She #16 - Rain
Setelah beberapa kali berhenti untuk
makan atau beli camilan atau mengisi bensin, akhirnya mereka sampai di daerah
tujuan.
Kampung ini memang kecil. Rumahnya
berderet, berimpitan satu sama lain dan menghadap ke laut yang tenang. Semua
rumah rata-rata berlantai dua dan dihiasi dengan papan-papan nama. Papan nama
itu menunjukkan bar, motel, hingga warung makan. Warganya terlihat biasa saja.
Mereka semua duduk di luar rumah, berbicara, bergosip, jajan, makan, dan bahkan
ada anak-anak kecil yang saling kejar-kejaran memotong laju mobil kami yang
pelan. Ada yang bermain sepeda, mencoba menerbangkan layangannya, bahkan
berteriak.
Semuanya tampak benar-benar normal saat
Ren menatap kesana kemari.
“Pernah nonton Sprited Away?” tanya Andrea pada Ren yang masih terpesona dengan
kenormalan lokasi itu.
“Ya,” ia teringat dengan salah satu film
anime yang bersettingkan kota hantu itu dan seorang anak perempuan manja yang
harus bekerja demi menyelamatkan orang tuanya.
“Ini juga sama seperti itu,” kata
Andrea. “Siangnya sangat normal, tapi malamnya sangat mengerikan.”
Ren bergidik. Ia tidak bisa membayangkan
apa yang ia pikirkan sampai mau-maunya mengikuti penelitian ini. Tapi ia tidak
mau mundur. Ia sudah terlanjur di sini.
“Jadi kita mau ke mana?” tanya Ren.
“Maksudku, apa kita akan langsung ke tempat temanmu itu?”
Andrea mengangguk, “Nah! Sampai,”
mobilpun berhenti.
Mereka berdua turun. Bau laut tercium oleh
Ren dan ia langsung merasa gerah karena udara langsung berubah drastis saat
turun dari mobil. Ia mengipasi dirinya sementara Andrea langsung berjalan ke
sisinya.
“Nanti kita akan lebih banyak di sini,”
kata Andrea lagi saat melihat satu bangunan luas berlantai dua bernama Pit Stop, tempat sarang maksiat, pemilik
perusahaan hitam milik teman Andrea. “Namanya Ferry, usianya sekitar tiga puluh
lima tahun dan sudah hampir tujuh tahun mengelola ini.”
Ren mengerutkan hidungnya tanda tidak
suka. “Dia punya masa depan lebih cerah lagi kalau mau berpikir,” gumamnya
jengkel dan pelan karena takut ketahuan.
“Memang, hanya jika dia mau,” komentar
Andrea sambil berjalan duluan ke pintunya bar itu lalu mengetuknya beberapa
kali.
Tidak ada jawaban awalnya. Saat Andrea
mengepalkan tangannya dan kali ini menguatkan ketukannya persis seperti petugas
Brimob menciduk pedagang kaki lima yang sembunyi entah di mana, pintu akhirnya
terbuka.
“BISA TUNGGU SEBENTAR, TIDAK?” teriaknya
tepat di muka dosen malang itu.
Ren menelan ludahnya, kaget melihat seorang
pria gemuk berkepala botak dengan kumis lebat dan sangar langsung menghardik
dengan suara besar dan sangar. Ren tidak suka matanya, kecil tapi sekarang
sedang melotot seperti bola pimpong.
“Ah! Andrea Jason?” tiba-tiba suaranya
melunak lembut saat melihat siapa tamunya.
“Apa kabar?” tanya Andrea sambil mundur
beberapa langkah agar bisa melihat pria itu lebih baik. “Sepertinya sedang
sibuk ya?”
Ren memperhatikan bajunya yang tak
dikancing dan meringis jijik. Ia bisa menerka apa yang dilakukan orang itu
siang bolong begini.
Ferry segera mengancingkan bajunya, “Apa
yang kau pikirkan, kawan?” ia menyeringai nakal dan Ren ingin muntah!
Andrea tertawa tanpa suara dan segera berbalik
memanggil Ren yang sedang mencoba menenangkan diri. Ren langsung berdiri di
samping Andrea, dekat dengannya, dan hampir meraih tangannya agar tidak kabur.
“Hooo… Jadi dia yang kamu bilang itu?”
tanya Ferry saat meneliti wajah Ren dengan seksama. “Lumayan juga…”
“Dia tamu,” potong Andrea dingin.
Tapi dasar pebisnis prostitusi, ia justru
tidak menanggapi peringatan itu. Matanya malah menelusuri tubuh Ren dari atas
ke bawah lalu ke atas lagi dan manggut-manggut saat ia tahu di mana letak daya
jual gadis itu.
“Ferry!” Andrea memanggilnya keras
sekarang.
“Oh, Maaf! Ini kebiasaan, yah…” tapi ia
segera berhenti begitu menatap mata Andrea yang dingin memakunya.
Ren juga tercekat. Baru kali ini ia
melihat dosennya yang lembut, sabar, dan ramah itu berubah drastis menjadi
seorang pria sangar, dingin, menakutkan yang bahkan tatapan matanya bisa
membuat sebongkah es mencair.
Di dalam mata itu Ren melihat kemarahan
yang selama ini belum pernah dilihatnya dan ia tahu kalau rahang sang dosen
mengencang dan mengeras. Seorang
malaikat telah berubah jadi iblis dan Ren rasanya mau pingsan karena jika pria
ini terlihat lembut dan manis saat menjadi malaikat maka sekarang dia terlihat
sangar, kuat, dan amat sangat tampan dengan karakter seorang bad boy yang sebenarnya!
Oh! Ren mau pingsan!
“Oke, Andrea. Tentu saja kamu dan tamumu
aman di sini. Aku nggak akan menjualnya meskipun aku tahu di mana letak daya
tariknya,” ia tersenyum nakal sekarang sebelum sedetik kemudian senyumnya lenyap.
“Ayolah… Aku benar-benar minta maaf dan aku akan menjaganya sebagai tamuku,
oke?” ia sekarang benar-benar serius dan panik.
Setelah beberapa detik memaku tatapan
marahnya pada pria itu akhirnya Andrea mengangguk kaku dan pria itu senang
bukan main.
“Nah, gitu dong… Ayo masuk, masuk,”
ajaknya ramah sambil menyingkir dari pintu.
Ren masuk duluan dan dibelakangnya dosen
itu berderap seperti seorang penguasa yang bisa menghanguskan gedung ini hanya
dalam sedetik. Ia sadar kalau rasa tegang itu timbul gara-gara ada bom waktu
yang bernama lengkap tak seindah wajahnya itu, Andrea Jason, berada di
belakangnya.
Untuk mengabaikan itu semua akhirnya ia melemparkan
pandangannya ke seisi ruangan.

0 comments: