She #11 - Rain

11:50 AM fe 0 Comments



Ren sedang bertaruh dengan dirinya sendiri.
Jika dosen itu datang tepat waktu seperti yang dijanjikan maka ia akan mentraktir dirinya sendiri makan nasi goreng aceh. Tapi jika tidak, maka ia akan mentraktir dirinya sendiri makan bubur ayam favoritnya lengkap dengan sambal yang banyak diiringi dengan putaran film Kiki’s Delivery Service di komputernya. Ia tak perlu repot-repot menghabiskan siangnya dengan segala macam tugas karena semua itu telah berakhir seiring dengan sepinya fakultasnya. Semua orang sudah meliburkan diri.
Diiringi lagu Tonight The World Dies milik A7X ia melangkan seorang diri ke dalam gedung yang dingin dan sepi menuju ruang jurusannya. Tidak ada siapa-siapa di koridor sana tapi ia tahu kalau pintu jurusannya terbuka. Ren mengintip ke dalam dan menemukan seseorang yang sudah menerornya selama dua hari ini sedang duduk di sana sambil mengetik di laptopnya.

Ren masuk dan menghampirinya. Pria itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum padanya.
“Bagaimana? Saya nggak telat, kan?” tanyanya.
Ren tahu kalau dia harus makan nasi goreng aceh sekarang. Ia juga tahu kalau ia datang lima menit sebelum pukul delapan. Jadi ia duduk sambil mengakui kalau dosen itu tepat waktu sekarang.
“Oke, Bapak benar.”
Mr.Jason tertawa cerah. Ia jelas sedang menikmati kemenangannya. “Saya senang karena kamu termasuk orang yang tepat waktu.”
“Kenapa?” tanya Ren. “Jangan bilang anda repot karena harus bangun pagi buta demi sampai ke sini.”
“Nggak juga. Tapi memang saya ngebut supaya bisa sampai di sini.”
“Ooh… Bagus,” puji Ren. “Lagi pula salah anda sendiri yang menentukan jadwal perjanjian.”
“Memang,” akunya biasa. “Saya nggak menyangka kalau kamu sangat tidak toleran dengan masalah itu.”
Ren tidak berkomentar. Biar saja dia berpikir kalau sikapnya itu memang bentuk dari protesnya terhadap ketidak konsistenan pria itu.
“Baiklah, ini dia masalahnya,” pria itu memulai.
Ren menyimak.
“Saya pada liburan ini punya proyek yang saya harap kamu bisa bantu. Kali ini saya ingin meneliti tentang wilayah… mmm… prostitusi,” katanya.
Ren terkejut.
“Apa?” tanyanya tak yakin dengan pendengarannya.
“Wilayah prostitusi. Itu yang ingin kamu dengar?” tanya sang dosen.
“Wilayah prostitusi?” ulangnya. “Wow,” tapi itu diucapkan dengan nada datar. “Dan anda pikir saya cocok di sana? Menangani masalah ini?”
“Ya.”
“Kenapa? Saya bahkan nggak punya teman yang berprofesi seperti itu atau relasi atau apapun,” Ren merasa syok.
“Tenang Ren. Yang kita butuhkan adalah data dan kita bisa mendapatkannya jika hidup dan tinggal di sana.”
“Sebagai apa?” buru Ren.
Mr.Jason bisa membaca kekuatiran gadis itu akan kemungkinan dijadikannya wanita penghibur. Ia hampir tertawa tapi bagaimana pun juga Ren bisa saja menyamakan segala macam presepsi agar dia bisa menghindar dari tugas itu.
“Sebagai peneliti, tentu saja,” jawabnya akhirnya. “Bagaimana? Menarik bukan?”
“Anda meminta saya ke sana atas nama peneliti. Memangnya mereka mau diteliti?” tanya Ren cepat.
“Saya punya teman di sana dan dia tidak keberatan untuk menampung kita sebagai tamunya. Tapi tetap saja kita harus bisa mendapatkan banyak data dengan cara yang tepat.”
“Lalu? Bagaimana setelah itu?”
“Apanya?”
“Setelah semua data di dapat, apa yang akan anda lakukan?”
Mr.Jason memiringkan kepalanya dan menatap gadis itu dengan wajah heran, “Mengolahnya. Memangnya apa lagi?”
Ren tahu kalau ia baru saja menjebak dosennya itu dan ia sukses! “Kalau begitu aku tidak ikut.”
Duduk Mr.Jason menjadi tegang dan tegap sekarang. Ia bertanya pelan, “Kenapa?”
“Kenapa?” Ren tidak percaya, “Anda memerlukan data dan anda akan mengolahnya! Jawaban bagus, Pak, tapi anda tidak punya tujuan apapun untuk mengubah mereka. Apa anda hanya akan mencari kesimpulan dari satu fenomena?” Ren bertanya dingin. “Bahkan aku tahu kalau anda tidak punya niat mengubah perilaku masyarakat itu menjadi baik.”
Mr.Jason paham maksudnya. Gadis ini terlalu pintar bermain kata-kata hingga ia lupa jawaban yang tepat untuk memuaskannya. “Maaf. Tentu saja akan ada beberapa plan of treatment yang dibuat demi menertibkan mereka dan mengubah perilaku mereka,” ia mengkoreksi sekarang.
“Itu maksudku, Pak.”
Ren merasa dirinya agak temperamen saat ini dan emosinya sedang naik turun sesuka hati.
“Jadi bagaimana?” tanya dosennya itu dengan kesabaran tidak tercela. “Ini menarik bukan? Lagi pula dengan daya pikir dan idemu semoga saja ada satu kesimpulan bagus yang bisa kamu sumbangkan.” Lalu ia menambahkan, “Jika kamu mau menerima tugas ini maka kamu juga harus memikirkan resikonya. Di sana mereka anti penelitian. Bisa-bisa kita diamuk masa.”
“Kalau begitu kenapa memilih tempat itu?” protes Ren.
“Karena belum ada yang menelitinya,” jawabnya. “Bagaimana?”
Ren diam saat memikirkan pertanyaan itu. Ia melepas headset-nya yang lupa ia lepas tadi. “Apa yang akan saya perankan? Apa saya harus menyamar saat mencari data atau saya benar-benar seperti peneliti yang membawa questioner ke sana kemari?” godanya.
“Peran apa yang kamu mau?” Mr.Jason balik bertanya.
Ren berpikir, mempertimbangkan segala keunikan dan keseruan tugas ini. “Apa yang saya pilih sebenarnya punya banyak resiko, kan?”
Mr.Jason mengangguk, “Ya.”
“Dan saya sendirian.”
“Saya nggak bilang kalau kamu sendirian,” katanya. “Saya juga akan ikut karena hanya kita berdua yang harus ke lapangan.”
“Oh.”
“Jadi?”
“Oke. Sepertinya menarik,” kata Ren. Lagi pula dia memang sedang butuh uang dan ini adalah kesempatan. “Tapi saya butuh berpikir untuk menentukan peran saya seperti apa.”
“Bagus. Hari Senin depan kita bisa ke sana,” kata Mr.Jason puas. Tapi ia masih menyimpan satu kejutan lagi. “Kamu tahu, sikapmu akhir-akhir ini nggak menunjukkan rasa hormat pada saya.”
Dan dengan lancar Ren menjawab, “Saya takkan menghormati orang yang nggak hormat pada saya.”
Mr.Jason menyeringai, “Saya sepaham denganmu,” katanya. “Dan karena kamu sudah tidak menghormati saya seperti yang seharusnya, saya akan memberimu satu hak.”
Ren sebenarnya tersinggung. Tapi dengan harga dirinya ia tetap berusaha menampilkan sikap elegan tidak mau kalah dan tidak tahu malunya itu. “Apa?” tanyanya.
“Mulai sekarang panggil saya Andrea karena kita akan bekerja di tempat yang tak kenal kompromi.”

You Might Also Like

0 comments: