The Moon and The Sun #25 - Rain
25
Alamat yang
berhasil didapatkan Mrs.Ross menunjukkan nama sebuah rumah sakit yang berada di
Georgia. Apa yang dilakukan Ciro di sana ?
Aku tidak pernah ke Georgia
sebelumnya dan aku merasa sangat salah mengandalkan Gates atau yang lainnya
disaat seperti ini. Sambil menumpang taxi aku pulang menuju apartemenku. Aku
sempat mencari data-data tentang rumah sakit itu dan merasa bingung sendiri.
Aku menghela napas pasrah dan iseng-iseng membuka email. Rasanya sudah lama
sekali tidak mengecek isinya.
AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!
Sarah, temanku
semasa kuliah di Indonesia
itu memang bukan tipe orang yang sabaran. Sudah lama sekali aku tidak mendengar
kabarnya. Kabar terakhir yang kuingat datang lima bulan lalu. Ia bilang sedang mengambil
gelar S3 nya di Amerika dan akan menyelesaikannya secepatnya. Aku melihat
tanggal kirimnya. Email ini sudah dua hari dikirim ke sini.
Kamis, 8 Desember 2011
From : Sarah
Arina Fitra
To :
Selene Anderson
Subject : AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!
Kau harus tahu kalau aku sudah terlalu lama merindukanmu!
Apa kabar? Sekarang aku masih di Amerika dan sudah diwisuda dua bulan lalu.
Well, kenapa nggak balas-balas emailku, sih? Apa semua emailku ada di spam? Kau HARUS cek isi spammu itu. Aku nggak mau tahu! Pokoknya
setelah baca email ini segera hubungi aku lewat Skype. Oh ya, kalau kau ada di
Chicago, jangan lupa kunjungi Georgia .
Aku kerja di sana .
Aku tertegun
membaca surat
itu.
Aku merasa secercah
harapan muncul lagi dan aku sangat bersyukur kalau Sarah yang cerewet itu
memilih Georgia
sebagai tempat tinggalnya sekarang. Aku tersenyum lebar dan merasa semangatku
mendadak naik. Sambil berusaha sabar untuk tidak melompat dari mobil demi cepat
sampai ke apartemen, aku membalas emailnya saat itu juga.
Sabtu, 10 Desember 2011
From : Selene
Anderson
To :
Sarah Arina Fitra
Subject : Re:
AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!
Nah, teman, aku sudah membalasnya. Jadi kau harus bersiap di
depan komputermu karena aku akan menghubungimu sebentar lagi. Aku butuh bantuan
dan ini sangat URGENT! Aku tahu kalau
kau selalu membuka emailmu 24 jam, jadi jangan abaikan panggilanku! Oke! Ini sangat
mendesak! URGENT!
Akhirnya taxi yang
kutumpangi berhenti juga. Setelah membayar, aku buru-buru berlari menuju lift.
Aku melihat Gates berlari menghampiriku dari sudut mataku.
“Kau sudah pulang.”
Katanya saat tiba disampingku.
“Gates! Ciro pergi
–” kata-kataku langsung terputus saat aku tersentak oleh hal yang tiba-tiba
mengganjal dibenakku.
“Kau tahu?”
tanyanya pelan saat aku masih belum juga bersuara.
“Kau tahu.” Itu
bukan pertanyaan tapi pernyataan. “Kau pasti tahu kalau dia pergi, kan ?” aku menuduhnya
begitu saja.
Akhirnya pintu lift
itu terbuka. Dua orang yang ada di dalamnya segera keluar. Gates menarikku
masuk ke dalam dan menekan tombol.
“Yah, kau benar.”
Akunya pelan.
Aku menatapnya
dengan tatapan tidak percaya sekaligus marah. “Kalau kau tahu kenapa tidak
memberitahuku?” tanyaku marah.
“Apa itu baik
untukmu atau untuknya?” tanyanya.
“Kau tahu
masalahnya?”
“Aku tak mau ambil
resiko.”
“Mengatakan di mana
dia adalah resiko?” aku hampir tidak percaya itu. “Apa aku akan membuat
semuanya runyam?” aku sama sekali tidak mengerti itu.
“Kalian berdua
punya masa lalu yang rumit.”
“Dan kau pikir itu
tidak bisa selesai.”
“Dia hanya minta
waktu, itu saja.” Debatnya. “Apa kau paham? Ini tidak mudah!”
Aku menahan napasku
sebelum akhirnya mengeluarkannya. Aku harus tenang karena tidak ada gunanya
berdebat hal ini sekarang. Aku menjernihkan pikiranku.
Memang benar.
Mendatanginya adalah resiko. Tapi apa aku bisa bersabar? Apa aku bisa menunggu
selama itu? Dia harus kembali, kan ?
Tapi kapan dia siap untuk itu?
Kapan dia bisa siap
menghadapiku?
Sementara aku di
sini merasa tidak sabar untuk menemukannya, di sana dia sedang berusaha menenangkan hatinya.
Tindakanku yang serba terburu-buru hanya akan membuat semuanya buruk.
Aku bersandar ke
dinding lift yang dingin dan membiarkan keheningan mengambang diantara kami.
Aku tahu kalau Gates sangat mempertimbangkan perasaan kami berdua. Walau
sekarang ia terlihat keras, tapi aku tahu kalau apa yang dikatakannya sangat
benar.
“Maaf…” kataku
menyesal.
Ia menatapku.
Tatapannya yang keras seketika berubah menjadi lembut. “Ini hanya masalah
waktu, Selene.”
Sepuluh menit
kemudian aku tenggelam dalam percakapan antara aku dan Sarah.
“Aku tahu pasien
itu,” kata Sarah sambil mengunyah cemilannya. “Dia baru datang kemarin dan
langsung membuat semua mata pasien disini tertuju padanya.” Kali ini ia
tertawa. “Kupikir dia itu artis atau apa…”
Aku merasa
benar-benar senang karena rumah sakit tempat Sarah bekerja ternyata tempat
Cirino dirawat. Aku menatapnya dari monitorku. Ia masih sama seperti dulu, khas
wanita asia dengan kulit sawo matang, hidung
pesek, tapi wajah yang cantik dan bersih.
“Apa aku bisa minta
tolong?” tanyaku. “Aku ingin kau memantaunya, itu saja.”
Ia berpikir
sejenak. “Well, Selene, aku nggak bisa janji.”
“Kenapa?” tanyaku
kaget.
“Dia itu dirawat
sama seorang dokter misterius. Maksudku… Dokter yang menanganinya itu sangat
menjaga kerahasiaan sakit pasiennya dari dokter lainnya. Orang itu memang aneh
dan suka seenaknya sendiri.”
“Apa dia ditangani
seorang dokter spesialis?” tanyaku.
“Hm!” Jawabnya.
“Seorang ahli penyakit dalam.”
“Apa itu?”
“Lambung.”
“Lambung?” aku
mengerutkan kening tanda bingung. “Seingatku dia kecanduan obat.”
“Obat? Obat apa
dulu?” ia minta keterangan.
“Apa ya? Aku tidak
tahu.”
“Psikotropika?
Narkoba? Obat tidur?” ia mencoba memberi pilihan yang mungkin. “Atau obat
bius?”
“Nah, aku tidak
tahu. Aku tidak ahli dengan masalah obat.” Akuku. “Yang jelas dokter di sini
bilang kalau dia ketergantungan.”
Sarah tampak
berpikir sejenak. “Aku nggak tahu kenapa dokter itu bilang begitu. Yang jelas
di sini bukan panti rehabilitasi.”
“Apa kau bisa
menarik kesimpulan dari ketergantungan obat dengan masalah lambung? Apa dia
overdosis obat magh?” tanyaku.
Ia terlihat
menaikkan alisnya. “Yah, mungkin saja. Tapi aku harus lihat sendiri hasil
pemeriksaan sebelumnya karena bukan kau yang sakit, tapi dia.” Lalu dengan
kesal ia menggerutu, “andai orang itu tidak menanganinya.”
“Siapa?”
“Dokter yang
menangani Cirino.”
“Ooh…”
“Oh ya, Selene.”
“Apa?”
“Happy Birthday!”
Aku duduk di depan
cermin dan melihat wajahku sendiri. Sudah dua puluh enam tahu! Ya ampun! Aku
sama sekali lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku juga lupa kalau
ini hari ini tanggal berapa dan hari apa. Beberapa hari ini aku sama sekali tidak
bergantung pada kalender. Aku yang biasanya perhitungan dengan masalah waktu,
hari, dan tanggal tiba-tiba merasa kalau hal macam itu tidak penting lagi.
Tapi lihat! Sudah
berapa tahun berlalu? Saat aku menelepon Sarah tadi dia bercerita kalau
sekarang ia sedang hamil muda. Dia sudah menikah dan akan punya anak! Aku
tertawa miris. Membentuk satu keluarga memang impianku, tapi aku terlalu sibuk
dengan kebebasanku dan juga kesetiaanku sendiri. Sekarang aku di sini sedang
berusaha mengembalikan kepercayaan Ciro yang hilang begitu saja padaku. Aku
juga tidak tahu apa hubungan Gates dan Emily sudah seperti yang kuharapkan.
Aku menghela napas
saat bel berbunyi. Dengan malas aku melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Gates?” aku
terkejut melihatnya berdiri di sana .
“Kau sibuk?”
Aku tersenyum.
“Tidak. Masuklah.” Aku menyingkir membiarkannya masuk.
“Eits! Jangan hanya
dia saja! Kami juga.” Protes Joe yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Joe!” seruku
kaget. “Flea? Victor?” aku tidak percaya mereka datang berempat ke sini.
“Tumben.”
Mereka langsung
menyerbu masuk dan aku hanya bingung melihat tingkah mereka. Aku menutup pintu
dan mereka menatapku baik-baik.
“HAPPY BIRTHDAAAYYY!!!” teriak mereka
serentak.
Aku terkejut lalu
tertawa bahagia. Aku sangat senang karena mereka masih mengingat ulang tahunku.
Joe langsung menghambur kearahku dan memelukku.
“Selamat ulang
tahun, sayang.” Katanya senang.
“Terima kasih.”
Jujur saja aku sangat terharu dengan hal ini. Ini sangat diluar dugaan.
Flea memelukku
setelah Joe. “Kau tahu, mungil? Aku tidak bawa hadiah.” Katanya saat melepas
pelukannya.
Aku tertawa. “Well,
aku tidak butuh itu.”
“Yah, sekalipun ini
dadakan, kau bisa mentraktir kami.” Victor memelukku.
“Kau harap aku akan masak apa?” tanyaku sambil
tersenyum lebar.
“Hmm… Mungkin
pasta.”
Lalu akhirnya Gates
memelukku. “Setelah ini kau harus menghiburku. Ini serius.” Bisiknya
ditelingaku.
Aku tersenyum
dengan wajah heran. Tapi dia malah berteriak, “nah, aku tahu kalau ini dadakan.
Apa kau memaafkan kami karena tidak membawa kado dan kue?”
Aku menatap mereka
sesaat. “Well, aku senang bisa berkumpul dengan kalian lagi. Itu hadiah
terindah dalam hidupku.” Walau aku tahu kalau ada yang kurang.
Tidak ada Rev di
sini dan itu membuatku sedikit kecewa. Tapi rasanya sangat tidak adil jika aku
menunjukkan wajah seperti itu di depan mereka. Bagiku, walau mereka
menyebalkan, mereka adalah teman terbaikku seumur hidupku.
Tanpa sadar air
mataku berlinang. Aku buru-buru menunduk agar mereka tidak tahu kalau aku
sedang terharu sekaligus merasa sakit di sini. Tapi itu gagal kulakukan karena
mereka langsung memelukku. Aku merasa pertahananku hampir runtuh saat itu juga.
“Kau tidak
apa-apa?” tanya Flea.
Aku mengangguk dan
mencoba tertawa. “Aku senang kalian masih ingat ulang tahunku.”
“Bagaimana mungkin
kami lupa dengan orang yang setiap tahun selalu mengucapkan selamat ulang tahun
pada kami?” kata Joe.
Aku tersenyum
lebar. Sambil mengerjapkan mataku agar air matanya tak mengalir turun aku berkata,
“kalian mau minum?” tawarku.
“Tentu.”
Aku mengeluarkan
banyak cemilan yang belum sempat kubuka lalu mengularkan berkaleng-kaleng diet
coke dari kulkas. Aku tahu mereka sangat suka minuman satu ini. Gates kembali
ke apartemennya untuk mengambil gitar dan kembali secepat kilat.
Kami berkumpul
sambil bernostalgia, bernyanyi, dan tertawa bersama. Banyak sekali hal yang
kami balas seperti pengalaman-pengalaman kami saat kecil dulu, petualangan Joe
dan Victor saat tersesat di hutan, pengalaman hampir tenggelam Flea, dan
kemenangan fenomenal Gates saat lomba maraton. Mereka berempat memang benci
kalah.
Flea juga bernyanyi
diiringi petikan gitar Gates. Memang aku belum mendengar semua lagunya. Tapi
dari hasil observasi dan download yang kulakukan, aku bisa menebak beberapa
lagu yang dibawakannya. Ada
Sky, Dead Memories, Seperated, Dead
Letters part 2, The Criminal, dan When
the Moon Can’t Near With the Sun.
Yang membuatku
sangat tertarik adalah lagu When the Moon
Can’t Near With the Sun. Lagu itu berirama pelan dan menyentuh yang
membuatku merasa terhanyut saat Flea membawakannya dengan suaranya yang khas
dan Gates mengiringinya dengan petikan gitar yang merdu dan indah.
Saat giliranku
menyanyi, seperti biasa aku menyanyikan lagu Somewhere Over the Rainbow yang fenomenal, disusul Wherever You Are, 2 Faced, dan diakhiri dengan Uncertain
Memory. Aku menyanyikannya sambil bergitar.
Rasanya hari ini
seperti mimpi. Aku berada di sini, di samping teman-temanku yang amat sangat
kucintai selama dua jam penuh walau aku merasa ada yang kurang.

0 comments: