She #12 - Rain
“Hei! Thanks udah bawa ini jauh-jauh dari sana,” kata Ren pada Sherly
yang baru saja sampai ke depan pintu kosan-nya. Kebetulan Ren juga baru pulang
dari pertemuannya dengan Mr.Jason yang bersikeras dipanggil Andrea.
“Ya, ya… Dari mana lu?” tanya Sherly.
“Dari kampus,” ia melirik satu kardus
kecil yang berisi camilan kesukaannya.
Makaroni pedas, seblak goreng pedas, keripik
setan, kacang telur, choco ball, corn flake, dan kacang tanah. Ia menerima
paket itu dari Sherly dan mengajaknya masuk.
“Jadi? Ngapain ke sana?” tanya Sherly
saat duduk.
Ren membongkar isinya dan mengambil satu
bungkus makaroni pedas, membukanya dan meletakkannya di tengah agar bisa
dimakan bersama. “Ketemu Andrea… Maksudku Mr.Jason.”
“Ooh… Andrea?” ia menggoda sekarang.
“Sejak kapan lu jadi sedekat itu?”
“Dia bilang gue kurang ajar beberapa
hari ini sama dia,” cerita Ren dengan nada tidak peduli, “Jadi gimana? Dia
bilang boleh manggil dia Andrea. Jadi gimana dong?”
“Ah!” Sherly tidak percaya. “Kalau untuk
masalah lu kurang ajar sama dia, gue sepaham. Tapi aneh kalau dia kasih izin lu
buat panggil nama dia. Nanti istrinya ngamuk lagi.”
“Sebaliknya ini memang perlu,” kata Ren.
“Gue akan ikut penelitian dia di dunia antah berantah.”
“Apa?” tanya Sherly tidak yakin.
“Penelitian,” Ren bicara sambil makan,
“Hari Senin besok gue akan pergi.”
“Apa?” dia syok.
“Tempatnya entah di mana.”
“Apa?” makin syok.
“Oi! Kenapa?” tegur Ren.
“Apa?”
Ren makin bingung karena baru kali ini Sherly
terdengar sekaget itu. Ia menatap mata temannya itu hati-hati. “Lu nggak
apa-apa kan?”
Sherly menganga sejenak sebelum akhirnya
mengatupkan rahangnya. “Well, yah… Nggak apa-apa sih tapi…” ia melirik Ren dan
bertanya, “Serius lu mau pergi? Penelitian apa? Di mana?”
Ren kembali tenang. “Entah di mana
tempatnya, tapi yang jelas gue bakal ditempatkan di daerah prostitusi –”
“Hah?” pekiknya kaget.
“Tenang. Tenang, buk. Tenang,” Ren mencoba
menenangkannya. “Memang cuma kami berdua yang pergi dan kami akan meneliti di
sana.”
“Berdua?”
“Ya.”
“Di sana?” ia tak percaya.
“Ya…”
“Meneliti?”
“Sudah kubilang, kan,” Ren jengkel.
“Lu bakal jadi apa? Ya ampuuunn!”
“Intinya gue dibayar dan gue akan jadi
tamu di sana,” jawab Ren acuh.
“Tamu?” ulangnya tidak percaya. “Tamu
apa?”
“Ya tamu… Memangnya apa?”
Sherly menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa lu akan jadi pria atau wanita? Atau lu akan jadi wanita penghibur?”
Ren meringis saat ia mengatakannya. “Gue
belum tahu. Yang jelas gue ke sana dulu.”
“Dengar!” ia serius sekarang. “Lu
sendirian! Lu akan sendirian di sana dan siapa yang bakal lindungin lu?”
“Andrea… Maksudnya Mr.Jason juga akan di
sana. Tentu saja ada temannya juga, jadi aman.”
“Lu tu cewek tapi…” ia menatap temannya
sekarang dan wajah cemasnya berubah ragu, “Mungkin lu suka dengan tugas ini.”
Ren menggeleng-gelengkan kepala tanda
heran dengan perubahan sikap Sherly yang mendadak.
“Jadi apa yang akan lu lakukan?”
tanyanya pada Ren, kali ini penuh dengan rasa penasaran.
“Entahlah. Gue belum tahu bakal jadi apa
dan ingin jadi seperti apa. Tapi kita lihat saja nanti. Apa gue bisa masuk
sebagai orang asing atau justru sebagai bartender,”
pikirnya.
“Kalau lu masuk dengan dandanan lelaki,
mungkin lu bisa menggaet banyak informasi.”
“Memang, tapi makasih banyak karena gue
nggak mau potong rambut,” tolaknya.
“Kan ada rambut palsu.”
Ren terkekeh, “Gue anti panas dan nggak
suka kepanasan.”
“Terus, nanti lu bakal dandan dong?”
“Hm?”
“Bartender
juga harus bisa dandan. Kalau nggak bisa-bisa pelanggan kabur.”
Ren bahkan tidak berpikir sampai ke
sana. “Gue nggak mau dandan.”
“Siapa tahu lu mau. Jangan lupa, lu tuh
paling lemah dalam hal pertahanan diri. Lu pikir ini mudah, apa? Pikir-pikir
lagi!”
Saran itu dipantulkan begitu saja oleh
Ren dan ia tidak peduli. “Gue butuh uang dan gue tahu kalau gue harus ke sana.”
“Lu sama sekali nggak tahu resiko!”
“Makanya gue ingin tahu,” ia keras
kepala sekarang. “Lagi pula ada orang itu di samping gue dan juga ada temannya.
Secara geografis, gue aman.”
Sherly tahu kalau ini akan susah, maka
ia hanya meng-iyakannya saja sekarang.
“Oke, terserah lu. Tapi semoga lu juga
selamat dari para pelindung lu.”

0 comments: