She #21 - Rain

12:10 PM fe 0 Comments



 Ren mengatakan itu bukannya tanpa alasan. Tapi dia tahu kalau kisah romantisnya selama ini sama sekali tidak ada. Nol besar. Dan dia sudah membuang jauh-jauh impian masa kecilnya untuk menjadi pengantin.
Pengantin?
Ia sekarang geli jika membayangkan dirinya menikah sekalipun topik ini amat sangat diminati teman-teman seangkatannya. Bukan hanya itu, dari semua angkatan yang ada di kampusnya hanya angkatannya saja yang belum pecah telor. Teman-temannya belum menikah. Tragisnya junior mereka yang setahun di bawah mereka sudah ada yang menikah.

Tragis, itu yang dikatakan Nina saat mereka membahas masalah itu di Twitter, di jaringan sosial yang benar-benar up date!
Rossa tidak perlu menjadi seorang peramal untuk tahu apa yang dialami gadis ini.
“Bukankah itu mimpi semua orang?”
Ren tertawa, “Bagaimana denganmu?”
Tapi Rossa sama sekali tidak tahu kalau Ren ahli dalam hal mengorek dan membalikkan kata-kata.
 “Aku?” Rossa malah bertanya lagi.
“Aku yakin kalau itu juga mimpimu.”
“Oh ya… Memang,” akunya sambil tertawa kecil. “Impian semua orang…” gumamnya.
“Nah, nah. Kenapa?”
Rossa mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan itu dan memaku tatapannya pada tembok yang berisikan impian-impian sang pemilik kamar. Gambar sakura, Jepang, laut, Tokyo Tower, Shinkansen, salju dan tulisan-tulisan kecil itu membuatnya tersenyum.
“Memang, itu mimpi,” gumamnya lagi.
Ren mengikuti tatapannya dan mencoba berpikir.
“Tapi memangnya ada harapan untuk orang sepertiku?” tanyanya pada Ren. “Aku sudah menyerah untuk punya keluarga sendiri, Ren. Aku nggak seperti yang diinginkan seorang pria. Wanita dipilih atas masa lalunya, begitu yang kutahu.”
Ren melihat sorot kesedihan di mata wanita itu. Tapi sedetik kemudian hal itu menghilang.
“Aku nggak tahu kenapa kamu bisa sampai ada di sini. Padahal kuemu enak sekali,” Ren menatap bolu yang ada di tangannya dan memakannya walau tak ada selera.
Rossa tersenyum. “Apa yang bisa kami jual sementara kami butuh uang?”
“Tenaga. Keterampilan… Apa lagi?”
“Aku bukan lulusan manapun. Ginny dan Mint juga begitu. Aku dan Ginny tumbuh di sini dan kami sudah melihat situasi yang sama seumur hidup dan memang begini cara kami hidup,” Rossa terlihat santai mengatakannya. “Apa yang bisa mengubah hidup kami? Kami butuh uang dan kami nggak punya ijazah apapun untuk bekerja. Aku bisa saja kerja kasar tapi penghasilannya nggak seberapa sedangkan di sini setiap hari kami bisa dapat uang banyak.”
“Apa kamu sudah berusaha cari kerja di luar?”
“Tentu saja. Aku pernah jadi pelayan restoran, pernah jadi cleaning service, pernah jadi tukang parkir… Tapi semua itu mengeluarkan banyak tenaga dan penghasilannya nggak seberapa. Sangat kecil dan nggak sebanding dengan apa yang kukeluarkan. Mungkin itu bisa menghidupiku selama lima belas hari pertama, tapi untuk lima belas hari berikutnya nggak ada yang jamin,” urainya. “Lagi pula kalau di sini aku bisa melakukan banyak hal sekalipun kerjanya harus malam. Dan di sini aku punya penghasilan tetap setiap malam. Jika pelanggan banyak aku bisa mendapatkan uang sejuta hanya dalam semalam.”
“Kamu nggak malu?” tanya Ren reflek.
Rossa tertawa, “Ini yang namanya kerja. Semua orang di sini biasa melihat kami begitu. Ini masalah budaya, Ren. Dan kita tahu kalau budaya memang asalnya dari sana, dari pendahulu kita. Lagi pula apa yang bisa kami lakukan selain ini?” ia diam sejenak. “Mungkin aku pandai membuat kue tapi aku benar-benar butuh uang untuk membuat sesuatu yang besar,” katanya.
“Sesuatu yang besar?”
Ia tersenyum. “Pemilik kamar ini, Helsy, mengajari kami untuk bermimpi. Dia bilang kalau setua apapun usiamu kamu masih berhak bermimpi,” katanya. “Awalnya aku bilang masa bodoh dengan itu semua. Tapi dia membuktikannya. Dia tetap sekolah, dia kuliah, dia lebih pintar dari pada kami yang nggak sekolah setinggi itu. Tapi dia akhirnya di DO.”
“Drop Out? Kenapa?”
“Hanya karena dia nggak sanggup membayar uang kuliah. Aku anti pendidikan karena aku tahu untuk mendapatkan ijazah begitu kita butuh uang. Lagi pula apa yang dilakukannya pada Helsy membuatku marah. Gadis itu menangis sejadi-jadinya walau dia terlihat sangat acuh dengan kejadian itu. Dia sangat pintar.”
“Apa dia juga… seperti kalian?” tanya Ren hati-hati.
“Berbeda denganku, dia itu lebih cocok disebut tukang listrik,” Rossa tertawa mengingatnya, “Dia bisa membenarkan mesin-mesin yang rusak, membuat tv rusak menyala lagi atau memasang antena. Dia ahlinya. Dia tahu kalau dia anti profesi kami tapi dia nggak mengeluh. Dia sudah lama hidup di sini dan dia tahu kalau hal ini sudah biasa. Hanya kamu yang menganggap kalau hal ini luar biasa.”
“Yah…” Ren kehilangan kata-kata sejenak. “Mmm… Lalu dia ke Jepang? Kenapa bisa?”
“Waktu itu ada acara pencarian bakat dan pesertanya akan didebutkan di Jepang sebagai penyanyi internasional. Helsy menang dan dia ke Jepang.”
Ren mengangguk paham.
“Dia menunjukkan pada kami semua kalau ini semua, apa yang dia tulis itu, bisa terwujud,” kata Rossa.
“Kalau begitu kamu bisa keluar dari profesi ini semaumu, kan? Kamu menabung?”
Rossa tergelak, “Nggak semudah itu. Aku sudah punya kontrak dan kalau kami nggak patuh sama saja dengan bunuh diri.”
“Apa mimpimu?” Ren bertanya.
Wanita itu menerawang, “Aku ingin punya toko kue sendiri,” lalu ia tertawa, “Parah! Bahkan ovenpun aku nggak mampu beli.”


Andrea datang pukul delapan malam. Ia benar-benar sempurna tanpa stelan konservatif yang membuatnya terlihat lebih tua di kampus. Kesan seorang dosen yang dipanggil ‘Pak’ menguap begitu saja bahkan Ren sudah lupa sama sekali dengan kesan itu.
Andrea membiarkan rambutnya agak berantakan sekarang dan itu mendukung kesempurnaan wajahnya. Ia terlihat seperti pria petualang yang ada di iklan rokok dan Ren hampir tertawan dengan imajinasinya sendiri. Setidaknya Andrea bukan perokok. Kali ini ia menanggalkan jaketnya dan memperlihatkan kulit putihnya berbalut otot-otot tubuhnya yang liat. Bagi wanita nakal ia pasti akan dipanggil sebagai pria seksi. Dan itu memang idaman siapapun juga.
Ren menarik napas dalam-dalam saat pria itu masuk ke kamarnya. Tiba-tiba ruangan itu terasa penuh, sesak, dan panas. Andrea berbeda. Ia tidak terlihat manis tapi menakutkan! Mata hitamnya menghujam tajam dan ia benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat dingin, misterius, dan sempurna.
Ia terlalu tampan!
“Bagaimana?” tanya pria itu saat duduk di pinggir tempat tidurnya.
Ren menatapnya sesaat, mencoba mengembalikan pikirannya ke alam nyata, dan dengan susah payah menjawab, “Aku akan siap lima menit lagi.”
“Nggak. Hari ini kamu libur,” katanya tegas.
 Ren membuka mulutnya, mencoba membantah. Tapi akhirnya ia diam dan berkata, “Maaf. Aku mengacaukan semuanya,” katanya penuh sesal.
Andrea tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya sesaat, “Kamu cuma belum biasa. Nanti juga biasa, kok.”
Ren terpana saat pria itu melakukannya.
“Katanya Rossa buat kue ya?” tanyanya.
Sekarang pikirannya kembali lagi pada malam saat wanita itu merayunya. “Kalian saling kenal ya?”
“Memang,” jawabnya sambil mengendikkan bahunya. “Dia baik, kan?”
Ren mengangguk.
“Dia sangat suka membuat kue tapi hari ini aku nggak kebagian kuenya,” katanya.
Ren tertawa, “Sudah berapa lama kalian kenal?”
Andrea berpikir sejenak, “Mmm… Mungkin dua belas atau lima belas tahun?” ia jelas-jelas lupa.
“Dasar!”
Kali ini dia tertawa, “Pokonya sudah lama, selama aku mengenal Ginny.”
“Dan Helsy?”
Andrea berpikir lagi, “Ya.”
Ren menganggukkan kepalanya. “Jadi intinya kamu sudah kenal daerah ini juga?”
Andrea mengangguk.
“Dan orang-orang ini bukan hanya sekedar teman biasa, kan?” tanya Ren penuh selidik.
“Ya.”
Ren menatapnya, mencari kebenaran yang ada di matanya dan ia mulai merasakan keganjalan itu.
“Katakan padaku, kenapa kamu mengadakan penelitian ini?”
Andrea bingung, “Bukannya sudah kubilang?”
Ren menggeleng. Ia tahu ada sesuatu yang lain dari niat sang dosen kali ini. “Aku merasa seperti dijebak.”
Andrea tersenyum misterius.

You Might Also Like

0 comments: