She #17 - Rain
Dinamai Pit Stop karena sang pemilik adalah penggila F1 sejati. Dia sangat
suka dengan sirkuit Valencia dan Singapura, ia kolektor mobil mini mainan F1
dan penggemar berat Michael Sumacher.
Pit
Stop itu lebar dan luas. Ia memiliki dua
lantai. Lantai dua digunakan untuk menjamu “tamu”. Tentu saja tamu yang
dimaksud di sini adalah pria-pria hidung belang yang kesepian. Kata Ferry
totalnya ada tujuh kamar kecil-kecil ukuran 2X2 dengan kasur dan cermin
seadanya. Itu saja sudah cukup. Lalu di bawah ada meja-meja makan kecil, bar,
lantai dansa, dan panggung lengkap dengan polar
dance-nya.
“Semua orang sangat menyukai
tarian-tarian itu di sini,” kata Ferry.
Ren merasa mual. Tapi sebenarnya dia
sudah tahu itu melalui bacaan-bacaan aneh yang dijejalkan ke otaknya oleh
seorang temannya yang aneh, Dani. Tapi melihat kenyataan itu sendiri tetap saja
membuatnya mual. Satu hal yang membuatnya mampu bertahan adalah karena dia tahu
kalau meja bar yang panjang dan elegan itu berada jauh dari lokasi panggung.
Meja bar itu berposisi menyampingi denah
panggung dan langsung menghadap ke pintu masuk. Ia takkan tertarik melihat aksi
orisinil aneh di depan matanya karena ia muak melihat itu di satu video klip
metalica tanpa sensor.
“Bagaimana? Ini semua hasil dari bisnisku,”
kata Ferry saat mereka duduk di sofa tamu yang bersih dan elegan dengan warna cokelat
pastel. “Andrea sangat tahu seperti apa aku membanting tulang begini. Ia salah
satu teman baikku yang sangat aku sayangi.”
Yang dipuji sekarang sudah tidak semarah
tadi. Tapi itu bukan karena pujiannya melainkan karena Ferry memperlakukan Ren
secara santai dan menyenangkan dalam tur rumah bisnisnya kali ini.
“Aku
membangun ini semua dari nol dan memberikan pekerjaan kepada hampir separuh
penganggur di kampung ini,” ia menyombongkan diri. “Kebanyakan dari kami adalah
orang-orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan sementara kami butuh uang.
Uang adalah segalanya, segalanya untuk membeli obat, segalanya untuk membeli
makan, dan segalanya di atas segalanya. Tanpa uang kita nggak akan bisa hidup,”
ia meracau.
Di satu sisi Ren bersyukur masih bisa
kuliah walau sistem pendidikan masih merupakan hal mistis yang belum bisa ia
rubuhkan dengan pandangannya. Tapi di sini realita berkata lain. Apa yang
dipikirkan orang-orang itu sehingga tidak bisa berpikir kalau ini adalah jalan terlaknat di dunia?
“Ah! Aku belum tahu namamu,” Ferry
tiba-tiba membelokkan topiknya secara drastis. “Apa kamu yang bernama Serena
itu?”
“Ya,” jawab Ren setelah lama tidak
berbicara.
“Kamu tahu, Ren, ini realita. Kamu
berada di sini bukan sebagai seorang anak kampus yang duduk di kursi, tapi
sekarang kamu akan hidup di sini menjadi bagian dari kami. Apa kamu siap dengan
hal ini?” tanyanya kuatir.
Ren terkejut karena sekarang kesan pria
kurang ajar menguap dari tubuh pria gemuk itu.
“Ya,” dan dia menambahkan dalam hati
kalau dia penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.
Ferry mengangguk paham dan ia tahu kalau
Andrea bukanlah pria yang asal pilih asisten.
“Aku akan memperkenalkanmu dengan dua
orang lainnya. Mereka akan membantumu.”
Ginny sangat menyenangkan.
Mereka memanggilnya Ginny karena wanita
itu sangat cantik, seksi, memikat, dan sangat hebat merayu dengan suaranya yang
merdu dan indah. Itu kesan pertama yang Ren tangkap saat mereka bertiga sampai
di rumah Ginny yang berada di lantai dua.
“Jadi dia yang akan tinggal denganku?”
tanya Ginny senang dengan mata berbinar saat menatap Ren yang hampir sama
tinggi dengannya. “Dia sangat cantik!” akunya saat menilai gadis itu.
Ren heran. Ia tidak tahu di mana letak
kecantikannya tapi ia tahu kalau wanita itu tidak berbohong.
“Aku kesal kalau mereka memanggilmu Ren.
Apa benar itu panggilanmu? Padahal namamu manis sekali,” akunya.
Ren tertawa, “Keluargaku memanggilku
Rena, singkatan dari Serena. Tapi semua temanku memanggilku Ren… Yah, terjadi
begitu saja,” jawab Ren hangat.
Ia yakin kalau ia dan Ginny akan
berteman baik.
Jarak usia Ren dan Ginny agak jauh juga,
sekitar enam tahun. Ginny memiliki mata cokelat pekat yang menarik, bibirnya
tipis, hidungnya agak mancung, tulang pipinya tinggi, dan rambut panjang hitam
yang sedikit bergelombang. Jika ia tersenyum matanya penuh binar dan ada lesung
pipi di pipinya.
Ia pasti bukan PSK seperti yang dibilang
Andrea tadi. Sayangnya memang itu kenyataannya. Seharusnya Ginny berada di
televisi menjadi artis, penyanyi, atau model karena tinggi tubuhnya yang
semampai itu sangat mendukung. Ren mendapati dirinya harus sedikit mendongak
jika bicara dengannya. Dia dipanggil Ginny hanya karena dia memiliki pesona
yang menyihir kaum pria. Dan harganya sangat mahal karena dia juga adalah Host dari Pit Stop milik Ferry.
“Kamu pasti menyadari kecantikannya,
kan?” tanyanya pada Andrea sekarang.
Andrea tidak mengacuhkannya dan Ginny
tertawa.
“Dari dulu dia memang menyebalkan,”
katanya pada Ren.
“Dari dulu?”
“Dari dulu,” ia menggangguk membenarkan.
“Andrea itu pahlawan seperti pahlawan kebajikan, tidak suka merokok, bertutur
kata sopan, suka tersenyum dan sebagainya…” Ginny tertawa seolah-olah ada hal
lucu yang mengganggunya. “Tapi semua orang tidak tahu kalau tinjunya segarang
macan!”
“Ginny!” tegur Andrea.
“Kemari, sayang. Akan kutunjukkan
kamarmu,” Ginny buru-buru berdiri dan tidak menghiraukan teguran tadi.
Ren bingung dan mengambil kesimpulan
kalau mereka bertiga sudah berteman akrab dan lama.
Ginny membuka pintu dan memperlihatkan
kamar kecil yang sangat rapi dan bersih. Cat bewarna putih di kamar itu
memantulkan warna biru samar yang teduh dan terang. Baunya harum karena sudah
disemprot dengan pewangi ruangan. Di satu dindingnya ditempeli tulisan-tulisan
motivasi, impian, cita-cita, foto-foto negeri Sakura, dan juga foto Ginny
dengan seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya.
Di atas meja juga ada bingkai foto gadis
itu dengan Ginny. Ada kamus bahasa Jepang, buku-buku novel, komik orisinil
bahasa Jepang, catatan, dan block note.
Meja belajar itu sederhana dan dilapisi kain kotak-kotak warna merah yang sudah
agak memudar. Dindingnya di tempeli poster-poster anime, dimulai dari Card
Captor Sakura, X, Fushigi Yuugi, dan Yu-Gi-Oh!
Baginya itu adalah perpaduan yang aneh.
“Ini kamar Helsy,” kata Ginny saat melihat
Ren memperhatikan poster di dinding. “Dia itu penggemar berat Jepang. Dia
sempat kuliah bahasa Jepang dan sekarang dia ada di Jepang. Dia juga suka anime
dan empat itu adalah anime favoritnya.”
“Oh…” hanya itu komentar yang keluar
dari mulut Ren.
“Nggak apa-apa kan kalau kamu tidur di
sini?”
“Ah, ya! Tentu saja. Aku juga suka anime,”
katanya sambil menatap poster itu lagi, “Jadi dia suka macam-macam anime ya?”
“Begitulah.”
Ren mengangguk paham dan tepat pada saat
itu pintu diketok seseorang.
“Barangnya disimpan di mana?” tanya
Andrea sambil menunjuk koper Ren. Di belakangnya Ferry membantunya mengangkat
tas jinjingnya.
Ren buru-buru menyambar
barang-barangnya, “Ya ampun! Maaf ya, aku lupa!”
Andrea tersenyum, “Barangmu banyak juga.
Memangnya bawa apa saja?”
“Rahasia,” katanya. Ia takkan mau
mengaku kalau di dalamnya ada banyak cemilan yang sengaja ia borong dari kotak makanan
cadangannya ke sini.
Ren menyeret kopernya dan menemukan satu
lemari kecil di sana.
“Isinya sudah ku kosongkan,” kata Ginny,
“Jadi barangmu bisa di sana.”
“Maaf ya, merepotkan.”
“Nggak apa. Aku senang kok, apalagi
Helsy nggak di sini selama berbulan-bulan, jadi aku nggak punya teman. Terus…”
ia melirik pada Andrea, “Aku senang karena sekarang Andrea di sini lagi.”
Ren memiringkan kepalanya tanda heran.
“Lagi?”
“Jangan dipikirkan,” kata Andrea. “Aku
akan tinggal di sebelah rumah ini dengannya,” ia menunjuk Ferry yang berdiri di
luar kamar, “Kita akan bertemu nanti malam. Sekarang kamu istirahat saja,”
katanya seirus.
Ren kesal karena lagi-lagi rasa ingin
tahunya diputus begitu saja.
“Ah, ah,” Ginny menggeleng-gelengkan
kepalanya dengan heran, “Sejak kapan kamu jadi sangat menyebalkan, Manis?”
tanyanya pada Andrea.

0 comments: