The Fears (the short story from SHE) - Rain
Bahan-bahan wajib ada:
1.
Dress 6.
Blush on
2.
Lispstick 7.
Maskara
3.
High hill 8.
Parfum
4.
Aye shadow 9.
Gelang / jam
5.
Bedak 10.
Dan lain-lain yang dirasa perlu
Selamat datang di dunia perempuan… jika
kau tidak mau menyebutnya dunia wanita karena Ren merasa itu terlalu ekstrem!
Ini dia dunia segala hal yang berbau
me-re-pot-kan ala perempuan, dimulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi
apa boleh buat, pada dasarnya perempuan memang harus melakukan hal itu. Berdandan!
Ren risih begitu disodori hal apa saja
yang harus dibeli jika dia memang harus berkencan ala film romantis dua hari
lagi. Ajeng yang ahli make up dan touch
up akhirnya dengan senang hati turun tangan membantu Ren yang sama sekali
bukan perempuan sejati ini untuk berubah image.
Dia memberikan training khusus dua hari satu malam sebelum hari H. Dibantu
Sherly, Ren akhirnya berjalan keliling Mall untuk mencari apa saja yang
dibutuhkan.
Ren melihat daftar itu sekali lagi dan
meringis.
“Memangnya harus begini ya?” gumam Ren
risih.
“Ya elah, Reeen… Lu tu mau makan malam.
Di restoran. Bukan di pinggir jalan!” serang Ajeng langsung.
“Iya Ren, kapan lagi lu dinner di
restoran mewah sama si Bapak Ganteng? Biasanya lu cuma makan sate sama nasi
goreng doang, kan?” Sherly terkikik.
Memang sih selama ini kalau Ren dan
Andrea jalan tempat makannnya pasti diantara dua itu. Mereka menyukai
kesederhanaan. Paling tinggi mereka hanya makan di KFC atau food court. Tapi hari ini berbeda.
Andrea memaksanya untuk masuk ke sebuah restoran eksklusif yang mewah dengan
menu wah dan pastinya pengeluarannya mengkuatirkan Ren. Hanya Ren yang kuatir
tapi sebenarnya Andrea yang akan bayar.
Ren risih.
“Denger gue, Ren. Cowok itu sekali-kali
pasti butuh suasana romantis. Lu harus tau itu. Jangan pikirin berapa duit yang
bakal dia keluarin demi ini. Lagi pula gaji dia kan lumayan… belum lagi dia
ngurus bisnis keluarganya sekarang. Ah! Lu kaya lah! Kalau perlu lu bisa minta
pengganti kompi lu sekarang,” seloroh Sherly.
“Hush! Gue nggak bakal begitu!” potong
Ren cepat.
“Iya, gue tahu kok. Tapi yang mau gue
bilang itu sebenarnya adalah lu harus ikutin keinginan dia sekali-kali.”
“Termasuk yang ini?”
“Yup.”
Ren diam, sekali lagi memandang kertas
itu.
“Oke.” Putus Ren mantap sekarang. Mereka
berkeliling mencari barang-barang itu.
Ren manggut-manggut saja begitu Sherly
dan Ajeng ribut soal warna-warna yang cocok Ren pakai untuk acara dinner sakral kali ini. Sherly
membayangkan kalau mereka akan makan malam di bawah temaram lampu dan cahaya
lilin. Ajeng membayangkan sebaliknya. Ia membayangkan menunya. Jadi mereka
berdiskusi panjang soal make up warna apa yang cocok untuk mendukung suasana.
“Yang jelas gue mau yang minimalis!”
tekan Ren berkali-kali.
“Iya, iya, cerewet…” sahut Ajeng yang
masih membungkuk di etalase toko untuk melihat warna-warna itu.
“Habis tabungan gue…” gumam Ren lirih.
“Demi cinta, apa sih yang nggak?” dan
Sherly terbahak.
“Lagi pula ya, ini tu bisa jadi
tabungan masa depan lu,” kata Ajeng sebelum memanggil pegawai toko, “Mbak, saya
mau lihat yang ini.”
“Tenang, Serena, lu bakal jadi cantik
di tangan masternya, lihat aja nanti,” Sherly berkata yakin.
Setelah hampir satu jam mencari make up
dan warna mana yang cocok dengan Ren – Ren nyaris tidak ikut ambil bagian
mengomentari apa yang mereka pilih – akhirnya mereka sampai ke bagian dress.
Ada banyak dress yang ditawarkan di sini, dimulai dari yang berlengan, lengan
buntung, sampai tidak berlengan. Oh! Ren hampir saja ingin keluar toko kalau
Sherly tidak menahannya.
“Tahan sedikit, Buk!” seru Sherly
sambil memegang lengannya.
“Gue nggak tahu kenapa cewek suka pamer
paha, dada, lengan…”
“Mereka merasa cantik saat
melakukannya,” jawab Sherly.
“Mereka bisa masuk angin!”
Ajeng dan Sherly terbahak sekarang. “Iya,
mereka bisa masuk angin,” kata Ajeng. “Mungkin ini bagian dari taktik.”
“Taktik?”
“Biar cowoknya meluk ceweknya,” dan Ajeng
tertawa.
Ren ngeri, “Gue nggak mau pakai itu!”
“Tenang, gue tahu selera lu yang aneh
bin ajaib itu. Gue nemu ini, nih,” Ajeng menyodorkan satu baju lengan buntung longgar
bewarna cokelat pastel. “Berhubung bahu lu itu kecil, jadi gue pilih yang ini.
Lihat, kerah bajunya lebar sedikit, jadi bisa membuat bahu lu terlihat lebar.
Terus, kita bisa pakai kalung etnik di sini. Nah, untuk bawahannya, gue nemu
rok model A warna cokelat tua. Nggak ngembang kok. Lihat, lipatannya jatuh,
lues, nggak banyak. Memang sih di atas lutut, tapi sederhana kan?” ia
menyodorkan itu pada Ren.
Ajeng menambahkan, “Gue tahu lu nggak
suka macam-macam, tapi gue juga tahu kalau lu pecinta kesederhanaan. Jadi
kenapa nggak, kan?”
Sherly yang dari tadi diam saja
sekarang bereaksi, “Sekarang coba dulu. Kalau lu suka, lu pasti nyaman
pakainya. Kalau nggak, kita cari yang lain.”
Ren mengangguk dan langsung menuju ke fitting room di pojok toko. Ia mencoba
calon baju barunya dan mematut dirinya di cermin. Ajeng memang benar. Ia
terlihat serasi dengan dua baju ini, selain itu kakinya juga terlihat jenjang
dan ia terlihat tinggi bak seorang model. Ia juga bisa merasa nyaman
memakainya. Roknya tidak membuatnya risih, tapi bajunya ini membuatnya harus
menahan dingin karena tak berlengan. Akhirnya setelah memutar badan beberapa
kali ia membuka pintu dan pamer di depan dua temannya.
Ajeng dan Sherly terpana. Saking tidak
bisa bicara, mereka justru menganga.
“Aneh ya?” tanya Ren dengan rasa
percaya diri yang memudar.
“Cho! Lu hebat!” pekik Sherly sambil
merangkul temannya itu. “Gue yakin kalau Andrea pasti bakal suka dengan ini!
Sederhana tapi pas!”
“Ya dong! Gue!” Ajeng tertawa bangga.
“Oke, kita pilih yang ini. Next stop, toko sepatu!” umum Sherly
penuh semangat.
Di toko sepatu, Ajeng dan Sherly
kembali menunjukkan kemampuannya yang hebat sebagai perempuan. Sherly memilih sebuah high hill hitam dengan tinggi tiga centi dan setinggi
mata kaki.
“Gue pikir, cukup tinggi high hill ini setinggi mata
kaki aja ya,” katanya lebih pada gumaman.
“Gue nggak tahu. Kalian ahlinya,” kata Ren sambil
mencoba high hill itu. “Tapi gue nggak nyaman nih kalau bukan sepatu.”
“Lu cewek, Ren, kali-kali coba pakai sendal kek.”
“Nanti kalau ada penjahat dan gue harus lari, gimana?”
“Memangnya lu detektif?”
“Siapa tahu gue kecopetan.”
Dan perdebatan tak jelas itu diputus oleh Ajeng. “Ren,
coba lu jalan ke sini,” katanya untuk menguji seberapa luwes Ren berjalan
diatas hak itu.
Ren berdiri dan dengan kikuk berjalan ke arah Ajeng.
“Ah! Yang anggun dong!” protes Sherly di belakang.
“Ini juga udah usaha,” balas Ren. Susahnya jalan pakai
high hill…
“Lemasin badannya. Ikuti irama jalannya.
Satu-dua-satu-dua…” dasar Ajeng, dia malah kasih instruksi belajar jalan di
toko orang.
Ren berhenti. “Kayaknya gue mau pakai sepatu aja deh. Atau
pakai yang lain gitu… Atau gue pakai sneakers
dua sol aja?”
“Nggak!” seru mereka serempak.
Usul itu tentu saja usul gila. Ren makin frustasi
dibuatnya. “Terus gimana?”
Ajeng mengedarkan pandangannya dan menemukan ide. “Ya
udah, lu pake boots aja. Gimana?”
“Boots?” kali ini Sherly kaget. “Nggak salah denger,
nih?”
“Boots ala sailor jupiter!” seru Ajeng sambil tertawa
puas. Tangannya menunjuk pada satu sepatu bewarna hitam yang mengingatkan
mereka semua pada serial Sailor Moon itu.
Sherly tertawa, “Nggak buruk!”
Ren menerima nasibnya.
Count down!
Tinggal beberapa jam lagi setelah hari ini berakhir. Jadi
setelah membeli semua yang ada di list itu, Ren berhasil menghabiskan uang
ratusan ribu hanya demi sebuah makan malam. Ini sangat disayangkan memang. Tapi
ia bertekad untuk kerja lagi demi menambah uang tabungannya.
Malam ini, di kosan Ajeng yang besar mereka bertiga
mulai mempermak Ren habis-habisan.
“Pokoknya, dijamin, Andrea pasti bakal langsung lamar lu
setelah ini!” kata Sherly saat memoles bibir Ren dengan lipstick warna bibir.
Untunglah bibir Ren termasuk sehat dan merah seperti buah apel yang baru
matang.
Ren ingin berkomentar, sayangnya tidak bisa.
“Ren, habis ini coba pakai baju, rok, sama sepatunya ya.
Kita cocokin semuanya,” lalu ia diam sejenak sebelum berseru, “Yah! Kita nggak
punya tas!”
Sherly berhenti. “Aduh! Gue punya sih, tapi nggak
mungkin balik ke kosan sekarang.”
Ren masih belum bisa bicara.
“Ya udah. Tas kecil ini aja deh, rasanya cocok sama
bajunya,” Ajeng membongkar koleksi tasnya. Sebuah tas sandang kecil warna cokelat
pastel lagi keluar dari sana.
“Perasaan dari tadi warnanya cokelat atau cokelat pastel
mulu ya…” gumam Sherly sambil kembali kepekerjaannya.
“Iya sih. Tapi mau gimana lagi? Yang cocok memang cuma
itu. Tergantung budget juga sih.”
Ren masih diam saat Sherly mulai merapikan make up-nya dengan hati-hati.
“Selesai,” seru Sherly. “Gimana, Cho? Mantap nggak?”
Ajeng memperhatikan hasil kerja Sherly. Maskara yang pas
membuat mata Ren terlihat berbinar indah, make up minimalis, sentuhan blush on
yang ringan, wanra bibir yang serasi, semua itu sempurna karena didukung kulit
wajah Ren yang putih merona.
“Sip! Pakai bajunya!” seru Ajeng semangat.
Ren mematut diri lagi di cermin. Ia tidak menyangka
kalau bayangan itu adalah dirinya. Dia tampak sungguh berbeda. Ren terdiam,
belum bereaksi apa-apa.
“Pakai ini,” Ajeng memakaikan sebuah kalung etnik dengan
mata kalung besar berbentuk kupu-kupu dari kayu ke leher Ren. Lalu ia memakaikan
jam tangan dan berkata, “Kamu rambutnya digerai saja, ya. Lebih baik begitu
dari pada dimacem-macemin.”
Tapi Sherly menangkap keanehan pada Ren sekarang. “Ren.
Lu kok diam sih? Tumben.”
Ren menatapnya sambil berpikir. “Gimana kalau makan
malamnya batal?”
“Ngaco lu!” potong Sherly langsung.
“Jangan mikir nggak-nggak dulu. Belum tentulah ini bakal
batal,” potong Ajeng langsung.
“Gue cuma mikir aja…”
“Dari pada gitu, mending lu sekarang belajar jalan dulu
deh, terus nanti belajar table manner.
Itu penting,” kata Ajeng.
Dua hari setelah lelah ini itu dengan segala tetek
bengek tentang peraturan menjadi perempuan, akhirnya waktunya tiba juga.
Setengah jam menjelang pukul tujuh Ren sudah melaju di
atas taxi menuju restoran yang dijanjikan. Sebuah restoran elit di tengah kota
yang sangat mahal dan enak.
Ini makan malam pertama mereka di tempat se eksklusif
itu dan Ren merasa risih. Ia merasa tangannya dibelenggu dan ia tidak siap
menghadapi ketidak nyamanan ini. Dilain itu ia takut kalau dia buat salah. Ia
takut salah tingkah dan itu membuat Andrea makin malu. Sebenarnya dari siang
tadi ia sudah menyiapkan seribu satu alasan agar makan malam ini batal. Tapi
Sherly dan Ajeng berkonspirasi untuk menahan ponselnya.
“Kenapa dia nggak jemput lu, ya?” tanya Sherly bingung
karena tahu kalau Ren akan pergi sendiri.
“Sebenarnya dia di Jakarta sekarang…”
“Maksudnya dia bela-belain ke sini?” tanya Ajeng tidak
percaya.
Ren mengangguk. “Makanya gue heran kenapa dia nggak mau
ngundur ini sehari.”
“Romantisnyaaa… Pasti ini hari spesial ya?” terka Ajeng
lagi.
Ren mengangkat bahunya.
Lima belas menit sebelum pukul tujuh, Ren tiba di
restoran itu. Seorang pelayan menyambutnya, “Selamat datang. Butuh meja untuk
berapa orang?”
Ren diam sejenak, “Saya mau ketemu seseorang. Namanya
Andrea, apa dia sudah datang?”
“Sebentar,” wanita pelayan itu membuka bukunya dan
menekurinya sejenak. “Ah ya, beliau sudah menunggu anda. Mari saya antarkan.”
Ren mengikutinya sambil bertanya-tanya. Dari jam
tangannya ia yakin kalau dia datang terlalu awal dari jam janji mereka. Ia juga
melirik ke jam restoran itu. Andrea datang lebih awal dari jam temu mereka.
Ia melihat Andrea berdiri sambil tersenyum padanya di
salah satu meja berlantai dua yang menghadap ke pemandangan indah di kaca besar
samping mereka. Pelayan wanita itu mengantarnya sampai di sana.
“Apa anda ingin memesan sekarang?” tanya pelayan itu.
“Tinggalkan saja menunya,” kata Andrea.
“Baik,” pelayan itu meninggalkan menunya dan pergi.
Ren risih karena mendapati dirinya menegang dan diperhatikan.
“Hei. Kenapa tegang begitu?” tanya Andrea sambil
menuntunnya duduk.
Ren masih diam sampai akhirnya Andrea duduk di depannya.
Pria itu sangat rapi seperti seorang pengusaha muda yang rebel. Ren hampir tertawa karena ia membayangkan kalau Andrea akan
menyisir licin rambutnya ke belakang demi makan malam ini. Nyatanya pria itu
terlalu santai dan mengesankan kalau ini adalah hal biasa.
“Kamu cantik,” pujinya sungguh-sungguh.
Telak! Pikir Ren. Ia malu dipuji begitu.
“Aku nggak tahu ada angin apa tiba-tiba kamu mau ajak
aku dinner di sini. Ada kabar baik?”
tanya Ren sambil mencoba bicara seperti biasa dan bersikap biasa.
“Sekali-kali aku mau traktir kekasihku makan di sini,
nggak apa-apa kan? Lagi pula ini hari istimewa,” jawabnya sambil memegang
tangan Ren.
“Oh ya? Apa?” tanya Ren penasaran.
“Makan dulu,” ia menggeser menu yang ditinggalkan
pelayan tadi.
Ren nyengir, “Kalau soal makan jangan ditawar, aku pasti
mau kok.”
Andrea tertawa renyah. Setelah memesan, Ren kembali
menyerangnya. “Kamu pulang dari Jakarta jam berapa? Kok nggak ngasih tahu?”
“Sore tadi, jam empat. Namanya juga kejutan, pasti nggak
akan dikasih tahu,” jawabnya santai.
“Terus, tadi sempat tidur nggak?” Ren selalu
mengkuatirkan kondisi Andrea yang jarang tidur karena sibuk.
“Sempat sih… Satu jam…”
Kali ini Ren menghela napasnya, “Ya udah, setidaknya
kamu sempat tidur.”
Andrea nyengir, “Kuatir?”
“Seharusnya nggak,” jawab Ren. “Tapi mau nggak mau
kepikiran juga. Aku nggak mau kamu sakit.”
“Kamu bisa pastikan itu tiap hari,” katanya meyakinkan.
Ren tersenyum dan meraih tangannya. Ia menggenggamnya,
“Aku berusaha,” kata Ren pelan. “Tapi aku tahu batasannya. Kalau kamu serius,
kamu susah diganggu. Makanya aku nggak bisa tiap hari mantau kamu.”
“Kamu masih mikirin itu ya?” ia menatap Ren
sungguh-sungguh sekarang, “Kamu kan punya akses khusus buat ganggu aku kapanpun
kamu mau.”
Ren menggeleng, “Bahkan aku juga butuh sendiri. Aku
yakin kamu juga.”
Andrea tersenyum manis dan menghela napasnya, “Oke. Tapi
aku yakinkan kalau akses itu sangat berlaku untukmu. Ngomong-ngomong kamu
dandan sendiri ya?”
Kali ini Ren menarik tangannya tapi Andrea justru
menahannya.
“Hasil karya duet maut, Sherly ft.Ajeng…” kata Ren pelan
malu-malu.
“Cantik. Aku suka,” pujinya yang membuat Ren yakin kalau
Andrea kurang pandai memberi pujian. “Aku yakin kalau mereka sangat perhatian
padamu.”
Ren mengangkat bahunya, “Yang aku tahu mereka senang
menjadikanku eksperimen.”
“Dan sukses,” katanya tergelak. “Aku sama sekali nggak
nyangka kalau kamu bisa berbeda… hanya dengan sentuhan make up natural dan
sederhana.”
Ren tersenyum, “Well, jangan bahas soal make up dan dandananku
sekarang.”
“Kamu nggak suka?”
“Jujur aku merasa nyaman…”
Andrea menatap matanya sejenak dan tersenyum, “Ren, aku
suka kamu apa adanya,” katanya jujur. “Dan aku suka kamu karena kamu adalah
kamu. Aku nggak akan minta lebih dan nuntut macam-macam karena wanita yang
membuatku jatuh cinta adalah wanita yang menunjukkan hatinya padaku.”
Ren merasa sikap kakunya dan ketidaknyamanannya menguap
drastis saat Andrea berkata jujur begitu. Jujur ia takut membuat Andrea malu
malam ini dan ia sadar kalau ia telah memforsir dirinya untuk dapat bersikap
benar diikat aturan. Tapi Andrea membalikkan itu semua.
Ia mencintainya apa adanya.
“Terus kenapa tiba-tiba ajak makan di sini?” tanya Ren.
“Pingin aja,” jawabnya ringan. “Lagian sekali-kali kita
makan begini nggak apa-apa kan? Nanti kalau kita jalan-jalan ke Eropa, kita
mesti biasa masuk restoran mahal juga,” tambahnya sambil nyengir misterius.
“Ha? Jalan-jalan ke Eropa?” Ren tertawa sekarang, “Yah…
Bermimpilah.”
“Nggak. Nggak mimpi,” balasnya.
“Ha?”
“Kita akan pergi dua minggu lagi setelah kamu selesai
ujian.”
“HA?” Ren langsung membekap mulutnya karena teriak
terlalu keras. Andrea tertawa. “Jangan becanda!” tegur Ren sambil berbisik.
Andrea mengambil dua lembar tiket dari dalam jasnya. Ia
melambaikannya pada Ren. “Kita akan pergi sebentar lagi.”
Ren terlalu tercengang dengan semua ini.
“Dan…” Andrea belum berhenti, “Kamu harus mau. Kita
pergi tanggan 20 Desember selama dua puluh hari. Gimana?”
“Dua puluh…” pikiran Ren berputar mengingat tanggal itu.
“Ini hadiah ulang tahunmu,” bisiknya.
Mewah memang dan Ren kuatir dengan masalah pengeluaran
seolah-olah itu adalah masalah seumur hidupnya.
“Jangan kuatirkan apapun Ren karena aku sangat bingung
harus menghamburkan uangku kemana. Satu-satunya cara ya dengan ini,” ia cemas
mengkuatirkan keputusan Ren sekarang.
Dan Ren memang merasa terbebani dengan hadiah semewah
itu.
Mereka memang masih pacaran tapi dalam kamus Ren jangan
sampai ada yang namanya pemberian berlebihan. Ini tidak baik mengingat masa
depan mereka yang belum pasti. Senyum di wajah Ren memudar seutuhnya. Ia bergerak
gelisah di bangkunya.
“Maaf Andrea… Aku nggak bisa…” Ren menggeleng lemah
menolak hadiah itu.
Ia takut pada masa depan yang belum pasti dan ia takut
kalau semua ketidak pastian itu berdampak pada hubungan mereka nantinya. Jadi
ia menolak.
Andrea menggenggam erat tiket itu, tahu kalau ia telah
memberikan satu gagasan yang pasti akan dihindari Ren. Karena itu ia butuh
penawar lainnya.
Dalam situasi tidak enak itu muncullah pelayan
membawakan minuman yang dipesan. Ren rasanya ingin lari dari sini tapi tidak
bisa. Setelah pelayan berlalu, ia masih belum siap menatap Andrea. Ia diam dan
itu yang dibutuhkan untuk menetralkan suasana hatinya. Mendadak diamnya menjadi
penenang dirinya.
“Aku tahu kamu pasti nolak,” kata Andrea tenang.
Ren mengintip sekilas dan ia tidak melihat Andrea
tersinggung.
“Karena itu aku mau memastikan sesuatu. Kamu harus tahu
kalau aku bertaruh dengan diriku sendiri di sini,” katanya sambil merogoh
sakunya dan menyembunyikan tiketnya. “Ren,” panggilnya sambil meraih tangan
kanan Ren. “Aku mau kamu tahu kalau aku sangat serius dengan hubungan kita.”
Ren mengangkat kepalanya sekarang dan melihat Andrea
menatapnya sungguh-sungguh.
“Dan aku tahu kalau aku nggak siap menerima resiko
terbesar. Aku nggak mau kehilangan kamu,” lanjutnya jujur. “Kamu adalah separuh
dari nyawaku sendiri dan aku harap kamu bisa merasakan hal yang sama denganku.”
Ren ingin bicara tapi ia menahan ucapannya dulu.
“Karena itu aku mau memperjelas hubungan kita agar tiket
ini juga nggak sia-sia.”
“Andrea, aku –”
“Kamu boleh jawab ini nanti tapi aku mau bilang,” Andrea
menarik napasnya dan mengeluarkan cincin dari kotak itu, “Aku serius denganmu,”
ia memakaikan cincin itu pada Ren.
Ren merasa rasa bahagia membuncah tak terelakkan. Ia
hampir saja menangis begitu melihat cincin dengan batu bewarna biru laut itu
memancarkan kilau yang sangat memukau. Andrea menggenggam tangannya.
“Dasar!” itu kata pertama Ren yang terlalu terkejut dan
bahagia dengan semuanya, “Sepertinya kamu harus bawa aku keliling Eropa
sebulan!” dan Ren tertawa.
“Oke, sebulan. Bisa diatur,” senyum tak lepas dari wajah
Andrea.
“Dan aku nggak mau keluar uang sendiri,” sambung Ren
lagi.
“Kamu nggak boleh keluar uang sepersenpun!” kata Andrea
serius.
“Kalau begitu kapan?” tanya Ren.
“Segera, minggu depan aku bisa melamarmu, kan?”
Ren tertawa, “Terlalu cepat.”
“Memang. Tapi kamu tahu kalau aku lebih suka bertindak
dari pada memberi janji-janji,” katanya, “Dan aku nggak mau bawa lari anak
orang, pastinya. Aku yakinkan kalau lebih cepat lebih baik.”
Memang itulah Andrea. Dan sekarang mereka bisa makan
malam lebih tenang. Rasanya acara lamaran dadakan itu membuat Ren merasa lebih
tenang sekaligus was-was karena sekarang mereka naik ke status yang lebih
tinggi lagi.
“Tahun depan, kita menikah,” kata Andrea mantap.
“Ha?”
“Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja.”
“Ah! Aku terjebak!”
“Maaf, Cinta, tapi aku sama sekali nggak nyesal.”
Katanya dengan cengiran kemenangan.
Dan dengan senyum pura-pura kesal Ren berkata, “Aku pasti
sibuk.”
Andrea tertawa.


0 comments: