The Moon and The Sun #28 - Rain

10:31 PM fe 0 Comments

28
Georgia
Setelah melewati penerbangan singkat dari Chicago ke Georgia, tiba-tiba jantungku berdebar-debar. Kehadiran Ciro sangat terasa di sini. Rasanya aku sangat ingin loncat keluar pesawat dan buru-buru pergi ke rumah sakit tempatnya dirawat. Hanya saja, seperti kata Sarah, lokasi rumah sakitnya itu tidak sedekat yang kubayangkan. Kita harus menempuh hampir dua jam perjalanan ke sana.
Sebenarnya aku agak kuatir juga karena meminta Sarah mengantarku malam ini juga. Tapi dia tidak keberatan dan aku percaya padanya. Katanya ia akan membawa sopirnya. Aku merasa bersyukur karena dia bisa diandalkan setiap ada hal genting yang menuntutku untuk cepat bergerak. Walau aku masih merasa tidak enak, aku tahu kalau dia mengerti dengan perasaanku.
Aku melangkah keluar dari bandara itu dan langsung disambut oleh lambaian tangan dari orang yang kukenal. Sarah dengan semangat menyambutku. Ia bahkan menyambarku dan memelukku erat padahal aku belum sempat membalas lambaiannya.
Ia memelukku lama.
“Hei? Apa kau sangat merindukanku?” tanyaku sambil tertawa.
“Aku berdoa pada Tuhan agar ada cara lain yang lebih manusiawi dari itu.”

Aku mengerutkan keningku karena tahu apa yang dia pikirkan. Sambil menepuk-nepuk punggungnya aku berkata, “kau harus tahu kalau aku memang kejam.”
“Tidak juga. Hanya saja untuk apa kau melakukannya?” ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tatapan tidak mengerti. “Kau tidak mau memberitahukannya padaku. Dan dengan bodohnya aku mengiyakan hal itu!”
“Sarah. Aku punya ide sendiri. Kau akan tahu jika memang sudah saatnya.”
Ia menggeleng dengan wajah tidak senang. “Sebenarnya aku juga punya pikiran sendiri dan aku takut kau tidak waras kalau memang itu yang kau pikirkan.”
Aku tertawa dan membiarkannya tetap dalam kebingungannya. “Aku bisa minta bantuan siapapun untuk membuatnya hanya saja Gates selalu di sampingku. Aku ngga mau dia curiga.”
Ia menarik koperku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seorang pria berjaket kulit hitam dengan rambut warna pirang dan terlihat sudah agak tua langsung membuka bagasi mobil Sarah. Teman baikku itu memberikan koperku padanya lalu mengajakku masuk ke mobilnya. “Kau tahu? Ini akan makan waktu lama jadi tidur saja.” Kata Sarah padaku.
“Kau tidak merindukanku?” godaku.
“Hei! Aku bosan lihat wajahmu di Skype hampir setiap hari. Bisa kan kau tidur supaya punya tenaga bertemu dia?” dia mengomel. “Aku tahu kau sangat lelah. Lihat itu kantung matamu. Ckckck…”
“Oke, oke.” Aku tertawa dan tidak membantah. Aku langsung memejamkan mataku dan seketika itu juga tertidur. Seperti kata Sarah tadi, perjalanan kami masih panjang. Butuh sekitar dua jam untuk sampai ke sana.


Aku terkesiap oleh mimpiku sendiri yang sejenak kemudian langsung terlupakan. Saat itu juga aku terbangun dengan jantung berdebar-debar dan napas tersengal.
“Selene? Kau kenapa?” tanya Sarah sambil menatapku cemas.
Aku berusaha mengatur napasku dan menenangkan diri. “Tidak…” jawabku pelan dengan nada tak yakin.
Sarah menggosok-gosok punggungku dan masih menatapku dengan wajah cemas. “Yakin?” tanyanya.
Aku justru merasa gelisah. Saat itu aku merasa mobil berbelok masuk ke dalam sebuah rumah sakit besar yang megah. Aku menatap keluar jendela dengan risau. “Apa di sini tempatnya?”
“Ya.” Sarah melihat keluar jendela.
“Aku…” dan kenapa aku merasa sangat tidak enak begini? Aku gelisah dan aku tidak tahu kenapa. Rasanya ada yang salah dan rasanya aku harus… ya harus segera turun dari sini.
“Selene? Kau kenapa?” tanya temanku itu sambil menatapku dengan wajah bingung.
“Aku… Yah… Aku rasa aku harus turun. Sekarang!” kataku sambil mencoba membuka pintu mobil yang jelas-jelas masih terkunci. Sarah meraih tanganku dan menjauhkannya dari sana.
“Tunggu!” larangnya. “Kau akan masuk ke sana denganku,” ia menahan tanganku dengan kuat.
Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah risau. Rasanya aku ingin lari! Sekarang! Hanya saja aku tidak mungkin melompat dari mobil yang jelas-jelas belum berhenti ini. Sebenarnya aku bisa melakukannya jika pintunya tidak terkunci dan jika Sarah tidak menggenggam tanganku lagi.
“Tenang, Selene. Kau harus tenang dulu.” Sarah meyakinkanku sekarang. “Semuanya akan baik-baik saja.”
“Tapi…” aku mendesah kesal karena aku merasa kacau sekarang. “Aku harus segera pergi.”
“Kemana?”
Pertanyaan bagus! Aku harus pergi kemana? Aku sendiri juga tidak tahu. yang jelas aku merasa dipanggil. Ada hal yang harus segera aku lakukan mala mini juga dan itu membuatku jadi tidak sabaran.
Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri.
“Kemana?” desak Sarah lagi.
“Tidak tahu…” jawabku kesal.
Ia menatapku dengan wajah tidak mengerti tapi sejenak kemudian dia mengangguk. Aku tidak paham maksud anggukannya itu.
Akhirnya mobil berhenti dan pintu bisa dibuka. Saat pintu itu bisa kubuka, aku langsung menghambur keluar mobil sambil menyandang ranselku. Aku nyaris berlari saat berada di lapangan parkir yang kosong. Hanya saja Sarah langsung meraih tanganku, menahannya agar aku tak berlari, dan menarikku dengan langkah cepatnya menuju ke samping gedung rumah sakit yang besar dan megah.
“Kau takkan bisa masuk ke sana tanpa aku,” katanya sambil terus menarikku. “Katakan, kau ingin ke mana.” perintahnya.
Aku tidak tahu jawabannya. Memangnya aku ingin kemana? Aku bingung harus jawab apa. Dengan gelisah aku mencoba mencari jawabannya.
“Kemana kau akan membawaku, Victoria?” tanyaku dalam hati.
Aku menarik napasku dan dengan risau menjawab, “atap!”
Sarah tidak menggubris jawabanku dan aku ragu apa dia mendengarku atau tidak. Kami masuk ke gedung itu melalui pintu samping yang dijaga satu orang petugas keamanan. Sarah menyapa orang itu dan menunjukkan kartu identitas khusus miliknya. Setelah menjelaskan siapa aku, kami baru diperbolehkan masuk.
Kali ini ia melepaskan tanganku dan membiarkanku.
Ada empat gedung di sini,” katanya saat berdiri di depanku. “Aku nggak tahu kamu mau ke atap yang mana. Tapi kalau memang semendesak itu, kau harus lari.” Ia menatap sekilas gedung ini. “Ini gedung utama berlantai lima. Untuk sampai ke atap, kau harus naik tangga di samping luar rumah sakit ini atau naik lift dulu dan memakai tangga darurat. Tiga gedung lainnya berada di belakang gedung ini dan sama-sama bertingkat empat. Untuk ke sana kau harus keluar dari pintu samping itu lagi dan berlari ke belakang. Untuk ke atapnya, tiga gedung itu punya tangga samping dan juga pintu darurat. Ada lift juga.” Sarah mengeluarkan kartu yang dipakainya tadi saat kami melewati penjaga. “Kau butuh ini untuk bisa masuk ke gedung lainnya. Cukup lihatkan saja pada penjaganya.”
Aku menerima kartunya sambil mengangguk mengerti dan langsung berlari menuju lift terdekat yang pertama kulihat. Pintu lift segera terbuka saat aku menekan tombolnya. Cahaya terang dari dalam sana menerangi ruangan besar yang remang-remang ini. Aku segera masuk dan menekan nomor tombol teratas. Pintunya segera menutup dan lift itu bergerak naik dengan cepat ke atas. Saat mencapai lantai empat, aku langsung berlari begitu pintunya terbuka lagi.
Tapi langkahku segera terhenti. Aku tidak tahu harus ke mana dan di mana letak pintu yang menuju ke atap. Aku melangkah ke jendela besar yang ada di depan sana. Hujan salju mulai turun lagi dan ruangan remang ini menjadi terasa dingin.  Aku berlari melewati deretan kursi-kursi besi yang ada banyak tersebar di ruangan besar ini. Hanya satu yang ada dibenakku sekarang. Ciro! Aku harus segera menemukannya!
Saat aku berbelok di ujung ruangan itu, aku menemukan sebuah pintu bertuliskan ‘exit’ dengan tulisan warna merah dan menyala terang dalam gelap. Aku mendorong pintu itu hingga terbuka dan menemukan tangga di sana. Satu tangga menuju ke bawah dan satu tangga lagi menuju ke atas. Aku langsung naik ke tangga yang menuju ke atas dan saat mencapai puncaknya, aku menemukan satu pintu lagi. Aku meraih gagang pintu itu dengan harapan pintu ini tidak dikunci.
Dan aku berhasil membukanya tanpa kesulitan.
Angin dingin berhembus begitu pintu itu terbuka. Butiran-butiran salju yang turun tengah malam ini melayang cepat menyentuh lantai batu gedung yang dingin. Aku mengeratkan jaketku dan melangkah ke luar. Atap gedung ini diterangi oleh lampu yang terletak di sudut-sudut gedung dan itu membuatku merasa tidak takut.
Aku melangkah ke tengah gedung lalu mengintarinya secepat mungkin. Tapi aku tidak menemukan siapapun di sini. Masih ada tiga gedung lagi yang harus kutuju, tapi di mana gedung itu?
Aku mengintari atap itu lagi sambil mencoba mencari letak tiga gedung lainnya yang ada di belakang gedung utama. Aku menandai tiga gedung itu yang ternyata terletak di tiga arah mata angin lainnya. Tanpa buang waktu aku kembali masuk ke dalam dan berlari secepat mungkin melalui jalan yang sama untuk sampai ke pintu samping tempat kami masuk tadi. 
Aku berlari keluar dari gedung utama secepat yang kubisa. Aku bukan pelari dan aku tidak biasa berlari secepat ini. Baru kali ini aku benar-benar berharap menjadi seorang atlit atletik yang bisa berlari secepat kilat. Tapi kurasa itu sudah terlambat karena kakiku yang tidak terlatih dan juga karena terlalu takut kalau jantungku meledak.
Butuh waktu sekitar tiga menit penuh untuk sampai ke gedung kedua yang ada di belakang gedung utama. Aku berlari melintasi taman tengah yang penuh dengan salju tebal yang membuat sepatuku basah dan licin. Alih-alih masuk ke dalam gedung ke dua itu, dari sudut mataku aku menangkap tangga darurat luar yang menuju ke atap. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju tangga yang ada di samping gedung besar itu.
Aku tidak peduli dengan salju yang turun semakin cepat atau bajuku yang basah karenanya. Aku berlari disepanjang teras gedung itu dan karena saking terburu-burunya aku terjatuh berdebam ke lantai.
Sial! Seharusnya aku tidak pakai sepatu yang ini karena tapaknya jadi licin begitu kena salju. Hanya saja sepatu ini terlalu hangat dan nyaman untuk dipakai. Aku juga tidak mungkin membukanya karena itu hanya akan membuat kakiku beku.
Sambil berusaha bangun dari jatuhku, aku memegang dadaku yang sakit karena sesak.
Tunggu. Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi sebelum firasat ini terbukti.
Aku menguatkan diriku dan kembali berlari lagi kali ini lebih berhati-hati karena aku takut terjatuh lagi. Aku bisa merasakan licinnya lantai rumah sakit ini dan aku tahu kalau aku bisa terjatuh lagi sebelum sampai ke tangga darurat itu.
Napasku sesak. Tenggorokanku dingin, kering, dan perih. Tapi demi apapun juga, walau ini rasanya sakit dan melelahkan, aku masih bisa mengabaikannya.
Akhirnya aku sampai ke tangga darurat yang ada di samping gedung itu dan menatap ke atas.
Terlalu jauh.
Tapi aku segera meraih pegangan tangga itu dan dengan sekuat tenaga mendaki ke atas. Aku menguatkan diriku sambil berkata kalau ini belum ada apa-apanya dibandingkan saat aku mati-matian mendaki menaiki tangga hanya demi ke kuil budha di Jepang tahun lalu. Ini masih bisa diatasi.
Anak-anak tangga itu menyiksa kakiku yang lelah. Aku berkeringat karenanya. Hawa panas dan dingin bertarung ditubuhku dan itu sangat tidak menyenangkan. Sambil memegang dada dan mengatur napas aku terus naik ke atas dan berharap kalau aku bisa bertemu dengan Ciro di sana tepat pada waktunya. Hanya dengan berpikir begitu aku merasa mendapat kekuatan berlebih.
Butuh waktu banyak agar aku bisa ke sana dan akhirnya saat aku melangkah ke anak tangga terakhir, aku melihat tidak ada siapa-siapa di sini. Atap yang luas ini kosong dan hampir diselimuti salju.
Aku kecewa.
Apa ini hanya ketakutanku saja?
Rasanya aku ingin kembali ke gedung utama dan istirahat. Tapi sekuat apapun aku menginginkannya, sekuat itu juga hatiku ingin tetap mencarinya. Aku berjalan melintasi atap itu dan turun di sisi lain tangga darurat yang ada di seberang sana. Setelah memastikan kalau memang tidak ada siapa-siapa di sini, aku langsung turun lagi ke bawah.
Aku merasa putus asa. Seharusnya tadi kutanya di gedung mana Ciro dirawat. Aku menghela napas kesal.
Tapi tidak ada waktu untuk itu. Aku berlari menuruni tangga sambil tetap berpegangan pada pegangan tangga itu. Baru saja aku mencapai lantai tiga, tiba-tiba langkahku terhenti. Aku merasa ada keyakinan baru yang memaksaku untuk kembali ke atas lagi. Aku mendongak lagi ke atas dan memutuskan untuk sekali lagi ke sana.
Perasaanku tidak enak. Aku berlari lagi menaiki tangga itu dan dengan napas yang rasanya hampir habis aku memaksakan kakiku melangkah ke sana. Saat aku mencapai atap itu lagi, aku melihat seseorang di ujung sana berdiri di tepi atap gedung sambil memejamkan matanya.


You Might Also Like

0 comments: