The Moon and The Sun #24 - Rain

10:25 PM fe 0 Comments

24
Mrs. Ross membawaku ke ruang ganti perawat. Tidak ada siapapun di sana selain kami. Ia mendudukkanku di kursi sambil menatapku dengan tatapan kasihan. Aku mengabaikan tatapannya dan menatap lurus kesatu titik di atas meja.
Untuk saat-saat yang menegangkan ia tetap membiarkaku diam sampai akhirnya aku menyerah.
“Cirino tahu kalau aku orangnya.” Kataku dingin.
Ia duduk di sampingku dan menggenggam tanganku yang terkepal. “Bagaimana bisa?” tanyanya tidak percaya. “Kau sudah terlalu lama tidak bertemu dengannya. Lagi pula setelah kau operasi dia sama sekali tidak pernah datang ke sini. Bagaimana kau bisa mengingatnya sejelas itu setelah –” tiba-tiba dia teringat sesuatu, “jangan-jangan dia tahu dari namamu?”

“Ayahnya memberitahunya,” kataku. “Ia memang tahu kalau anak yang menerima donor jantung itu Selene Anderson. Tapi selama aku mengenalnya, aku tak pernah mengatakan kalau aku seorang Anderson, tapi Selene. Dan ayahnya menegaskan itu saat berbicara dengannya.”
“Kau yakin?”
“Dia menceritakannya padaku tadi.”
Dia menunggu aku melanjutkan sebelum mendesaknya dengan lembut, “dan?”
“Dan setelah itu ia memutuskan untuk pergi.” Aku menatapnya. “Aku rasa dia masih tidak rela dengan hal itu. Ia menyimpannya sendiri dan kau tidak bisa mengatakan kalau itu hanya sumpah anak-anak. Satu-satunya orang yang dia cinta sudah tiada dan ia tak punya dukungan apapun lagi. Aku yakin, setelah kematian Victoria dia pasti mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri. Iya kan?”
Mrs.Ross enggan mengakuinya, tapi akhirnya ia mengangguk.
Victoria adalah orang yang paling ia cintai. Aku yakin kalau rasa cintanya takkan berkurang semudah itu.”
“Benar…” bisiknya lemah. “Kau tahu sendiri kalau hubungannya dengan ayahnya juga tidak akur.”
Aku diam sejenak sambil menatapnya baik-baik. “Ada yang belum diceritakan.” Kataku.
“Apa?” tanyanya. “Aku sudah menceritakan apa yang kutahu.”
“Apa ada sesuatu yang tidak boleh aku tahu? Apa itu buruk kalau aku tahu?”
Ia tertawa sumbang, “tidak ada lagi. Itulah akhirnya.”
Aku menggeleng. “Kau menyembunyikannya. Ayolah Mrs.Ross. Kau takkan berbohong padaku. Kau sudah janji.” Desakku.
Tapi ia tetap diam dan menyangkalnya. Hanya saja hatiku berkata masih ada lagi dan itu adalah bagian terpentingnya. Dan aku terus membujuknya sampai akhirnya pada satu titik aku merasa marah dan dengan tegas berdiri untuk meninggalkannya.
“Selene, tunggu!” panggilnya.
Aku berhenti dan dengan kesal menatapnya. “Kalau kau tidak ingin mengatakannya, maka aku akan memaksanya mengatakannya.” Tegasku.
Ia menghampiriku dengan wajah sedih. “Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau kata-kata itu bisa membuatmu sakit?”
Aku mengangkat sedikit daguku dan menunggu dia mengatakannya. Akhirnya dia mendesah tanda menyerah dan dengan pelan berkata, “saat ia berdoa di depan makam adiknya setelah upacara pemakaman, ia berjanji kalau…” ia diam sejenak dan tidak yakin akan melanjutkannya.
Aku masih menunggu dengan wajah dingin.
“Aku mendengarnya berkata kalau… dia akan… menggagalkan operasi itu dan membawa jantungnya kembali padanya.”
Aku tidak menduga akan mendengar itu.
“Dia terlalu mencintai adiknya. Sekeras apapun aku mencoba meyakinkannya kalau itu adalah keinginan Victoria sendiri, ia tetap tidak mau percaya. Ia bahkan melemparkan buku ini padaku dan berkata kalau ini bohongan.” Ia mengeluarkan sebuah buku agenda bewarna hitam dari dalam tasnya. “Aku selalu berusaha memberikannya, tapi dia tak ingin menerimanya. Tapi aku tahu, isinya pasti sangat penting. Apapun yang terjadi buku ini harus bisa ia baca.” Ia memberikan buku itu padaku yang masih terdiam.
“Kau akan memberikannya.” Putusnya begitu saja.
Aku mengerutkan keningku tanda tidak mengerti. “Tapi aku tidak tahu dia di mana.”
“Kau akan menemukannya karena Victoria selalu menemukannya.”
Aku tahu. Yang namanya kebenaran itu memang dingin. Ia bisa mengejekmu yang menghindarinya sejauh mungkin. Tapi pada akhirnya kau akan selalu kembali ke sana dan membutuhkannya.
Begitu juga bagiku dan Ciro. Sekarang aku tahu kalau dia sedang bingung. Ia masih belum bisa menerima siapa aku sebenarnya. Dia menghindariku tapi aku tahu kalau aku harus kembali padanya.


You Might Also Like

0 comments: