She #17 - Rain

12:04 PM fe 0 Comments



Dinamai Pit Stop karena sang pemilik adalah penggila F1 sejati. Dia sangat suka dengan sirkuit Valencia dan Singapura, ia kolektor mobil mini mainan F1 dan penggemar berat Michael Sumacher.
Pit Stop itu lebar dan luas. Ia memiliki dua lantai. Lantai dua digunakan untuk menjamu “tamu”. Tentu saja tamu yang dimaksud di sini adalah pria-pria hidung belang yang kesepian. Kata Ferry totalnya ada tujuh kamar kecil-kecil ukuran 2X2 dengan kasur dan cermin seadanya. Itu saja sudah cukup. Lalu di bawah ada meja-meja makan kecil, bar, lantai dansa, dan panggung lengkap dengan polar dance-nya.
“Semua orang sangat menyukai tarian-tarian itu di sini,” kata Ferry.
Ren merasa mual. Tapi sebenarnya dia sudah tahu itu melalui bacaan-bacaan aneh yang dijejalkan ke otaknya oleh seorang temannya yang aneh, Dani. Tapi melihat kenyataan itu sendiri tetap saja membuatnya mual. Satu hal yang membuatnya mampu bertahan adalah karena dia tahu kalau meja bar yang panjang dan elegan itu berada jauh dari lokasi panggung.

Meja bar itu berposisi menyampingi denah panggung dan langsung menghadap ke pintu masuk. Ia takkan tertarik melihat aksi orisinil aneh di depan matanya karena ia muak melihat itu di satu video klip metalica tanpa sensor.
“Bagaimana? Ini semua hasil dari bisnisku,” kata Ferry saat mereka duduk di sofa tamu yang bersih dan elegan dengan warna cokelat pastel. “Andrea sangat tahu seperti apa aku membanting tulang begini. Ia salah satu teman baikku yang sangat aku sayangi.”
Yang dipuji sekarang sudah tidak semarah tadi. Tapi itu bukan karena pujiannya melainkan karena Ferry memperlakukan Ren secara santai dan menyenangkan dalam tur rumah bisnisnya kali ini.  
 “Aku membangun ini semua dari nol dan memberikan pekerjaan kepada hampir separuh penganggur di kampung ini,” ia menyombongkan diri. “Kebanyakan dari kami adalah orang-orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan sementara kami butuh uang. Uang adalah segalanya, segalanya untuk membeli obat, segalanya untuk membeli makan, dan segalanya di atas segalanya. Tanpa uang kita nggak akan bisa hidup,” ia meracau.
Di satu sisi Ren bersyukur masih bisa kuliah walau sistem pendidikan masih merupakan hal mistis yang belum bisa ia rubuhkan dengan pandangannya. Tapi di sini realita berkata lain. Apa yang dipikirkan orang-orang itu sehingga tidak bisa berpikir kalau ini adalah jalan terlaknat di dunia?
“Ah! Aku belum tahu namamu,” Ferry tiba-tiba membelokkan topiknya secara drastis. “Apa kamu yang bernama Serena itu?”
“Ya,” jawab Ren setelah lama tidak berbicara.
“Kamu tahu, Ren, ini realita. Kamu berada di sini bukan sebagai seorang anak kampus yang duduk di kursi, tapi sekarang kamu akan hidup di sini menjadi bagian dari kami. Apa kamu siap dengan hal ini?” tanyanya kuatir.
Ren terkejut karena sekarang kesan pria kurang ajar menguap dari tubuh pria gemuk itu.
“Ya,” dan dia menambahkan dalam hati kalau dia penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.
Ferry mengangguk paham dan ia tahu kalau Andrea bukanlah pria yang asal pilih asisten.
“Aku akan memperkenalkanmu dengan dua orang lainnya. Mereka akan membantumu.”


Ginny sangat menyenangkan.
Mereka memanggilnya Ginny karena wanita itu sangat cantik, seksi, memikat, dan sangat hebat merayu dengan suaranya yang merdu dan indah. Itu kesan pertama yang Ren tangkap saat mereka bertiga sampai di rumah Ginny yang berada di lantai dua.
“Jadi dia yang akan tinggal denganku?” tanya Ginny senang dengan mata berbinar saat menatap Ren yang hampir sama tinggi dengannya. “Dia sangat cantik!” akunya saat menilai gadis itu.
Ren heran. Ia tidak tahu di mana letak kecantikannya tapi ia tahu kalau wanita itu tidak berbohong.
“Aku kesal kalau mereka memanggilmu Ren. Apa benar itu panggilanmu? Padahal namamu manis sekali,” akunya.
Ren tertawa, “Keluargaku memanggilku Rena, singkatan dari Serena. Tapi semua temanku memanggilku Ren… Yah, terjadi begitu saja,” jawab Ren hangat.
Ia yakin kalau ia dan Ginny akan berteman baik.
Jarak usia Ren dan Ginny agak jauh juga, sekitar enam tahun. Ginny memiliki mata cokelat pekat yang menarik, bibirnya tipis, hidungnya agak mancung, tulang pipinya tinggi, dan rambut panjang hitam yang sedikit bergelombang. Jika ia tersenyum matanya penuh binar dan ada lesung pipi di pipinya.
Ia pasti bukan PSK seperti yang dibilang Andrea tadi. Sayangnya memang itu kenyataannya. Seharusnya Ginny berada di televisi menjadi artis, penyanyi, atau model karena tinggi tubuhnya yang semampai itu sangat mendukung. Ren mendapati dirinya harus sedikit mendongak jika bicara dengannya. Dia dipanggil Ginny hanya karena dia memiliki pesona yang menyihir kaum pria. Dan harganya sangat mahal karena dia juga adalah Host dari Pit Stop milik Ferry.
“Kamu pasti menyadari kecantikannya, kan?” tanyanya pada Andrea sekarang.
Andrea tidak mengacuhkannya dan Ginny tertawa.
“Dari dulu dia memang menyebalkan,” katanya pada Ren.
“Dari dulu?”
“Dari dulu,” ia menggangguk membenarkan. “Andrea itu pahlawan seperti pahlawan kebajikan, tidak suka merokok, bertutur kata sopan, suka tersenyum dan sebagainya…” Ginny tertawa seolah-olah ada hal lucu yang mengganggunya. “Tapi semua orang tidak tahu kalau tinjunya segarang macan!”
“Ginny!” tegur Andrea.
“Kemari, sayang. Akan kutunjukkan kamarmu,” Ginny buru-buru berdiri dan tidak menghiraukan teguran tadi.
Ren bingung dan mengambil kesimpulan kalau mereka bertiga sudah berteman akrab dan lama.
Ginny membuka pintu dan memperlihatkan kamar kecil yang sangat rapi dan bersih. Cat bewarna putih di kamar itu memantulkan warna biru samar yang teduh dan terang. Baunya harum karena sudah disemprot dengan pewangi ruangan. Di satu dindingnya ditempeli tulisan-tulisan motivasi, impian, cita-cita, foto-foto negeri Sakura, dan juga foto Ginny dengan seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya.
Di atas meja juga ada bingkai foto gadis itu dengan Ginny. Ada kamus bahasa Jepang, buku-buku novel, komik orisinil bahasa Jepang, catatan, dan block note. Meja belajar itu sederhana dan dilapisi kain kotak-kotak warna merah yang sudah agak memudar. Dindingnya di tempeli poster-poster anime, dimulai dari Card Captor Sakura, X, Fushigi Yuugi, dan Yu-Gi-Oh!
Baginya itu adalah perpaduan yang aneh.
“Ini kamar Helsy,” kata Ginny saat melihat Ren memperhatikan poster di dinding. “Dia itu penggemar berat Jepang. Dia sempat kuliah bahasa Jepang dan sekarang dia ada di Jepang. Dia juga suka anime dan empat itu adalah anime favoritnya.”
“Oh…” hanya itu komentar yang keluar dari mulut Ren.
“Nggak apa-apa kan kalau kamu tidur di sini?”
“Ah, ya! Tentu saja. Aku juga suka anime,” katanya sambil menatap poster itu lagi, “Jadi dia suka macam-macam anime ya?”
“Begitulah.”
Ren mengangguk paham dan tepat pada saat itu pintu diketok seseorang.
“Barangnya disimpan di mana?” tanya Andrea sambil menunjuk koper Ren. Di belakangnya Ferry membantunya mengangkat tas jinjingnya.
Ren buru-buru menyambar barang-barangnya, “Ya ampun! Maaf ya, aku lupa!”
Andrea tersenyum, “Barangmu banyak juga. Memangnya bawa apa saja?”
“Rahasia,” katanya. Ia takkan mau mengaku kalau di dalamnya ada banyak cemilan yang sengaja ia borong dari kotak makanan cadangannya ke sini.
Ren menyeret kopernya dan menemukan satu lemari kecil di sana.
“Isinya sudah ku kosongkan,” kata Ginny, “Jadi barangmu bisa di sana.”
“Maaf ya, merepotkan.”
“Nggak apa. Aku senang kok, apalagi Helsy nggak di sini selama berbulan-bulan, jadi aku nggak punya teman. Terus…” ia melirik pada Andrea, “Aku senang karena sekarang Andrea di sini lagi.”
Ren memiringkan kepalanya tanda heran. “Lagi?”
“Jangan dipikirkan,” kata Andrea. “Aku akan tinggal di sebelah rumah ini dengannya,” ia menunjuk Ferry yang berdiri di luar kamar, “Kita akan bertemu nanti malam. Sekarang kamu istirahat saja,” katanya seirus.
Ren kesal karena lagi-lagi rasa ingin tahunya diputus begitu saja.
“Ah, ah,” Ginny menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran, “Sejak kapan kamu jadi sangat menyebalkan, Manis?” tanyanya pada Andrea.

You Might Also Like

0 comments: