She #1 - Rain

11:31 AM fe 2 Comments

             Sebenarnya, kemanakah cowok-cowok cakep itu?
Apakah persediaan mereka sudah habis?
Apakah mereka semua sudah berpasangan dengan semua cewek-cewek cantik sehingga tidak ada LAGI cowok tampan yang tersisa?
Sebenarnya jika dipikir-pikir lagi, Serena ini bukan lagi Serena yang dulu. Ia tidak lagi menginginkan cowok-cowok yang biasa. Yang ia inginkan sudah berubah. Ia ingin seorang PRIA yang sering dilihatnya dalam iklan rokok.
Well, ia bukannya senang juga dengan seorang perokok. Hanya saja image yang ditampilkan oleh iklan-iklan tersebut membuatnya merubah tiga pertanyaannya di atas tadi menjadi :
Sebenarnya, kemanakah pria-pria tampan itu?
Apakah persediaan mereka sudah habis?
Apakah mereka semua sudah berpasangan dengan semua wanita-wanita cantik sehingga tidak ada LAGI pria tampan yang tersisa?
Bagi Ren – panggilan dari Serena – yang sudah terbiasa mendengar banyak cerita dari teman-temannya yang galau semenjak SMP dulu ditambah dengan referensi komik-komik yang selalu ia baca – dan komik Ingenuo paling berpengaruh untuk melihat bedanya pria dengan cowok biasa – ia menjadi kritis dalam melihat keinginannya.
“Lu boleh cari cowok sebanyak apapun yang lu mau. Tapi untuk pasangan hidup? Hmm… jangan coba-coba. Visi seorang pria itu sangat amat lebih bagus dari pada seorang boy yang masih rabun dengan tujuan hidupnya. Jadi, carilah pria, bukan cowok biasa!” pesannya takzim pada temannya suatu hari.
Tidak perlu mencurigai Ren yang sudah berkali-kali gagal dalam masa remajanya. Kisah romantisme Ren lebih tragis dari pada teman-temannya yang pernah maupun yang sedang pacaran. Ia memang tidak pernah pacaran, tapi anehnya semua temannya percaya padanya tentang masalah yang satu ini, seolah dia adalah seorang dokter cinta.
Ia sama sekali tak pernah merasakan romantisme apapun dengan nyata. Ia tak punya pacar walau punya teman lelaki. Ia tak pernah merasakan kencan dan hal-hal yang berbau seperti itu.
“Yah, lu mesti bersyukur bisa punya pacar. Lah, gue? Gimana coba?” kata Ren suatu hari pada temannya yang sedang galau karena cowoknya belum sms dia hari ini.
“Tapi Ren, lu itu sangat beruntung,” kata temannya itu.
Ren tertawa. Merasa beruntung bagaimana jika di kelasnya hanya dia sendiri yang tidak pernah merasakan masa pacaran. “Hooo? Gitu? Di mana letak untungnya?”
“Sebenarnya gue iri sama lu. Lu akan dapat pacar yang pertama dan terakhir.”
Jawaban yang sangat mengejutkan itu muncul saat Ren masih kelas tiga SMA dan sedang membolos upacara bendera.
“Terus lu nggak merasa beruntung karena mendapatkannya duluan? Berarti lu yakin kalau suatu saat kalian akan putus.” Tapi Ren tidak mengatakannya.
Tapi benarkah begitu? Apa ia akan mendapatkan cinta pertama dan terakhirnya?
Tapi saat ia melihat dirinya di cermin, yang ia lihat bukanlah sosok menarik yang diidamkan banyak pria.
“Heran. Dari mana gue tahu kalau mereka sukanya yang seperti apa?” tanyanya sendiri.
Wajah oval dengan rambut ikal pendek membingkai wajahnya memang sangat serasi. Ia lumayan tinggi tapi wajahnya tidak secantik teman-temannya. Ia tak cocok memakai gaun dan rok kecuali rok sekolahnya. Di luar itu ia akan membuang jauh-jauh roknya dan memakai celana panjangnya.
Hanya saja, matanya itu… Yah, tatapan matanya bukanlah tatapan mata biasa. Semua orang sangat suka menyalah artikan tatapan matanya yang sedikit agak sipit ini.
“Tatapan mata Kika itu besar, bulet, pokoknya kalau melotot, yah… hahahaha… Lucu jadinya. Kalau mata Day itu ramah. Nah, kalau Ren? Matanya itu tajam seperti iklan kacang itu, lho!” kata Neno suatu hari saat mereka sedang berkumpul.
“Iklan kacang, apaan?” tanya Sherly.
“Itu. Elang! Elang!” serunya setelah ingat.
“Elang? Jurusan Damri, ya?” tanya Day polos.
“Yee… Itu sih nama daerah. Bukan itu! Tatapan matanya setajam durian! Kalau melirik bisa bikin orang salah paham.”
Ren tertawa. “Gue benci durian!” katanya. “Tapi memang, sih, mereka suka salah paham. Padahal gue cuma lirik ke belakang sepintas saja, nggak ada maksud apa-apa, hanya lihat saja. Tapi mereka salah paham duluan. Makanya waktu mentoring dulu gue bilang sama supervisornya kalau tatapan mata gue memang begitu dari dulu. Gue nggak bermaksud apa-apa dengan tatapan itu dan gue nggak sadar kalau itu justru buat orang lain salah paham. Padahal nggak ada maksud apa-apa. Gue kan juga nggak mungkin bawa cermin ke mana-mana buat cek mata sendiri.”
Mereka tertawa.
Jadi, apapun itu, Ren berharap kalau orang yang menyukainya kelak takkan salah arti dengan tatapan matanya. Ia tersenyum memandang ke cerminnya sebelum akhirnya ia terdiam lagi.
Benarkah ada yang bisa menerima kelemahannya yang lain?

You Might Also Like

2 komentar:

  1. aduh aduh sepertinya saya kenal dengan "Ren" ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya? beliau kan yang ada di cerita... hehehe

      Hapus