She #13 - Rain
Sebenarnya percakapannya dan Sherly itu
sedikit mengusik jam tidurnya. Bagaimanapun juga ini terlalu berisiko. Hanya
karena dia tahu di mana letak serunya makanya dia mau. Dan dia memang butuh
uang.
Beberapa hari yang lalu Ren melihat
tiket pesawat dan memutuskan kalau ia kekurangan uang untuk membelinya.
Bagaimanapun juga tiket itu terlalu mahal dan uang hasil beasiswanya terlalu
sayang untuk digadaikan. Ia butuh uang itu untuk uang semesternya dan itulah
salah satu kenapa ia membenci pendidikan formal.
Demi mendapatkan ijazah dan juga hari
depan yang cerah, semua orang di negeri ini wajib menggadaikan apa saja demi
bisa bersekolah. Bukan hanya itu, dengan adanya sistem dari negeri antah
berantah buatan manusia ini maka bisa dipastikan kalau sekolah adalah salah
satu ancaman terburuk yang membuat semua orang harus menderita dan penuh
pilihan. Sekolah butuh uang sedangkan cita-cita butuh keberanian untuk
bermimpi.
Serena sama sekali tidak keberatan
dengan kondisinya yang serba kekurangan. Hanya karena banyak orang-orang baik
disekitarnya ia dengan ajaib dapat bertahan hidup. Ia tak dapat berpikir tanpa
makan. Jadi apapun peluang kerja itu akan ia babat habis-habisan.
Tidak terkecuali yang satu ini.
Ia sama sekali tidak berpikir tentang
resiko. Baginya pikiran itu hanya palang pembatas untuk mencapai tujuan. Ia
tidak begitu percaya pada kebetulan karena itu artinya semua aturan dibuat
seenaknya saja. Ia percaya kalau orang kecil sepertinya hanya bisa bermimpi dan
itulah satu-satunya pegangan yang membuatnya optimis dalam hidup.
Ia memang seorang perempuan, bukan pria.
Ia sama sekali tidak peduli dengan palang-palang norma yang membatasi geraknya.
Yang ia tahu hanya dua, yaitu cita-cita dan bagaimana caranya bertahan hidup
selagi nyawa masih di tubuhnya. Jika tidak berjuang, entah apa yang akan
terjadi besok.
Akhirnya ia menguatkan dirinya dan
tekadnya. Sambil membuang jauh-jauh palang kengerian dan ancaman yang
membatasinya dengan dunia luar dan kesempatan, ia tertidur.
Masa bodoh dengan semua itu. Yang ia
tahu hanya satu, jika itu datang padanya maka ia bisa mencoba apapun resikonya.
Aku
kuat.
Aku
kuat, sugestinya.

0 comments: