She #12 - Rain

11:51 AM fe 0 Comments



“Hei! Thanks udah bawa ini jauh-jauh dari sana,” kata Ren pada Sherly yang baru saja sampai ke depan pintu kosan-nya. Kebetulan Ren juga baru pulang dari pertemuannya dengan Mr.Jason yang bersikeras dipanggil Andrea.
“Ya, ya… Dari mana lu?” tanya Sherly.
“Dari kampus,” ia melirik satu kardus kecil yang berisi camilan kesukaannya.
Makaroni pedas, seblak goreng pedas, keripik setan, kacang telur, choco ball, corn flake, dan kacang tanah. Ia menerima paket itu dari Sherly dan mengajaknya masuk.
“Jadi? Ngapain ke sana?” tanya Sherly saat duduk.

Ren membongkar isinya dan mengambil satu bungkus makaroni pedas, membukanya dan meletakkannya di tengah agar bisa dimakan bersama. “Ketemu Andrea… Maksudku Mr.Jason.”
“Ooh… Andrea?” ia menggoda sekarang. “Sejak kapan lu jadi sedekat itu?”
“Dia bilang gue kurang ajar beberapa hari ini sama dia,” cerita Ren dengan nada tidak peduli, “Jadi gimana? Dia bilang boleh manggil dia Andrea. Jadi gimana dong?”
“Ah!” Sherly tidak percaya. “Kalau untuk masalah lu kurang ajar sama dia, gue sepaham. Tapi aneh kalau dia kasih izin lu buat panggil nama dia. Nanti istrinya ngamuk lagi.”
“Sebaliknya ini memang perlu,” kata Ren. “Gue akan ikut penelitian dia di dunia antah berantah.”
“Apa?” tanya Sherly tidak yakin.
“Penelitian,” Ren bicara sambil makan, “Hari Senin besok gue akan pergi.”
“Apa?” dia syok.
“Tempatnya entah di mana.”
“Apa?” makin syok.
“Oi! Kenapa?” tegur Ren.
“Apa?”
Ren makin bingung karena baru kali ini Sherly terdengar sekaget itu. Ia menatap mata temannya itu hati-hati. “Lu nggak apa-apa kan?”
Sherly menganga sejenak sebelum akhirnya mengatupkan rahangnya. “Well, yah… Nggak apa-apa sih tapi…” ia melirik Ren dan bertanya, “Serius lu mau pergi? Penelitian apa? Di mana?”
Ren kembali tenang. “Entah di mana tempatnya, tapi yang jelas gue bakal ditempatkan di daerah prostitusi –”
“Hah?” pekiknya kaget.
“Tenang. Tenang, buk. Tenang,” Ren mencoba menenangkannya. “Memang cuma kami berdua yang pergi dan kami akan meneliti di sana.”
“Berdua?”
“Ya.”
“Di sana?” ia tak percaya.
“Ya…”
“Meneliti?”
“Sudah kubilang, kan,” Ren jengkel.
“Lu bakal jadi apa? Ya ampuuunn!”
“Intinya gue dibayar dan gue akan jadi tamu di sana,” jawab Ren acuh.
“Tamu?” ulangnya tidak percaya. “Tamu apa?”
“Ya tamu… Memangnya apa?”
Sherly menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa lu akan jadi pria atau wanita? Atau lu akan jadi wanita penghibur?”
Ren meringis saat ia mengatakannya. “Gue belum tahu. Yang jelas gue ke sana dulu.”
“Dengar!” ia serius sekarang. “Lu sendirian! Lu akan sendirian di sana dan siapa yang bakal lindungin lu?”
“Andrea… Maksudnya Mr.Jason juga akan di sana. Tentu saja ada temannya juga, jadi aman.”
“Lu tu cewek tapi…” ia menatap temannya sekarang dan wajah cemasnya berubah ragu, “Mungkin lu suka dengan tugas ini.”
Ren menggeleng-gelengkan kepala tanda heran dengan perubahan sikap Sherly yang mendadak.
“Jadi apa yang akan lu lakukan?” tanyanya pada Ren, kali ini penuh dengan rasa penasaran.
“Entahlah. Gue belum tahu bakal jadi apa dan ingin jadi seperti apa. Tapi kita lihat saja nanti. Apa gue bisa masuk sebagai orang asing atau justru sebagai bartender,” pikirnya.
“Kalau lu masuk dengan dandanan lelaki, mungkin lu bisa menggaet banyak informasi.”
“Memang, tapi makasih banyak karena gue nggak mau potong rambut,” tolaknya.
“Kan ada rambut palsu.”
Ren terkekeh, “Gue anti panas dan nggak suka kepanasan.”
“Terus, nanti lu bakal dandan dong?”
“Hm?”
Bartender juga harus bisa dandan. Kalau nggak bisa-bisa pelanggan kabur.”
Ren bahkan tidak berpikir sampai ke sana. “Gue nggak mau dandan.”
“Siapa tahu lu mau. Jangan lupa, lu tuh paling lemah dalam hal pertahanan diri. Lu pikir ini mudah, apa? Pikir-pikir lagi!”
Saran itu dipantulkan begitu saja oleh Ren dan ia tidak peduli. “Gue butuh uang dan gue tahu kalau gue harus ke sana.”
“Lu sama sekali nggak tahu resiko!”
“Makanya gue ingin tahu,” ia keras kepala sekarang. “Lagi pula ada orang itu di samping gue dan juga ada temannya. Secara geografis, gue aman.”
Sherly tahu kalau ini akan susah, maka ia hanya meng-iyakannya saja sekarang.
“Oke, terserah lu. Tapi semoga lu juga selamat dari para pelindung lu.”

You Might Also Like

0 comments: