She #14 - Rain
Senin pagi yang mendung itu membakar
semangat Serena untuk memulai harinya. Ia sudah memasukkan semua baju dan
perlengkapan lainnya ke dalam koper. Ia juga menjinjing satu tas jinjing berisi
camilan yang dibawa Sherly saat itu dan juga membuka satu bungkus kacang telor
sebagai makan paginya.
Ia buru-buru.
Semalam Andrea – akhirnya dia sudah
biasa memakai nama itu – meneleponnya dan memastikan kalau Ren sudah siap
dengan semua perlengkapannya.
“Kita akan berangkat jam setengah enam
pagi,” umumnya di telepon, “Dan kupastikan kalau aku tepat waktu.”
Penting bagi Andrea untuk mengatakan
kalau dia pasti akan tepat waktu. Tabiat gadis itu memang keras menyangkut
masalah ini. Ia tidak tahu mengapa hanya saja ia tidak bisa main-main dengan
masalah ini. Ia harus ingat kalau gadis ini unik, berbeda, dan keras kepala. Ia
juga tidak mau mendapat kabar kalau Ren tiba-tiba mengundurkan diri. Itu adalah
kabar buruk.
Ren menyeret kopernya. Ia bersemangat
meninggalkan gedung kosannya yang sepi dan sudah mengirim sms pada Sherly kalau
dia sudah berangkat duluan dan tidak perlu diantar. Lagi pula siapa yang akan
mengantarnya. Di hari liburan pertama ini Sherly akan memuaskan hasratnya untuk
tidur sepuas-puasnya.
Ia sampai di pinggir jalan tepat seperti
yang dijanjikan dan tepat saat itu juga sebuah mobil Mitsubishi elegan berhenti
di depannya. Seseorang bergegas turun dan langsung menghampirinya.
“Hei,” sapa Andrea padanya. “Saya nggak
telat, kan?”
Ren tersenyum sambil mengangguk takjub,
“Apa filosofimu pada waktu sudah berubah, Pak?”
“Sst!” ia memperingatkan, “Andrea.”
Ren merasa tidak nyaman memanggil pria
itu dengan namanya kendati dia masih terlalu muda untuk jadi seorang dosen.
“Kamu harus biasa memanggilku Andrea,
dan sekarang…” ia mengambil koper Ren, “…status kita bukan dosen dan mahasiswa.
Paham?”
Ren mencernanya sejenak sebelum
mengangguk. Pria itu membuka pintu bagasinya dan meletakkan barang-barang Ren
di sana.
Ren memperhatikannya sejenak. Penampilan
pria itu berbeda. Ia sama sekali tidak berpakaian formal. Sebaliknya dia
memakai baju kaos abu-abu, celana jeans, sepatu sport tali, jam tangan, dan jaket
hitam karena udara memang sangat dingin pagi ini.
Mereka berdua langsung masuk ke mobil
dan Andrea langsung melajukannya.
“Perjalanan kita akan lama, jadi kalau
mau tidur, tidur saja,” sarannya pada Ren.
Tapi walau ia sangat ingin melakukan
saran itu, ia tak bisa membiarkan pria itu mengemudi sendirian.
“Kita ke mana?” tanya Ren.
“Ke sebuah desa yang komunitas
prostitusinya bagus,” jawab Andrea. “Di sana penduduknya bekerja pada malam
hari. Siangnya tempat itu terlihat sangat normal, nggak berbeda dengan
desa-desa lainnya. Tapi kalau malam semuanya berubah drastis. Letaknya di
pinggir Jakarta, dekat dengan laut, kamu pasti suka.”
Ren berpikir sejenak, “Seperti rookery,” katanya lalu tertawa.
“Ya,” sahut Andrea membenarkan. Ia tahu rookery. “Tapi di sini tidak sekompleks
itu juga.”
“Oh ya, Pak? Saya pikir sekompleks itu…”
“Andrea. Jangan pakai Pak,” ingatnya
lagi.
“Bagaimana saya bisa mengatakannya kalau
anda dosen saya?” protes Ren.
“Kita nggak sedang di kelas dan juga
umur kita nggak berjarak sampai sepuluh tahun,” akunya santai.
Ren terperangah saat mencerna informasi
itu. “Oh ya?” tanyanya hati-hati.
“Ya…”
“Berapa umurmu?” tanya Ren lagi.
Andrea tersenyum misterius, “Baca saja
wajahku.”
Ren bersandar kesal, “Mana mungkin. Itu
kelemahanku.”
“Kalau begitu kamu nggak akan tahu.”
“Karena aku bertanya.”
“Dan aku nggak mau jawab.”
Ren menyipit curiga sekarang, “Jangan
bilang usiamu baru dua puluh lima tahun? Atau lebih parahnya dua puluh dua tahun.”
Andrea tertawa puas sekarang, “Artinya
aku benar-benar sangat muda. Lebih baik jangan tanya atau kamu akan menyesal.
Nah…”
“Atau sebenarnya wajahmu saja yang muda
tapi usia aslinya sudah tiga puluh tujuh tahun,” Ren masih curiga.
“Terserahmu saja. Tapi aku jujur,
rentang umur kita nggak jauh.”
“Dan kamu sudah jadi dosen.”
“Nggak mengejutkan bagi orang yang
selalu loncat kelas.”
Ren jengkel. Ia selalu tidak menyukai
orang-orang yang harus loncat kelas sebelum waktunya. “Terserah.”
“Nah!”
“Apa?”
“Sekarang kita bisa bicara seperti itu,
kan? Jangan memakai ‘saya’ dan ‘anda’. Aku senang kamu cepat belajar.”
Dan Ren baru menyadarinya. Ah! Ini sama
sekali bukan dirinya. Berbicara dengan Andrea itu sangat nyaman dan
menyenangkan. Pria itu terlihat sabar dan sangat manis. Ia sama sekali tidak
merasa bersama dosennya tapi justru sebaliknya, ia merasa bersama seseorang
yang sudah lama bersamanya. Dan ia sangat amat tidak nyaman jika pria itu diam.
Detak jantungnya berbunyi nyaring,
keras, dan jelas. Ini sangat mengganggu. Jadi, demi menyelamatkan jiwanya dan
juga sebagai penganut aliran kanan yang taat – yang artinya ia yakin kalau pria
itu sudah beristri dan tadi ia hanya menggodanya saja – maka ia berdeham dan
mengalihkan pembicaraan.
“Jadi kita akan ke rookery ala Indonesia?” tanya Ren lagi.
“Oh ya, kita akan ke sana dalam beberapa
jam yang lama.”
Pagi masih menggantung di langit saat
mereka berbelok menuju arah tol.
“Keberatan nggak kalau aku buka
jendelanya?” tanya Ren yang tiba-tiba merasa gerah.
“Oh, oke,” ia setuju dan mematikan AC
yang dari tadi menyala.
“Thanks.”
Ren menurunkan kaca jendelanya dan
seketika itu juga laju angin dingin yang murni langsung menyerbu masuk ke
mobil. Rambutnya seketika berantakan di sapu angin dan Ren memejamkan matanya
menyambut euforia itu. Ia menghirup dalam-dalam bau udara pagi yang segar dan
juga bau bekas hujan pagi buta tadi. Langit menunjukkan warna jingga yang
mempesona tanda matahari sudah terbit di timur untuk menyapa dunia.
Rasanya sangat segar, sungguh. Dan ia
sama sekali lupa kalau di sampingnya, Andrea Jason yang belum terlihat watak
aslinya itu, sedang tersenyum melihatnya.
Bagaimana gadis itu memiliki penampilan
dan sikap tidak peduli yang nyaris sama dengan lelaki bisa jadi secantik itu
jika berada dekat dengan angin?
Andrea menggelengkan kepalanya. Ia tahu
kalau mahasiswi-nya yang satu ini adalah perempuan yang tidak terduga. Ia bagai
bom waktu yang bisa meledak dan cerewet disaat bersamaan. Tapi jika ia
memutuskan bersikap dingin maka pria itu akan gamang.
“Apa kamu pernah ke rookery sebelumnya?” tanya Andrea tiba-tiba.
Ren membuka matanya. “Aku hanya tahu.
Aku belum pernah ke Inggris dan melihat yang seperti itu,” katanya.
“Tapi kamu tahu itu.”
“Ya.”
“Dari novel yang kamu baca?” terka
Andrea.
Kali ini Ren merasa agak sedikit malu,
“Ya,” tapi suaranya terdengar mantap saat menjawab.
“Rookery
memang buruk, tempat segala jenis kejahatan berkumpul,” kata Andrea.
“Memang. Kudengar segala macam hal
seperti judi, prostitusi, pencuri, dan segala jenis kriminal berkumpul di
situ,” Ren menyambung.
“Tapi bagaimanapun juga mereka
menggantungkan nasib hidup mereka di situ. Bukannya karena mereka nggak bisa
memilih pekerjaan lain, tapi mereka nggak bisa memilih pilihan lain. Itu dunia
nyata, berbeda dengan bangku kuliah dan buku,” kata Andrea.
“Aku nggak tahu apa yang mereka pikirkan
sampai-sampai mau berpikir untuk bekerja kasar begitu…”
“Memang,” potong Andrea. “Kita dilarang
untuk melakukan dugaan awal tanpa melihat kondisi nyatanya. Jika kamu sudah ada
di sana, tugas ini jadi sangat menyenangkan,” janjinya. “Aku sudah menghubungi
temanku di sana dan kita bisa tinggal selama dua bulan penuh. Sayangnya kita
harus tinggal terpisah.”
“Apa?” Ren kaget bukan kepalang.
Ini ide buruk!
“Tenang, ini nggak seburuk itu,” katanya
meyakinkanku. “Kita akan jadi tetangga dan itu nggak buruk, kan? Rumah kita
hanya dibatasi pagar, nggak lebih. Nah, kamu akan tinggal di rumah Ginny, dia
teman dari temanku itu. Dia sangat ramah dan tahu kalau kita adalah seorang
peneliti yang sedang menyamar. Selain itu dia juga sedang tinggal sendiri
karena keluarganya yang bernama Helsy sedang ke Jepang.”
“Jepang?”
“Yah… Sudah dua minggu dia pergi dan itu
artinya kamu punya kamar sendiri.”
“Boleh tahu apa profesinya?” tanya Ren.
“PSK,” jawab Andrea.
“Oh.”
“Dan kamu mendapatkan pekerjaanmu,
sebagai bartender. Memangnya kamu
pernah jadi itu sebelumnya?”
Ren menggeleng miris, “Belum.”
“Kalau kamu mau, kamu bisa jadi pelayan.
Tapi aku nggak menyarankan itu karena kamu kerja di sarang macan.”
Ren diam. Ia juga kuatir dengan masalah
itu.
“Jadi kuputuskan untuk menempatkanmu di
bagian dapur.”
“Apa? Bukannya itu lebih sulit lagi?”
tanya Ren.
“Yah, nggak. Itu hanya rencana awal.
Tapi akhirnya temanku itu punya ide. Kamu tetap bisa di bar sebagai penyaji
kopi dan pencuci gelas. Nggak masalah, kan?”
Ren bernapas lega. Ia sangat suka
pengaturan itu.
“Aku terima,” katanya senang.
“Dari sana aku memintamu untuk
mengobservasi dan juga mengorek informasi yang kubutuhkan. Kamu sudah baca
poin-poinnya?” tanyanya.
Ren mengangguk, “Tentang alasan dan juga
apapun yang berkaitan dengan kesenangan mereka pada hal menjijikkan itu. Sudah.
Aku sudah hapal di luar kepala.”
“Bagus.”
“Lalu apa tugasmu?”
“Kebalikan dari tugasmu, aku akan jadi
pelanggan di sana.”
“Apa?” kali ini Ren terpekik.
Andrea tertawa. “Nggak… Bercanda.”
Ren buru-buru membenarkan sikapnya.
“Terserahmu saja,” katanya tidak peduli dan memalingkan kepalanya ke jendela
yang terbuka.
“Aku akan jadi rekan bisnis temanku itu
dan mulai mengelilingi daerah itu satu persatu,” jelasnya.
“Dan aku sendirian,” Ren mulai merasa
gamang.
“Nggak, Ginny akan menjagamu untukku.”
“Dia itu bekerja dan dia butuh uang,”
kata Ren rendah dan dingin.
“Ginny sangat loyal. Mungkin dia memang
akan meninggalkanmu selama sepuluh menit. Tapi aku sudah mendapatkan orang yang
bisa membantumu di sana.”
“Siapa?”
“Rekan kerjamu, Mint. Dia gadis yang
ramah dan supel, sangat feminin dan periang. Ia akan membantumu selama kerja di
bar,” katanya meyakinkan.
“Mint?”
“Semua memanggilnya begitu.”

0 comments: