The Moon and The Sun #20 - Rain
20
Setelah pemeriksaan
pagi hari dan sarapan pagi dihidangkan, aku masuk ke dalam kamar tempat Rev
dirawat. Selama pemeriksaan tadi akhirnya aku bertemu dengan Dr.Synyster yang
ternyata memilih tidur di kamar inap lain yang kosong.
“Aku sudah
melihatnya.” Katanya tadi saat kami bertemu di koridor waktu Rev menjalani
pemeriksaan pagi. “Aku juga dapat kabar kalau kalian… bertengkar.”
Aku langsung merasa
malu. “Maaf… Ada
sedikit masalah yang harus diluruskan.” Kataku dengan nada tidak enak.
Ia menghela
napasnya. “Anak itu kadang keras kepala. Aku jadi takut bertemu dengannya…” ia
tertawa miris.
“Tidak. Rev… maksudku
Cirino bukan orang yang sekeras itu.” Aku mencoba meyakinkannya.
“Ciro.” Katanya.
“Ya?”
“Panggil saja dia
Ciro.”
“Mungkin aku harus
bicara dengannya…” ia tampak gelisah. “Tapi aku tidak yakin kalau ini akan
mudah.” Ia mendesah. “Kami punya hubungan yang rumit…” Ia menatap ke dalam
lewat kaca pintu. Ia jelas-jelas sangat mengkuatirkan Rev. Walau aku tahu kalau
Rev sangat membenci ayahnya, aku tahu kalau sudah saatnya mereka berdamai.
Sambil berpikir
tentang itu aku menatap kearah makanan yang tersedia di meja. Dua potong roti
gandum, susu kotak cair rasa vanilla, dan salad.
“Kau mau?” tanya
Rev padaku.
Aku menggeleng.
“Aku selalu bermasalah dengan makanan rumah sakit.” Kataku jujur.
Ia menatap makanan
itu sesaat. “Kalau begitu aku tidak mau makan.”
“Kenapa?” aku
terkejut.
“Karena aku yakin
kalau rasanya pasti tidak enak.” Katanya santai.
Aku tersenyum.
“Well, sebenarnya tidak selalu seburuk itu.” Aku meraih nampan berisi makanan
itu dan memotong rotinya sedikit. Aku mengangkat tanganku dan menyodorkannya
pada Rev.
Ia menatapku
sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya dan memakannya. Ia mengunyahnya
dengan pelan.
“Bagaimana?”
tanyaku.
“Aku bisa
mentolerirnya. Toh, ini roti gandum.”
Aku tertawa dan
kembali menyuapinya. “Kau tahu?” tanyaku.
“Tidak. Apa?”
“Ayahmu
menyelamatkanmu.”
Seketika ia
berhenti mengunyah. Ia menatapku terkejut karena tidak menyangka kalau kalimat
itu akan keluar dari mulutku.
“Dia datang tepat
waktu untuk menyelamatkanmu.” Sambungku lagi.
Ia bergerak sedikit
tanda tidak nyaman dan aku tahu kalau aku mengambil resiko mengatakan hal itu.
“Hei! Kau kenapa?”
tanyaku sambil tersenyum padanya.
Ia memandangku
dengan wajah tidak suka. Aku tahu dia kesal. Aku segera meletakkan kembali
nampan itu ke meja dan menggeser dudukku agar lebih dekat dengannya. Aku duduk
di pinggir tempat tidurnya dan menggenggam tangannya.
“Tidak ada yang
namanya kebetulan.” Aku mengulangi kalimat yang pernah ia katakan padaku.
“Sekarang aku paham bagaimana cara Tuhan bekerja untuk kita.”
Ia menatapku
bingung. “Kau ingin bilang apa?”
“Kupikir sekarang
saatnya kalian bicara.”
Ia menarik
tangannya dengan tegas. “Rev…” panggilku. “Kau takkan bisa mengelak dari masalah
ini.”
“Kau tahu apa
tentang itu?” tanyanya ketus.
“Aku memang tidak
tahu. Tapi aku tahu kalau kalian takkan selamanya bisa begini.” Aku meraih
tangannya lagi. “Kenapa kau tidak mencobanya?”
“Apa itu akan
mengubah semuanya?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Apa semuanya bisa
selesai dalam semalam?”
Aku mengangguk
yakin. “Kau tahu kalau kalian harus bicara. Kau tahu kalau itu yang dibutuhkan.
Kenapa menghindar lagi?”
Ia mendengus kesal.
Apa aku terlalu memaksanya? Aku menatap matanya dalam-dalam dan berkata, “kau
tahu? Dia menunggumu untuk mengatakan sesuatu.”
Ia terlihat
mempertimbangkannya sekarang. Lalu untuk saat-saat yang menegangkan akhirnya
dia dengan enggan mengangguk. Seketika aku merasa lega. “Terima kasih.” Kataku
padanya sambil tersenyum senang.
Lalu aku berdiri
untuk memanggil Dr.Synyster. Tapi sebelum aku membuka pintu, aku berbalik dan
berkata, “kau tahu? Gates, Flea, Joe, dan Victor akan ke sini sekarang. Mereka
semua mencemaskanmu.” Lalu sambil tersenyum aku berkata lagi, “kau beruntung
karena semua orang menyayangimu.”
Aku tak menunggu
respon darinya. Aku bergegas keluar dan memberikan waktu yang berharga ini bagi
mereka berdua.
Aku membiarkan Rev
dan ayahnya berdua saja di dalam kamar. Aku duduk di bangku ruang tunggu
sendirian sampai akhirnya Flea, Joe, dan Victor datang menjenguknya.
“Kau sendirian?”
tanya Victor heran.
“Hai,” aku berdiri
menyambut mereka. “Rev sedang bersama ayahnya di dalam.”
“Ooh…”
Mereka duduk di
sampingku dan saat itu aku sadar kalau ada satu orang yang tidak terlihat.
“Mana Gates?” tanyaku.
“Dia masih di
bawah. Katanya kau pasti belum makan.” Jawab Flea.
Aku tertawa,
“insting yang bagus.”
“Well, apa yang
mereka lakukan di dalam? Setahuku Rev dan ayahnya sama sekali tidak akur,” kata
Joe mencoba mengintip ke dalam tapi Victor menariknya dengan paksa.
“Tidak boleh.”
Katanya.
Joe tertawa. “Tapi
memang benar kan
kalau mereka tidak akrab?”
“Malahan suka
bertengkar.” Kata Flea membenarkan sambil mengangguk khitmat.
“Tapi takkan
selamanya harus begitu, kan ?”
aku menatap mereka dan mereka saling memandang satu sama lain. Aku tersenyum.
“Yah, akan lebih
bagus kalau dia mulai berdamai dengannya,” kata Victor setuju.
“Itu dia.” Joe
menatap jauh ke sampingnya. Gates datang sambil menenteng sesuatu. “Apa dia
juga membawa makanan untuk kita?”
Flea langsung
menyengir, “kurasa tidak. Yang ada dipikirannya semalam hanya Selene saja. Dia
tahu kalau makanan di rumah sakit sangat tidak enak.”
“Karena dia pernah
merasakannya dan muntah setelahnya,” ingatku sambil memutar mataku.
Gates datang sambil
tersenyum pada kami yang duduk di sana .
“Kenapa kalian diluar?” tanyanya heran.
“Rev sedang bicara
dengan ayahnya,” terang Victor. “Kau bawa apa?”
“Roti dan minuman.”
Ia menyerahkannya padaku. “Aku tahu kita berdua benci makanan rumah sakit.”
Katanya padaku.
Aku menerimanya
sambil tersenyum lebar. “Yah, kebetulan sekali aku belum makan. Terimakasih.”
“Lalu apa yang
terjadi setelah ini?” tanya Gates sambil duduk di bangku yang kosong.
“Kau bertanya
padaku?” tanya Victor karena Gates menatapnya. “Jangan tanya aku, aku bukan
peramal.”
“Sebenarnya yang
kukuatirkan adalah masalah media massa .”
Aku mengungkapkan pikiranku. “Aku takut masalah ini tersebar. Aku benci itu.”
“Tenang, sayang.
Kami sudah mengatur itu. Memang ada berita diluar sana yang mengatakan kalau Rev overdosis dan
dirawat di rumah sakit. Tapi kami sudah mengadakan konferensi pers dadakan
kemarin.” Terang Flea.
“Oh ya? Aku tidak
tahu.”
“Memang sengaja.
Kami sudah memastikan kalau Rev butuh waktu untuk memulihkan kondisinya dan
meminta pihak manajemen menyegel para wartawan diluar zona Rev.” Lanjutnya.
“Tapi bisakah itu
berhasil?”
Victor tersenyum,
“tentu saja. Kami sudah memastikan itu untuknya. Apalagi masa-masa sulitnya
akan dimulai dari sekarang. Kami bisa menuntut banyak hal jika mereka melanggar
itu.” Dan ia menambahkan, “kami pasti juga akan mengawasinya karena dia teman
terbaik kami.”
Kalimat itu langsung
disetujui dengan anggukan pasti dari tiga lainnya. Aku merasa tenang sekarang
dan sangat bersyukur karena Rev dikelilingi teman-teman yang sangat loyal dan
setia dengannya.
Bukankah kau sangat
beruntung Rev? Jika kau mendengar ini, aku yakin kepercayaanmu pada
teman-temanmu takkan pernah kau ragukan. Mereka memberikan bahu mereka sebagai
tempatmu bersandar dan aku… apa yang bisa kuberikan untukmu?
Aku kembali
membiarkan Rev bersama Flea, Gates, Victor, dan Joe. Saat ayahnya keluar, aku
bisa melihat wajah tenangnya dan aura yang terpancar dari tubuhnya. Aku yakin
kalau semuanya berakhir lancar.
Dr.Synyster duduk
di sampingku dan tersenyum. “Terimakasih,” ucapnya tulus. “Baru kali ini aku
bisa bicara panjang lebar dengannya.”
Aku membalas senyumnya.
“Aku senang karena dia akhirnya bisa terbuka.”
“Yah… Seharusnya
dari dulu aku melakukannya. Seharusnya dari dulu aku mendengarnya dan lebih
banyak menghabiskan waktu dengannya.” Ia menggeleng lemah. “Tak kusangka sudah
bertahun-tahun berlalu. Aku juga sudah semakin tua.”
Aku menggenggam
tangannya. “Aku rasa ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.”
Ia mengangguk
setuju. “Dia sebenarnya anak yang baik. Kau jangan tersinggung jika ia
mengungkapkan semua yang ada dipikirannya tentangmu. Sekalipun dia berkata
begitu, ia tetap akan merangkulmu sebagai temannya dan akan ada disaat kau
butuh. Aku juga senang bertemu dengan teman-temannya itu. Mereka selalu siap
untuk mendukungnya. Aku sangat berterimakasih dengan itu.” Katanya.

0 comments: