepat. “Jangan panggil pak, dong. Aku tahu kalau kamu masih baru. Panggil aku om.”
Menjijikkan memang jika Ren sedang tidak berada di dalam tingkat kepercayaan diri yang paling tinggi. Tapi sekarang Ren ada di sana, di tingkat kepercayaan diri yang paling puncak. Ia merasa bisa mengendalikan segala jenis situasi. Lagi pula ada meja bar yang memisahkannya dengan si pria hidung belang itu. Dan satu lagi, Zulki ada di sana memperhatikannya.
“Om,” Ren mulai beraksi, “Aku ini cuma penyedia kopi. Aku nggak bisa ngambil job mereka. Aku profesional.”
Seperti yang Ren perkirakan pria itu tertawa dan Ren sudah membaca alasan berikutnya.
“Aku akan membayarmu diluar jam kerjamu. Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau dengan itu.”
“Nggak. Aku nggak bisa melakukannya. Bisa-bisa aku lebih kaya dari mereka,” jawab Ren.
“Ah! Bukankah itu yang diinginkan semua orang? Uang? Kekayaan? Jadi kenapa kamu nggak mau?” ia menatap Ren dengan tatapan kurang ajar, “Aku tahu kalau kamu belum pernah –”
“Ya, ya!” potong Ren cepat, merasa gerah dengan pembicaraan ini. “Aku tahu pikiranmu, Om. Tapi kenapa harus aku?”
Ia tertawa, “Kamu terlihat lebih muda dari semua yang ditawarkan di sini?”
“Oh ya?” Ren sudah berkenalan dengan beberapa wanita yang bekerja di sini dan memang rata-rata umur mereka lebih tua setahun atau dua tahun dari Ren. Hanya saja dia tidak tahu kalau dia terlihat semuda itu di depan mata pria ini. Memang sebenarnya ia ragu apa benar pria ini setepat itu mentaksir umurnya.
Tapi Ren tahu taktik yang sebenarnya. Orang menjijikkan ini sudah melihatnya!
Jadi Ren tertawa keras sekarang mengalahkan suara musik yang berdentum dan riuh rendah suara bar yang sangat berisik.
“Apa akan senikmat itu denganku, Tuan? Aku bahkan nggak tahu kalau kamu bisa melihatku sedetil itu,” tanpa ragu-ragu Ren mulai menghubungkan logika yang dilihatnya dari pandangan lelaki.
“Ah! Kamu tahu rupanya.”
“Aku muda?” goda Ren.
Orang itu tertawa, “Mataku masih bagus, sayang. Kamu pasti nggak akan nyesal kalau melakukannya denganku untuk pertama kalinya. Di jamin rasanya akan selangit!” rayunya.
Ren mengangguk-angguk. Pria ini sedikit lagi hampir berhasil dipancing.
“Kalau ada anak sekolahan di sini, jangan-jangan kamu nggak mau merayuku, ya?” Ren memperlama pembicaraan mereka.
“Aku suka tipe orang yang terlihat lebih muda. Dan kamu… sangat menarik. Unik. Tomboy. Pasti sangat menyenangkan kalau kita jalan seharian.”
“Kencan, maksudnya?” bisik Ren.
“Jangan sampai ketahuan bosmu,” balasnya berbisik.
Ren menggigit bibirnya dan pria itu tergoda.
“Bagaimana?” tanya orang itu.
Ren menatapnya dengan tatapan nakal sekarang karena sangat menikmati perannya. Ia hampir saja mau bicara saat seorag pria yang lebih tinggi dari pria hidung belang yang menggodanya itu datang.
“Hei!” Andrea memotong niat Ren untuk bicara. “Aku mau bicara.” Katanya dingin pada Ren.
Ren terkesiap karena Andrea tiba-tiba muncul dengan wajah datar, dingin, dan tidak suka. Ia terlihat seperti marah tapi kemarahan itu masih ditahan.
“Ah! Ya,” Ren buru-buru mundur sebelum si pria hidung belang meraih tangannya pada kesempatan itu.
“Tunggu! Aku sudah bersamamu dari tadi dan sekarang kamu mau pergi dengannya?” dia protes dan Ren terkejut.
“Aku… Harus pergi sebentar,” Ren berusaha bersikap tenang walau alarm pertahanan diri di kepalanya sudah berbunyi. Dia resah sekarang.
“Aku nggak akan –”
“Dia milikku, Bung. Jadi lepaskan dia!” kata Andrea dingin dengan tatapan tajam merendahkan orang itu.
Di sini dia jelas lebih berkuasa dari pada pria bodoh itu. Saat orang itu menatap Andrea dan mencoba melawannya, ia tiba-tiba langsung melepaskan tangan Ren dan mengangkat tangannya lalu pergi sambil mengumpat.
Andrea mengawasi kepergiannya persis seperti seekor elang yang mengawasi buruannya. Lalu setelah ia yakin kalau orang itu jauh, ia mengalihkan tatapannya pada Ren, “Ikut aku.”


Andrea merasa panas!
Tentu saja bukan karena udara di dalam sini pengap atau sebagainya. Hanya saja ia tidak percaya dengan kemarahannya sendiri.
Dari tadi ia duduk di sofa ini, di tempat yang bisa membuatnya dengan leluasa memantau Ren dengan baik. Ditemani Rossa ia berbicang-bincang seperti biasa hingga matanya tertumbuk pada gadis itu yang sedang berbicara santai dengan pelanggannya.
“Kenapa?” tanya Rossa sambil menyulut rokoknya. “Ah! Jangan bilang kalau kau mendapat hal menarik,” Rossa mengikuti arah pandangan Andrea dan mendapati apa yang menjadi objek penglihatannya itu. “Dia bekerja sangat baik sekarang.”
“Brengsek!” umpat Andrea kesal. Sangat kesal. “Mana Zulki?” tanyanya cepat tanpa mengalihkan tatapannya.
“Apa?”
“Apa orang itu nggak lihat kalau Ren dalam masalah?”
Rossa mencoba melihat Ren lagi dan berpikir, “Kurasa dia nggak dalam masalah,” komentarnya. “Dia bekerja sangat baik. Lihat, dia bisa mengatasinya. Lagi pula memang itu yang dilakukan pelayan bar, melayani pelanggan.”
“Bukan pelanggan yang ini!”
“Pelanggan yang mana lagi?” tanya Rossa bingung.
“Aku yakin kalau si brengsek itu sedang menawarinya.”
“Memang itu yang mereka semua lakukan,” Rossa berusaha mengajak Andrea berpikir jernih. “Kamu nggak apa-apa?”
“Sialan! Mana si bodoh itu?”
Rossa menaikkan sedikit dagunya dan mulai kesal. “Sadar, Bung! Kamu bukan di dunia normalmu sekarang!” dan dengan tatapan tidak percaya dia melihat satu hal dari diri pria itu.
Dia marah! Benar-benar sangat marah!
“Ingat! Status kalian di sini hanya meneliti, bukan yang lain!” Rossa mencoba menyadarkannya. “Lagi pula memang itu yang harus dilakukannya kalau kau ingin dia dapat data.”
Andrea sadar saat Rossa mengatakan itu. Tapi tidak, tubuhnya bereaksi lain. Ia merasa sangat tegang sekaligus bersalah. Ia sudah bisa melihatnya. Ren menikmati perannya, memikat lelaki tua bodoh itu dengan binar matanya, senyumnya, gerakannya, dan yang pasti suaranya. Dan lelaki tua itu tidak bodoh. Ia pasti tahu kalau Ren masih pemula dan pemula mempunyai harga tinggi dimatanya karena belum disentuh siapa-siapa.
Sial! Ia tidak pernah semarah ini!
Ia berdiri dan Rossa menghalanginya.
“Andrea bodoh!” bentak wanita itu. “Biarkan dia kerja! Bukannya itu yang kamu mau?”
Andrea tidak menjawab. Ia melewati wanita itu dan berderap kearah mereka berdua. Yang ia tahu, Andrea sama sekali tidak suka melihatnya.

You Might Also Like

0 comments: