The Fears (the short story from SHE) - Rain

8:48 PM fe 0 Comments



Bahan-bahan wajib ada:
1.      Dress                                   6. Blush on
2.      Lispstick                              7. Maskara
3.      High hill                               8. Parfum
4.      Aye shadow                          9. Gelang / jam
5.      Bedak                                  10. Dan lain-lain yang dirasa perlu

Selamat datang di dunia perempuan… jika kau tidak mau menyebutnya dunia wanita karena Ren merasa itu terlalu ekstrem!
Ini dia dunia segala hal yang berbau me-re-pot-kan ala perempuan, dimulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi apa boleh buat, pada dasarnya perempuan memang harus melakukan hal itu. Berdandan!
Ren risih begitu disodori hal apa saja yang harus dibeli jika dia memang harus berkencan ala film romantis dua hari lagi. Ajeng yang ahli make up dan touch up akhirnya dengan senang hati turun tangan membantu Ren yang sama sekali bukan perempuan sejati ini untuk berubah image. Dia memberikan training khusus dua hari satu malam sebelum hari H. Dibantu Sherly, Ren akhirnya berjalan keliling Mall untuk mencari apa saja yang dibutuhkan.
Ren melihat daftar itu sekali lagi dan meringis.

“Memangnya harus begini ya?” gumam Ren risih.
“Ya elah, Reeen… Lu tu mau makan malam. Di restoran. Bukan di pinggir jalan!” serang Ajeng langsung.
“Iya Ren, kapan lagi lu dinner di restoran mewah sama si Bapak Ganteng? Biasanya lu cuma makan sate sama nasi goreng doang, kan?” Sherly terkikik.
Memang sih selama ini kalau Ren dan Andrea jalan tempat makannnya pasti diantara dua itu. Mereka menyukai kesederhanaan. Paling tinggi mereka hanya makan di KFC atau food court. Tapi hari ini berbeda. Andrea memaksanya untuk masuk ke sebuah restoran eksklusif yang mewah dengan menu wah dan pastinya pengeluarannya mengkuatirkan Ren. Hanya Ren yang kuatir tapi sebenarnya Andrea yang akan bayar.
Ren risih.
“Denger gue, Ren. Cowok itu sekali-kali pasti butuh suasana romantis. Lu harus tau itu. Jangan pikirin berapa duit yang bakal dia keluarin demi ini. Lagi pula gaji dia kan lumayan… belum lagi dia ngurus bisnis keluarganya sekarang. Ah! Lu kaya lah! Kalau perlu lu bisa minta pengganti kompi lu sekarang,” seloroh Sherly.
“Hush! Gue nggak bakal begitu!” potong Ren cepat.
“Iya, gue tahu kok. Tapi yang mau gue bilang itu sebenarnya adalah lu harus ikutin keinginan dia sekali-kali.”
“Termasuk yang ini?”
“Yup.”
Ren diam, sekali lagi memandang kertas itu.
“Oke.” Putus Ren mantap sekarang. Mereka berkeliling mencari barang-barang itu.
Ren manggut-manggut saja begitu Sherly dan Ajeng ribut soal warna-warna yang cocok Ren pakai untuk acara dinner sakral kali ini. Sherly membayangkan kalau mereka akan makan malam di bawah temaram lampu dan cahaya lilin. Ajeng membayangkan sebaliknya. Ia membayangkan menunya. Jadi mereka berdiskusi panjang soal make up warna apa yang cocok untuk mendukung suasana.
“Yang jelas gue mau yang minimalis!” tekan Ren berkali-kali.
“Iya, iya, cerewet…” sahut Ajeng yang masih membungkuk di etalase toko untuk melihat warna-warna itu.
“Habis tabungan gue…” gumam Ren lirih.
“Demi cinta, apa sih yang nggak?” dan Sherly terbahak.
“Lagi pula ya, ini tu bisa jadi tabungan masa depan lu,” kata Ajeng sebelum memanggil pegawai toko, “Mbak, saya mau lihat yang ini.”
“Tenang, Serena, lu bakal jadi cantik di tangan masternya, lihat aja nanti,” Sherly berkata yakin.
Setelah hampir satu jam mencari make up dan warna mana yang cocok dengan Ren – Ren nyaris tidak ikut ambil bagian mengomentari apa yang mereka pilih – akhirnya mereka sampai ke bagian dress.
Ada banyak dress yang ditawarkan di sini, dimulai dari yang berlengan, lengan buntung, sampai tidak berlengan. Oh! Ren hampir saja ingin keluar toko kalau Sherly tidak menahannya.
“Tahan sedikit, Buk!” seru Sherly sambil memegang lengannya.
“Gue nggak tahu kenapa cewek suka pamer paha, dada, lengan…”
“Mereka merasa cantik saat melakukannya,” jawab Sherly.
“Mereka bisa masuk angin!”
Ajeng dan Sherly terbahak sekarang. “Iya, mereka bisa masuk angin,” kata Ajeng. “Mungkin ini bagian dari taktik.”
“Taktik?”
“Biar cowoknya meluk ceweknya,” dan Ajeng tertawa.
Ren ngeri, “Gue nggak mau pakai itu!”
“Tenang, gue tahu selera lu yang aneh bin ajaib itu. Gue nemu ini, nih,” Ajeng menyodorkan satu baju lengan buntung longgar bewarna cokelat pastel. “Berhubung bahu lu itu kecil, jadi gue pilih yang ini. Lihat, kerah bajunya lebar sedikit, jadi bisa membuat bahu lu terlihat lebar. Terus, kita bisa pakai kalung etnik di sini. Nah, untuk bawahannya, gue nemu rok model A warna cokelat tua. Nggak ngembang kok. Lihat, lipatannya jatuh, lues, nggak banyak. Memang sih di atas lutut, tapi sederhana kan?” ia menyodorkan itu pada Ren.
Ajeng menambahkan, “Gue tahu lu nggak suka macam-macam, tapi gue juga tahu kalau lu pecinta kesederhanaan. Jadi kenapa nggak, kan?”
Sherly yang dari tadi diam saja sekarang bereaksi, “Sekarang coba dulu. Kalau lu suka, lu pasti nyaman pakainya. Kalau nggak, kita cari yang lain.”
Ren mengangguk dan langsung menuju ke fitting room di pojok toko. Ia mencoba calon baju barunya dan mematut dirinya di cermin. Ajeng memang benar. Ia terlihat serasi dengan dua baju ini, selain itu kakinya juga terlihat jenjang dan ia terlihat tinggi bak seorang model. Ia juga bisa merasa nyaman memakainya. Roknya tidak membuatnya risih, tapi bajunya ini membuatnya harus menahan dingin karena tak berlengan. Akhirnya setelah memutar badan beberapa kali ia membuka pintu dan pamer di depan dua temannya.
Ajeng dan Sherly terpana. Saking tidak bisa bicara, mereka justru menganga.
“Aneh ya?” tanya Ren dengan rasa percaya diri yang memudar.
“Cho! Lu hebat!” pekik Sherly sambil merangkul temannya itu. “Gue yakin kalau Andrea pasti bakal suka dengan ini! Sederhana tapi pas!”
“Ya dong! Gue!” Ajeng tertawa bangga.
“Oke, kita pilih yang ini. Next stop, toko sepatu!” umum Sherly penuh semangat.
Di toko sepatu, Ajeng dan Sherly kembali menunjukkan kemampuannya yang hebat sebagai perempuan. Sherly memilih sebuah high hill hitam dengan tinggi tiga centi dan setinggi mata kaki.
“Gue pikir, cukup tinggi high hill ini setinggi mata kaki aja ya,” katanya lebih pada gumaman.
“Gue nggak tahu. Kalian ahlinya,” kata Ren sambil mencoba high hill itu. “Tapi gue nggak nyaman nih kalau bukan sepatu.”
“Lu cewek, Ren, kali-kali coba pakai sendal kek.”
“Nanti kalau ada penjahat dan gue harus lari, gimana?”
“Memangnya lu detektif?”
“Siapa tahu gue kecopetan.”
Dan perdebatan tak jelas itu diputus oleh Ajeng. “Ren, coba lu jalan ke sini,” katanya untuk menguji seberapa luwes Ren berjalan diatas hak itu.
Ren berdiri dan dengan kikuk berjalan ke arah Ajeng.
“Ah! Yang anggun dong!” protes Sherly di belakang.
“Ini juga udah usaha,” balas Ren. Susahnya jalan pakai high hill…
“Lemasin badannya. Ikuti irama jalannya. Satu-dua-satu-dua…” dasar Ajeng, dia malah kasih instruksi belajar jalan di toko orang.
Ren berhenti. “Kayaknya gue mau pakai sepatu aja deh. Atau pakai yang lain gitu… Atau gue pakai sneakers dua sol aja?”
“Nggak!” seru mereka serempak.
Usul itu tentu saja usul gila. Ren makin frustasi dibuatnya. “Terus gimana?”
Ajeng mengedarkan pandangannya dan menemukan ide. “Ya udah, lu pake boots aja. Gimana?”
“Boots?” kali ini Sherly kaget. “Nggak salah denger, nih?”
“Boots ala sailor jupiter!” seru Ajeng sambil tertawa puas. Tangannya menunjuk pada satu sepatu bewarna hitam yang mengingatkan mereka semua pada serial Sailor Moon itu.
Sherly tertawa, “Nggak buruk!”
Ren menerima nasibnya.


Count down!
Tinggal beberapa jam lagi setelah hari ini berakhir. Jadi setelah membeli semua yang ada di list itu, Ren berhasil menghabiskan uang ratusan ribu hanya demi sebuah makan malam. Ini sangat disayangkan memang. Tapi ia bertekad untuk kerja lagi demi menambah uang tabungannya.
Malam ini, di kosan Ajeng yang besar mereka bertiga mulai mempermak Ren habis-habisan.
“Pokoknya, dijamin, Andrea pasti bakal langsung lamar lu setelah ini!” kata Sherly saat memoles bibir Ren dengan lipstick warna bibir. Untunglah bibir Ren termasuk sehat dan merah seperti buah apel yang baru matang.
Ren ingin berkomentar, sayangnya tidak bisa.
“Ren, habis ini coba pakai baju, rok, sama sepatunya ya. Kita cocokin semuanya,” lalu ia diam sejenak sebelum berseru, “Yah! Kita nggak punya tas!”
Sherly berhenti. “Aduh! Gue punya sih, tapi nggak mungkin balik ke kosan sekarang.”
Ren masih belum bisa bicara.
“Ya udah. Tas kecil ini aja deh, rasanya cocok sama bajunya,” Ajeng membongkar koleksi tasnya. Sebuah tas sandang kecil warna cokelat pastel lagi keluar dari sana.
“Perasaan dari tadi warnanya cokelat atau cokelat pastel mulu ya…” gumam Sherly sambil kembali kepekerjaannya.
“Iya sih. Tapi mau gimana lagi? Yang cocok memang cuma itu. Tergantung budget juga sih.”
Ren masih diam saat Sherly mulai merapikan make up-nya dengan hati-hati.
“Selesai,” seru Sherly. “Gimana, Cho? Mantap nggak?”
Ajeng memperhatikan hasil kerja Sherly. Maskara yang pas membuat mata Ren terlihat berbinar indah, make up minimalis, sentuhan blush on yang ringan, wanra bibir yang serasi, semua itu sempurna karena didukung kulit wajah Ren yang putih merona.
“Sip! Pakai bajunya!” seru Ajeng semangat.
Ren mematut diri lagi di cermin. Ia tidak menyangka kalau bayangan itu adalah dirinya. Dia tampak sungguh berbeda. Ren terdiam, belum bereaksi apa-apa.
“Pakai ini,” Ajeng memakaikan sebuah kalung etnik dengan mata kalung besar berbentuk kupu-kupu dari kayu ke leher Ren. Lalu ia memakaikan jam tangan dan berkata, “Kamu rambutnya digerai saja, ya. Lebih baik begitu dari pada dimacem-macemin.”
Tapi Sherly menangkap keanehan pada Ren sekarang. “Ren. Lu kok diam sih? Tumben.”
Ren menatapnya sambil berpikir. “Gimana kalau makan malamnya batal?”
“Ngaco lu!” potong Sherly langsung.
“Jangan mikir nggak-nggak dulu. Belum tentulah ini bakal batal,” potong Ajeng langsung.
“Gue cuma mikir aja…”
“Dari pada gitu, mending lu sekarang belajar jalan dulu deh, terus nanti belajar table manner. Itu penting,” kata Ajeng.


Dua hari setelah lelah ini itu dengan segala tetek bengek tentang peraturan menjadi perempuan, akhirnya waktunya tiba juga.
Setengah jam menjelang pukul tujuh Ren sudah melaju di atas taxi menuju restoran yang dijanjikan. Sebuah restoran elit di tengah kota yang sangat mahal dan enak.
Ini makan malam pertama mereka di tempat se eksklusif itu dan Ren merasa risih. Ia merasa tangannya dibelenggu dan ia tidak siap menghadapi ketidak nyamanan ini. Dilain itu ia takut kalau dia buat salah. Ia takut salah tingkah dan itu membuat Andrea makin malu. Sebenarnya dari siang tadi ia sudah menyiapkan seribu satu alasan agar makan malam ini batal. Tapi Sherly dan Ajeng berkonspirasi untuk menahan ponselnya.
“Kenapa dia nggak jemput lu, ya?” tanya Sherly bingung karena tahu kalau Ren akan pergi sendiri.
“Sebenarnya dia di Jakarta sekarang…”
“Maksudnya dia bela-belain ke sini?” tanya Ajeng tidak percaya.
Ren mengangguk. “Makanya gue heran kenapa dia nggak mau ngundur ini sehari.”
“Romantisnyaaa… Pasti ini hari spesial ya?” terka Ajeng lagi.
Ren mengangkat bahunya.


Lima belas menit sebelum pukul tujuh, Ren tiba di restoran itu. Seorang pelayan menyambutnya, “Selamat datang. Butuh meja untuk berapa orang?”
Ren diam sejenak, “Saya mau ketemu seseorang. Namanya Andrea, apa dia sudah datang?”
“Sebentar,” wanita pelayan itu membuka bukunya dan menekurinya sejenak. “Ah ya, beliau sudah menunggu anda. Mari saya antarkan.”
Ren mengikutinya sambil bertanya-tanya. Dari jam tangannya ia yakin kalau dia datang terlalu awal dari jam janji mereka. Ia juga melirik ke jam restoran itu. Andrea datang lebih awal dari jam temu mereka.
Ia melihat Andrea berdiri sambil tersenyum padanya di salah satu meja berlantai dua yang menghadap ke pemandangan indah di kaca besar samping mereka. Pelayan wanita itu mengantarnya sampai di sana.
“Apa anda ingin memesan sekarang?” tanya pelayan itu.
“Tinggalkan saja menunya,” kata Andrea.
“Baik,” pelayan itu meninggalkan menunya dan pergi.
Ren risih karena mendapati dirinya menegang dan diperhatikan.
“Hei. Kenapa tegang begitu?” tanya Andrea sambil menuntunnya duduk.
Ren masih diam sampai akhirnya Andrea duduk di depannya. Pria itu sangat rapi seperti seorang pengusaha muda yang rebel. Ren hampir tertawa karena ia membayangkan kalau Andrea akan menyisir licin rambutnya ke belakang demi makan malam ini. Nyatanya pria itu terlalu santai dan mengesankan kalau ini adalah hal biasa.
“Kamu cantik,” pujinya sungguh-sungguh.
Telak! Pikir Ren. Ia malu dipuji begitu.
“Aku nggak tahu ada angin apa tiba-tiba kamu mau ajak aku dinner di sini. Ada kabar baik?” tanya Ren sambil mencoba bicara seperti biasa dan bersikap biasa.
“Sekali-kali aku mau traktir kekasihku makan di sini, nggak apa-apa kan? Lagi pula ini hari istimewa,” jawabnya sambil memegang tangan Ren.
“Oh ya? Apa?” tanya Ren penasaran.
“Makan dulu,” ia menggeser menu yang ditinggalkan pelayan tadi.
Ren nyengir, “Kalau soal makan jangan ditawar, aku pasti mau kok.”
Andrea tertawa renyah. Setelah memesan, Ren kembali menyerangnya. “Kamu pulang dari Jakarta jam berapa? Kok nggak ngasih tahu?”
“Sore tadi, jam empat. Namanya juga kejutan, pasti nggak akan dikasih tahu,” jawabnya santai.
“Terus, tadi sempat tidur nggak?” Ren selalu mengkuatirkan kondisi Andrea yang jarang tidur karena sibuk.
“Sempat sih… Satu jam…”
Kali ini Ren menghela napasnya, “Ya udah, setidaknya kamu sempat tidur.”
Andrea nyengir, “Kuatir?”
“Seharusnya nggak,” jawab Ren. “Tapi mau nggak mau kepikiran juga. Aku nggak mau kamu sakit.”
“Kamu bisa pastikan itu tiap hari,” katanya meyakinkan.
Ren tersenyum dan meraih tangannya. Ia menggenggamnya, “Aku berusaha,” kata Ren pelan. “Tapi aku tahu batasannya. Kalau kamu serius, kamu susah diganggu. Makanya aku nggak bisa tiap hari mantau kamu.”
“Kamu masih mikirin itu ya?” ia menatap Ren sungguh-sungguh sekarang, “Kamu kan punya akses khusus buat ganggu aku kapanpun kamu mau.”
Ren menggeleng, “Bahkan aku juga butuh sendiri. Aku yakin kamu juga.”
Andrea tersenyum manis dan menghela napasnya, “Oke. Tapi aku yakinkan kalau akses itu sangat berlaku untukmu. Ngomong-ngomong kamu dandan sendiri ya?”
Kali ini Ren menarik tangannya tapi Andrea justru menahannya.
“Hasil karya duet maut, Sherly ft.Ajeng…” kata Ren pelan malu-malu.
“Cantik. Aku suka,” pujinya yang membuat Ren yakin kalau Andrea kurang pandai memberi pujian. “Aku yakin kalau mereka sangat perhatian padamu.”
Ren mengangkat bahunya, “Yang aku tahu mereka senang menjadikanku eksperimen.”
“Dan sukses,” katanya tergelak. “Aku sama sekali nggak nyangka kalau kamu bisa berbeda… hanya dengan sentuhan make up natural dan sederhana.”
Ren tersenyum, “Well, jangan bahas soal make up dan dandananku sekarang.”
“Kamu nggak suka?”
“Jujur aku merasa nyaman…”
Andrea menatap matanya sejenak dan tersenyum, “Ren, aku suka kamu apa adanya,” katanya jujur. “Dan aku suka kamu karena kamu adalah kamu. Aku nggak akan minta lebih dan nuntut macam-macam karena wanita yang membuatku jatuh cinta adalah wanita yang menunjukkan hatinya padaku.”
Ren merasa sikap kakunya dan ketidaknyamanannya menguap drastis saat Andrea berkata jujur begitu. Jujur ia takut membuat Andrea malu malam ini dan ia sadar kalau ia telah memforsir dirinya untuk dapat bersikap benar diikat aturan. Tapi Andrea membalikkan itu semua.
Ia mencintainya apa adanya.
“Terus kenapa tiba-tiba ajak makan di sini?” tanya Ren.
“Pingin aja,” jawabnya ringan. “Lagian sekali-kali kita makan begini nggak apa-apa kan? Nanti kalau kita jalan-jalan ke Eropa, kita mesti biasa masuk restoran mahal juga,” tambahnya sambil nyengir misterius.
“Ha? Jalan-jalan ke Eropa?” Ren tertawa sekarang, “Yah… Bermimpilah.”
“Nggak. Nggak mimpi,” balasnya.
“Ha?”
“Kita akan pergi dua minggu lagi setelah kamu selesai ujian.”
“HA?” Ren langsung membekap mulutnya karena teriak terlalu keras. Andrea tertawa. “Jangan becanda!” tegur Ren sambil berbisik.
Andrea mengambil dua lembar tiket dari dalam jasnya. Ia melambaikannya pada Ren. “Kita akan pergi sebentar lagi.”
Ren terlalu tercengang dengan semua ini.
“Dan…” Andrea belum berhenti, “Kamu harus mau. Kita pergi tanggan 20 Desember selama dua puluh hari. Gimana?”
“Dua puluh…” pikiran Ren berputar mengingat tanggal itu.
“Ini hadiah ulang tahunmu,” bisiknya.
Mewah memang dan Ren kuatir dengan masalah pengeluaran seolah-olah itu adalah masalah seumur hidupnya.
“Jangan kuatirkan apapun Ren karena aku sangat bingung harus menghamburkan uangku kemana. Satu-satunya cara ya dengan ini,” ia cemas mengkuatirkan keputusan Ren sekarang.
Dan Ren memang merasa terbebani dengan hadiah semewah itu.
Mereka memang masih pacaran tapi dalam kamus Ren jangan sampai ada yang namanya pemberian berlebihan. Ini tidak baik mengingat masa depan mereka yang belum pasti. Senyum di wajah Ren memudar seutuhnya. Ia bergerak gelisah di bangkunya.
“Maaf Andrea… Aku nggak bisa…” Ren menggeleng lemah menolak hadiah itu.
Ia takut pada masa depan yang belum pasti dan ia takut kalau semua ketidak pastian itu berdampak pada hubungan mereka nantinya. Jadi ia menolak.
Andrea menggenggam erat tiket itu, tahu kalau ia telah memberikan satu gagasan yang pasti akan dihindari Ren. Karena itu ia butuh penawar lainnya.
Dalam situasi tidak enak itu muncullah pelayan membawakan minuman yang dipesan. Ren rasanya ingin lari dari sini tapi tidak bisa. Setelah pelayan berlalu, ia masih belum siap menatap Andrea. Ia diam dan itu yang dibutuhkan untuk menetralkan suasana hatinya. Mendadak diamnya menjadi penenang dirinya.
“Aku tahu kamu pasti nolak,” kata Andrea tenang.
Ren mengintip sekilas dan ia tidak melihat Andrea tersinggung.
“Karena itu aku mau memastikan sesuatu. Kamu harus tahu kalau aku bertaruh dengan diriku sendiri di sini,” katanya sambil merogoh sakunya dan menyembunyikan tiketnya. “Ren,” panggilnya sambil meraih tangan kanan Ren. “Aku mau kamu tahu kalau aku sangat serius dengan hubungan kita.”
Ren mengangkat kepalanya sekarang dan melihat Andrea menatapnya sungguh-sungguh.
“Dan aku tahu kalau aku nggak siap menerima resiko terbesar. Aku nggak mau kehilangan kamu,” lanjutnya jujur. “Kamu adalah separuh dari nyawaku sendiri dan aku harap kamu bisa merasakan hal yang sama denganku.”
Ren ingin bicara tapi ia menahan ucapannya dulu.
“Karena itu aku mau memperjelas hubungan kita agar tiket ini juga nggak sia-sia.”
“Andrea, aku –”
“Kamu boleh jawab ini nanti tapi aku mau bilang,” Andrea menarik napasnya dan mengeluarkan cincin dari kotak itu, “Aku serius denganmu,” ia memakaikan cincin itu pada Ren.
Ren merasa rasa bahagia membuncah tak terelakkan. Ia hampir saja menangis begitu melihat cincin dengan batu bewarna biru laut itu memancarkan kilau yang sangat memukau. Andrea menggenggam tangannya.
“Dasar!” itu kata pertama Ren yang terlalu terkejut dan bahagia dengan semuanya, “Sepertinya kamu harus bawa aku keliling Eropa sebulan!” dan Ren tertawa.
“Oke, sebulan. Bisa diatur,” senyum tak lepas dari wajah Andrea.
“Dan aku nggak mau keluar uang sendiri,” sambung Ren lagi.
“Kamu nggak boleh keluar uang sepersenpun!” kata Andrea serius.
“Kalau begitu kapan?” tanya Ren.
“Segera, minggu depan aku bisa melamarmu, kan?”
Ren tertawa, “Terlalu cepat.”
“Memang. Tapi kamu tahu kalau aku lebih suka bertindak dari pada memberi janji-janji,” katanya, “Dan aku nggak mau bawa lari anak orang, pastinya. Aku yakinkan kalau lebih cepat lebih baik.”
Memang itulah Andrea. Dan sekarang mereka bisa makan malam lebih tenang. Rasanya acara lamaran dadakan itu membuat Ren merasa lebih tenang sekaligus was-was karena sekarang mereka naik ke status yang lebih tinggi lagi.
“Tahun depan, kita menikah,” kata Andrea mantap.
“Ha?”
“Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja.”
“Ah! Aku terjebak!”
“Maaf, Cinta, tapi aku sama sekali nggak nyesal.” Katanya dengan cengiran kemenangan.
Dan dengan senyum pura-pura kesal Ren berkata, “Aku pasti sibuk.”
Andrea tertawa.

You Might Also Like

0 comments: