The Moon and The Sun #25 - Rain

10:26 PM fe 0 Comments

25
Alamat yang berhasil didapatkan Mrs.Ross menunjukkan nama sebuah rumah sakit yang berada di Georgia. Apa yang dilakukan Ciro di sana? Aku tidak pernah ke Georgia sebelumnya dan aku merasa sangat salah mengandalkan Gates atau yang lainnya disaat seperti ini. Sambil menumpang taxi aku pulang menuju apartemenku. Aku sempat mencari data-data tentang rumah sakit itu dan merasa bingung sendiri. Aku menghela napas pasrah dan iseng-iseng membuka email. Rasanya sudah lama sekali tidak mengecek isinya.
Ada beberapa email dari social media yang sudah lama tidak kubuka. Ada juga email dari beberapa teman lama yang mengundangku untuk ikut keacara reuni bersama. Lalu ada juga email dari teman kuliahku dulu yang membuatku tertawa membaca subjeknya.

AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!


Sarah, temanku semasa kuliah di Indonesia itu memang bukan tipe orang yang sabaran. Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya. Kabar terakhir yang kuingat datang lima bulan lalu. Ia bilang sedang mengambil gelar S3 nya di Amerika dan akan menyelesaikannya secepatnya. Aku melihat tanggal kirimnya. Email ini sudah dua hari dikirim ke sini.

Kamis, 8 Desember 2011
From               : Sarah Arina Fitra
To                    : Selene Anderson
 Subject          : AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!
Kau harus tahu kalau aku sudah terlalu lama merindukanmu! Apa kabar? Sekarang aku masih di Amerika dan sudah diwisuda dua bulan lalu. Well, kenapa nggak balas-balas emailku, sih? Apa semua emailku ada di spam? Kau HARUS cek isi spammu itu. Aku nggak mau tahu! Pokoknya setelah baca email ini segera hubungi aku lewat Skype. Oh ya, kalau kau ada di Chicago, jangan lupa kunjungi Georgia. Aku kerja di sana.

Aku tertegun membaca surat itu.
Georgia? Sarah ada di sana?
Aku merasa secercah harapan muncul lagi dan aku sangat bersyukur kalau Sarah yang cerewet itu memilih Georgia sebagai tempat tinggalnya sekarang. Aku tersenyum lebar dan merasa semangatku mendadak naik. Sambil berusaha sabar untuk tidak melompat dari mobil demi cepat sampai ke apartemen, aku membalas emailnya saat itu juga.

Sabtu, 10 Desember 2011
From               : Selene Anderson
To                    : Sarah Arina Fitra
Subject           : Re: AYO BUKA! BALAS! SEKARANG!
Nah, teman, aku sudah membalasnya. Jadi kau harus bersiap di depan komputermu karena aku akan menghubungimu sebentar lagi. Aku butuh bantuan dan ini sangat URGENT! Aku tahu kalau kau selalu membuka emailmu 24 jam, jadi jangan abaikan panggilanku! Oke! Ini sangat mendesak! URGENT!

Akhirnya taxi yang kutumpangi berhenti juga. Setelah membayar, aku buru-buru berlari menuju lift. Aku melihat Gates berlari menghampiriku dari sudut mataku.
“Kau sudah pulang.” Katanya saat tiba disampingku.
“Gates! Ciro pergi –” kata-kataku langsung terputus saat aku tersentak oleh hal yang tiba-tiba mengganjal dibenakku.
“Kau tahu?” tanyanya pelan saat aku masih belum juga bersuara.
“Kau tahu.” Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. “Kau pasti tahu kalau dia pergi, kan?” aku menuduhnya begitu saja.
Akhirnya pintu lift itu terbuka. Dua orang yang ada di dalamnya segera keluar. Gates menarikku masuk ke dalam dan menekan tombol.
“Yah, kau benar.” Akunya pelan.
Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus marah. “Kalau kau tahu kenapa tidak memberitahuku?” tanyaku marah.
“Apa itu baik untukmu atau untuknya?” tanyanya.
“Kau tahu masalahnya?”
“Aku tak mau ambil resiko.”
“Mengatakan di mana dia adalah resiko?” aku hampir tidak percaya itu. “Apa aku akan membuat semuanya runyam?” aku sama sekali tidak mengerti itu.
“Kalian berdua punya masa lalu yang rumit.”
“Dan kau pikir itu tidak bisa selesai.”
“Dia hanya minta waktu, itu saja.” Debatnya. “Apa kau paham? Ini tidak mudah!”
Aku menahan napasku sebelum akhirnya mengeluarkannya. Aku harus tenang karena tidak ada gunanya berdebat hal ini sekarang. Aku menjernihkan pikiranku.
Memang benar. Mendatanginya adalah resiko. Tapi apa aku bisa bersabar? Apa aku bisa menunggu selama itu? Dia harus kembali, kan? Tapi kapan dia siap untuk itu?
Kapan dia bisa siap menghadapiku?
Sementara aku di sini merasa tidak sabar untuk menemukannya, di sana dia sedang berusaha menenangkan hatinya. Tindakanku yang serba terburu-buru hanya akan membuat semuanya buruk.
Aku bersandar ke dinding lift yang dingin dan membiarkan keheningan mengambang diantara kami. Aku tahu kalau Gates sangat mempertimbangkan perasaan kami berdua. Walau sekarang ia terlihat keras, tapi aku tahu kalau apa yang dikatakannya sangat benar.
“Maaf…” kataku menyesal.
Ia menatapku. Tatapannya yang keras seketika berubah menjadi lembut. “Ini hanya masalah waktu, Selene.”


Sepuluh menit kemudian aku tenggelam dalam percakapan antara aku dan Sarah.
“Aku tahu pasien itu,” kata Sarah sambil mengunyah cemilannya. “Dia baru datang kemarin dan langsung membuat semua mata pasien disini tertuju padanya.” Kali ini ia tertawa. “Kupikir dia itu artis atau apa…”
Aku merasa benar-benar senang karena rumah sakit tempat Sarah bekerja ternyata tempat Cirino dirawat. Aku menatapnya dari monitorku. Ia masih sama seperti dulu, khas wanita asia dengan kulit sawo matang, hidung pesek, tapi wajah yang cantik dan bersih.
“Apa aku bisa minta tolong?” tanyaku. “Aku ingin kau memantaunya, itu saja.”
Ia berpikir sejenak. “Well, Selene, aku nggak bisa janji.”
“Kenapa?” tanyaku kaget.
“Dia itu dirawat sama seorang dokter misterius. Maksudku… Dokter yang menanganinya itu sangat menjaga kerahasiaan sakit pasiennya dari dokter lainnya. Orang itu memang aneh dan suka seenaknya sendiri.”
“Apa dia ditangani seorang dokter spesialis?” tanyaku.
“Hm!” Jawabnya. “Seorang ahli penyakit dalam.”
“Apa itu?”
“Lambung.”
“Lambung?” aku mengerutkan kening tanda bingung. “Seingatku dia kecanduan obat.”
“Obat? Obat apa dulu?” ia minta keterangan.
“Apa ya? Aku tidak tahu.”
“Psikotropika? Narkoba? Obat tidur?” ia mencoba memberi pilihan yang mungkin. “Atau obat bius?”
“Nah, aku tidak tahu. Aku tidak ahli dengan masalah obat.” Akuku. “Yang jelas dokter di sini bilang kalau dia ketergantungan.”
Sarah tampak berpikir sejenak. “Aku nggak tahu kenapa dokter itu bilang begitu. Yang jelas di sini bukan panti rehabilitasi.”
“Apa kau bisa menarik kesimpulan dari ketergantungan obat dengan masalah lambung? Apa dia overdosis obat magh?” tanyaku.
Ia terlihat menaikkan alisnya. “Yah, mungkin saja. Tapi aku harus lihat sendiri hasil pemeriksaan sebelumnya karena bukan kau yang sakit, tapi dia.” Lalu dengan kesal ia menggerutu, “andai orang itu tidak menanganinya.”
“Siapa?”
“Dokter yang menangani Cirino.”
“Ooh…”
“Oh ya, Selene.”
“Apa?”
“Happy Birthday!”


Aku duduk di depan cermin dan melihat wajahku sendiri. Sudah dua puluh enam tahu! Ya ampun! Aku sama sekali lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku juga lupa kalau ini hari ini tanggal berapa dan hari apa. Beberapa hari ini aku sama sekali tidak bergantung pada kalender. Aku yang biasanya perhitungan dengan masalah waktu, hari, dan tanggal tiba-tiba merasa kalau hal macam itu tidak penting lagi.
Tapi lihat! Sudah berapa tahun berlalu? Saat aku menelepon Sarah tadi dia bercerita kalau sekarang ia sedang hamil muda. Dia sudah menikah dan akan punya anak! Aku tertawa miris. Membentuk satu keluarga memang impianku, tapi aku terlalu sibuk dengan kebebasanku dan juga kesetiaanku sendiri. Sekarang aku di sini sedang berusaha mengembalikan kepercayaan Ciro yang hilang begitu saja padaku. Aku juga tidak tahu apa hubungan Gates dan Emily sudah seperti yang kuharapkan.
Aku menghela napas saat bel berbunyi. Dengan malas aku melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Gates?” aku terkejut melihatnya berdiri di sana.
“Kau sibuk?”
Aku tersenyum. “Tidak. Masuklah.” Aku menyingkir membiarkannya masuk.
“Eits! Jangan hanya dia saja! Kami juga.” Protes Joe yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Joe!” seruku kaget. “Flea? Victor?” aku tidak percaya mereka datang berempat ke sini. “Tumben.”
Mereka langsung menyerbu masuk dan aku hanya bingung melihat tingkah mereka. Aku menutup pintu dan mereka menatapku baik-baik.
“HAPPY BIRTHDAAAYYY!!!” teriak mereka serentak.
Aku terkejut lalu tertawa bahagia. Aku sangat senang karena mereka masih mengingat ulang tahunku. Joe langsung menghambur kearahku dan memelukku.
“Selamat ulang tahun, sayang.” Katanya senang.
“Terima kasih.” Jujur saja aku sangat terharu dengan hal ini. Ini sangat diluar dugaan.
Flea memelukku setelah Joe. “Kau tahu, mungil? Aku tidak bawa hadiah.” Katanya saat melepas pelukannya.
Aku tertawa. “Well, aku tidak butuh itu.”
“Yah, sekalipun ini dadakan, kau bisa mentraktir kami.” Victor memelukku.
 “Kau harap aku akan masak apa?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
“Hmm… Mungkin pasta.”
Lalu akhirnya Gates memelukku. “Setelah ini kau harus menghiburku. Ini serius.” Bisiknya ditelingaku.
Aku tersenyum dengan wajah heran. Tapi dia malah berteriak, “nah, aku tahu kalau ini dadakan. Apa kau memaafkan kami karena tidak membawa kado dan kue?”
Aku menatap mereka sesaat. “Well, aku senang bisa berkumpul dengan kalian lagi. Itu hadiah terindah dalam hidupku.” Walau aku tahu kalau ada yang kurang.
Tidak ada Rev di sini dan itu membuatku sedikit kecewa. Tapi rasanya sangat tidak adil jika aku menunjukkan wajah seperti itu di depan mereka. Bagiku, walau mereka menyebalkan, mereka adalah teman terbaikku seumur hidupku.
Tanpa sadar air mataku berlinang. Aku buru-buru menunduk agar mereka tidak tahu kalau aku sedang terharu sekaligus merasa sakit di sini. Tapi itu gagal kulakukan karena mereka langsung memelukku. Aku merasa pertahananku hampir runtuh saat itu juga.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Flea.
Aku mengangguk dan mencoba tertawa. “Aku senang kalian masih ingat ulang tahunku.”
“Bagaimana mungkin kami lupa dengan orang yang setiap tahun selalu mengucapkan selamat ulang tahun pada kami?” kata Joe.
Aku tersenyum lebar. Sambil mengerjapkan mataku agar air matanya tak mengalir turun aku berkata, “kalian mau minum?” tawarku.
“Tentu.”
Aku mengeluarkan banyak cemilan yang belum sempat kubuka lalu mengularkan berkaleng-kaleng diet coke dari kulkas. Aku tahu mereka sangat suka minuman satu ini. Gates kembali ke apartemennya untuk mengambil gitar dan kembali secepat kilat.
Kami berkumpul sambil bernostalgia, bernyanyi, dan tertawa bersama. Banyak sekali hal yang kami balas seperti pengalaman-pengalaman kami saat kecil dulu, petualangan Joe dan Victor saat tersesat di hutan, pengalaman hampir tenggelam Flea, dan kemenangan fenomenal Gates saat lomba maraton. Mereka berempat memang benci kalah.
Flea juga bernyanyi diiringi petikan gitar Gates. Memang aku belum mendengar semua lagunya. Tapi dari hasil observasi dan download yang kulakukan, aku bisa menebak beberapa lagu yang dibawakannya. Ada Sky, Dead Memories, Seperated, Dead Letters part 2, The Criminal, dan When the Moon Can’t Near With the Sun.
Yang membuatku sangat tertarik adalah lagu When the Moon Can’t Near With the Sun. Lagu itu berirama pelan dan menyentuh yang membuatku merasa terhanyut saat Flea membawakannya dengan suaranya yang khas dan Gates mengiringinya dengan petikan gitar yang merdu dan indah.
Saat giliranku menyanyi, seperti biasa aku menyanyikan lagu Somewhere Over the Rainbow yang fenomenal, disusul Wherever You Are, 2 Faced, dan diakhiri dengan Uncertain Memory. Aku menyanyikannya sambil bergitar.

Rasanya hari ini seperti mimpi. Aku berada di sini, di samping teman-temanku yang amat sangat kucintai selama dua jam penuh walau aku merasa ada yang kurang. 

You Might Also Like

0 comments: