The Moon and The Sun #22 - Rain
22
Dr.Synyster datang
ke kama r rawat Rev sambil membawa banyak
bungkusan besar. Ia tersenyum padaku yang baru saja keluar dari kama r mandi karena mencuci muka dan gosok gigi. Rev masih
tertidur lelap padahal sebentar lagi akan ada pemeriksaan siang dan makan siang
akan disajikan.
“Bagaimana dia?”
tanya Dr.Synyster dengan suara pelan karena takut Rev terbangun.
“Aku rasa dia agak
demam…” kataku sambil mendekatinya.
Dr.Synyster
mengukur suhu tubuh Rev dengan tangannya. “Yah… benar.” Akunya sambil
menepuk-nepuk pelan kepala anaknya. “Kau sudah makan? Aku bawa banyak makanan.”
Katanya sambil menunjuk kearah bungkusan yang ada di meja.
“Terima kasih.” Aku
yang lapar langsung membuka bungkusan itu dan menemukan sandwich di dalamnya.
“Aku ambil ini saja.” Kataku.
“Jangan malu.” Ia
tertawa. “Aku tahu kalau kau suka sandwich makanya aku beli itu.”
Aku tersenyum
karena ia masih ingat dengan makanan kesukaanku.
“Terima kasih sudah
menjaganya.” Katanya tulus. “Maaf merepotkanmu.”
Aku menggeleng
cepat. “Sama sekali tidak.”
“Kali ini kau bisa
istirahat. Aku libur sekarang jadi bisa menjaganya.” Katanya sambil menatap
anaknya.
Aku menarik napas
lega karena mereka sudah benar-benar akur sekarang. Aku langsung menyetujuinya
dan segera mengambil tasku. “Kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku.” Pintaku
sebelum pergi.
“Tentu saja.”
Janjinya.
Aku menuliskan
nomor kontakku pada catatan kecil yang selalu kubawa, merobek kertasnya dan
memberikannya padanya. Ia menerimanya dan membacanya. Aku menatap Rev yang
masih tertidur nyenyak. Tiba-tiba aku merasa tidak ingin meninggalkannya di
sini. Aku tahu kalau ada ayahnya yang akan menjaganya, tapi kenapa rasanya aku
tidak tega?
Aku tidak ingin
pergi.
Dan dengan
menatapnya saja membuat langkahku berat untuk beranjak dari sana . Aku mendekat dan mencium keningnya lalu
dengan berat hati pergi meninggalkannya.
Hari sudah beranjak
siang saat aku keluar dari rumah sakit. Sebelum aku benar-benar melangkah ke
halaman rumah sakit itu, tiba-tiba seseorang mencegatku. Aku terkesiap kaget.
“Gates!” seruku.
“Hai.” Sapanya.
“Kau belum pulang?”
tanyaku heran.
“Yah, kupikir kau
butuh tumpangan. Tadi aku bertemu Mr.Synyster di jalan. Dia bilang ingin
menunggui Rev hari ini.” Jawabnya santai. “Well, ayo pulang. Aku tahu kau
lelah.” Ia meraih tanganku dan mengajakku ke lapangan parkir.
“Mana yang lain?”
“Mereka pulang duluan.”
Aku mengikuti Gates
sampai ke mobilnya dan masuk ke dalam. Ia pun masuk, menyalakan mesin, dan
langsung melaju ke luar rumah sakit. Aku menengok ke belakang, kearah gedung
yang semakin lama semakin menjauh.
“Jangan kuatir. Ia
takkan bentrok dengan ayahnya.” Kata
Ga tes menenangkanku.
Aku mengerutkan
kening dengan heran sambil duduk nyaman. “Aku tidak berpikir ke sana .” Aku juga heran
kenapa rasanya ada yang aneh dari semua ini. Tapi apa? Kenapa aku merasa ada
yang salah sejak memutuskan untuk pergi dari sana ?
“Lalu?” Gates
memintaku menjelaskannya lebih lanjut sambil memutar arah mobilnya.
“Kau yakin kalau
dia baik-baik saja?” tanyaku tak yakin. “Aku merasa… yah… semoga ini hanya
perasaanku saja.”
Ia diam sejenak
seolah-olah memikirkan jawabannya. “Kau tahu?” tanyanya akhirnya. “Ciro bukan oran g yang sekeras kepala
itu.”
Ciro? Aku hampir
lupa kalau nama Rev adalah Cirino. Gates pasti sudah tahu itu. Aku tersenyum
dan mendesah, “rasanya aneh.”
“Aneh?” dia
menatapku bingung.
“Kau memanggilnya
Ciro, bukan Rev.”
Ia tertawa, “yeah…
dia takkan memberitahu nama aslinya pada oran g
yang baru ia kenal. Ia selalu memakai nama samaran sesukanya.” Terang Ga tes
sambil tersenyum. “Kau tahu? Cirino itu nama yang sangat ind ah.”
“Oh ya?” aku
langsung menanggapinya.
“Sama seperti
namamu yang artinya ‘bulan’. Cirino artinya ‘seperti matahari.’”
Aku terpana menden garnya.
Aku sangat senang
saat akhirnya bisa berendam di dalam bak air panas. Sambil menenangkan pikiran,
aku merilekskan tubuhku yang kaku dan tegang. Rasanya aku benar-benar pulang.
Tapi pada dasarnya aku memang sudah di rumah. Sambil mengerang penuh
kebahagiaan aku memejamkan mataku dan membiarkan pikiranku melayang.
“Aku mencintaimu.”
Satu kata itu
membuat mataku terbuka. Aku tersentak dan langsung merasa sesak. Aku duduk
tegak dalam bak mandiku dan kembali mencerna kata-kata itu. Rev mengatakannya
padaku… Bukan! Ciro mengatakannya padaku. Aku masih ingat tatapan matanya yang gela p dan serius saat
menatap mataku.
Aku menarik napas
pelan dan dengan cepat mengendalikan diri. Aku mencoba bersikap tenang dan
memejamkan mataku sambil bertanya dalam hati siapa oran g
yang akan kulihat di masa depanku?
Lalu wajah Ciro
muncul di sana .
Mataku segera terbuka dan aku terkejut. Belum reda rasa kagetku yang pertama,
ponselku berdering dan itu membuatku kaget dua kali.
Aku meredakan
debaran jantungku dan menghela napas. Aku berdiri, memasang handuk, dan
langsung keluar dari bak mandi. Aku meraih ponselku yang terletak di atas meja
kerjaku dan langsung mengangkatnya.
“Halo?”
“Hai!” terdengar
suara Gates di ujung sana .
“Kau sibuk?” tanyanya.
“Tidak.” Jawabku
karena aku ingat kalau malam ini Dr.Synyster akan menjaga Rev di rumah sakit.
Saat aku melihat kearah jam, waktu masih menunjukkan pukul dua siang. “Kenapa?”
“Maaf ya, tiba-tiba
aku menelepon. Aku tahu kau lelah tapi…” suaranya terputus saat Joe menyelanya.
Aku menunggu mereka
selesai bicara.
“Maaf. Itu tadi
Joe.” Katanya buru-buru.
Aku mengerutkan
keningku tanda heran. Ada
apa dengan Gates hari ini? “Tidak apa-apa.”
“Apa malam ini kau
sibuk?”
“Tidak.” Aku
mengulang jawabanku. “Memangnya kenapa?”
“Apa kau mau
menemaniku ke Chrome? Ada yang ingin kupastikan
di sana .”
Pintanya ragu-ragu. “Tapi kalau kau ingin tidur –”
Aku tertawa untuk
menginterupsinya. “Kau kenapa?” tanyaku heran disela tawaku. “Kau bisa
mengandalkanku kalau kau mau. Nah, jam berapa kita berangkat?” tanyaku agar ia
yakin kalau aku bisa diajak kerja sama.
“Benarkah? Syukurlah…”
desahnya lega. “Jam tujuh. Aku akan menjemputmu.”
“Oke. Jam tujuh.”
Aku mengulanginya untuk memastikan waktunya.
“Sampai nanti.”
“Ya.”
Kami sedang
berjalan di sekitar Chrome café seperti seorang teroris. Bagaimana tidak? Gates
memaksaku memakai topi agar wajahku menjadi samar sedangkan dia sendiri memakai
topi dan kaca mata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Kami bersandar di dinding
batu yang dingin sambil membentangkan koran dan pura-pura berdiskusi padahal
matanya jelas-jelas tidak memperhatikan tulisan di koran itu. Ia justru
memperhatikan lalu lalang orang yang melewati jalan ini. Tiba-tiba aku merasa
lucu dengan ini semua.
“Jadi jawab aku
sekarang.” Aku menuntutnya. “Apa yang sedang kita lakukan?”
“Kau akan tahu.”
Jawabnya pelan tanpa melihatku.
“Jangan buat aku
penasaran atau aku pergi.” Ancamku.
Tapi ia segera
menahanku. “Tunggu dulu! Tahan dulu!” pintanya hampir panik.
Aku kembali
bersandar ke dinding. “Jadi?”
Akhirnya ia
menghela napas dan menyerah. “Sebenarnya malam ini aku dapat kabar kalau Emily
akan makan malam dengan seseorang…” ceritanya.
Aku hampir lupa
dengan hubungan Emily dan Gates. Dan hebatnya aku merasa kalau hal itu biasa
saja. Aku tidak cemburu. Aku tidak sakit hati. Dan hebatnya aku tidak ingin
lari dan berteriak ‘dasar bodoh!’ pada Gates.
Aku merasa… biasa
saja.
Dan ini membuatku
tercengang.
“Kau kenapa?” tanya
Gates yang menatapku bingung.
Aku mengatupkan
mulutku yang agak menganga tadi. “Well,” aku mencoba bersikap biasa. “Nah, dari
mana kau dapat info itu?”
“Flea.” Jawabnya.
“Ia tanpa sengaja menden gar
percakapan Emily dan seseorang di telepon.”
“Mungkin ia ingin
makan malam dengan keluarganya.” Aku menyuarakan kemungkinan itu.
“Di daerah sekitar
Chrome?” ia menggeleng tidak percaya. “Tidak ada yang membawa keluarganya makan
malam di sini.”
Aku berpikir lagi.
“Ah! Mungkin dia ingin makan malam dengan temannya.”
“Oke. Tapi teman
yang mana?”
Aku mengerutkan
keningku padanya. “Jangan seposesif itu.”
Ia menatapku
sejenak dan akhirnya mendesah. “Maaf. Aku hanya penasaran.”
Aku tertawa sambil
menepuk bahunya. “Tenanglah. Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau sedang
penasaran.” Aku menatap lalu lalang oran g-orang
itu dan belum menemukan Emily diantara mereka. “Kau yakin dia di sini?”
tanyaku.
Gates masih
memperhatikan oran g-orang
yang melewati kami saat menjawab, “ya. Flea yakin itu.”
Aku diam dan
mencoba menengok kearah lain tapat pada saat seorang wanita keluar dari mobil
dan tersenyum pada seorang pria yang membukakan pintunya. Walau aku hanya
beberapa kali bertemu dengannya, aku yakin kalau oran g itu adalah Emily. Ia bersama seorang
pria botak yang sangat tampa n
dan seksi.
Emily tertawa dan
menggandeng lengan pria bermantel hitam dan berkaca mata hitam itu. Seketika
itu juga mataku beralih pada Gates yang masih mencari-cari sosok Emily diantara
oran g-orang
itu. Lalu mataku beralih lagi pada pasangan yang ada jauh di seberang sana . Aku langsung jadi
bimbang.
Tapi demi apapun
juga, aku tidak boleh pura-pura tidak melihatnya. Lebih baik tahu kebenarannya
sekarang dari pada nanti. Sambil menguatkan diri, dengan tega aku menarik
mantelnya.
“Gates!” panggilku.
“Itu.” Aku mengangguk kearah Emily dan pria itu.
Tidak butuh waktu
lama bagi Gates untuk menemukan mereka. Aku tahu kalau Gates memiliki
pengamatan yang tajam. Dan aku langsung merasa sedikit menyesal melakukannya.
Aku bisa merasakan kalau Gates tegang dan terdiam menyaksikan pemandangan itu.
Emily tertawa
dengan pria itu. Mereka terlihat sangat mesra. Aku menatap Gates dan langsung
merasa sesak. Aku bisa merasakannya kalau dia marah dan frustasi.
“Tunggu , Ga tes!
Jangan pikir macam-macam!” aku mencoba memperingatkannya.
“Well, kurasa
cukup.” Katanya dingin.
“Tidak!”
“Aku bilang cukup!”
ia tampa k
mati-matian untuk tidak mengamuk di depanku.
Aku terkejut karena
dia membentakku sekarang. Aku memegang tangannya dan berusaha untuk terlihat
tenang. “Kau tidak tahu siapa dia.” Kataku tajam. “Dan kau takkan tahu siapa
dia sampai kau bertanya.”
Ia menatapku dengan
rahang terkatup. Aku menatapnya tajam sebelum akhirnya tersenyum. “Kau belum
mencobanya, kan ?
Well, aku tahu kalau kau takkan menyerah semudah itu.” Aku melepaskan
tangannya. “Gates yang kukenal takkan berhenti mencari tahu sampai ia tahu
jawabannya.” Aku mengatakannya dengan nada menantang dan aku tahu kalau ia
menahan napasnya sekarang.
Tapi aku takkan
berhenti.
“Gates…” aku
memanggilnya. “Kau mencintainya, kan ?”
Gates terkejut
menatapku dan aku tersenyum mengerti padanya. Bagaimanapun juga akan jadi tidak
adil jika aku menahannya untuk terus bersamaku sedangkan orang yang dia cintai
ada di sana .
Sekarang aku mengerti perasaan Ciro saat ia membiarkanku untuk mengejar Gates.
Seperti kata-katanya, cinta itu adalah berani untuk pergi dan ditinggal pergi.
Aku memilih untuk pergi sekarang karena aku tahu kebahagiaan dari orang-orang
yang kucintai adalah segalanya dihatiku.
“Kejar dia! Dia
takkan menunggu selama itu!” kataku memberi semangat. “Kalau kau
mendapatkannya, traktir aku. Kalau dia menolakmu, datang padaku. Aku janji akan
mendengar keluhanmu semalam suntuk.” Kataku sambil tersenyum lebar.
Ia menatapku yang
menantangnya untuk melakukan itu. Tanpa aba-aba ia berlari menembus kerumunan
orang-orang untuk mengejarnya. Aku melihatnya menghilang di depan sana lalu berbalik pergi.
Terkadang aku berpikir kalau Gates
adalah kakakku sendiri. Aku tahu kalau dia menyayangiku seperti adiknya, tapi
aku selalu menyangkal pikiran itu. Aku sangat nyaman didekatnya dan berpisah
dengannya seperti pukulan yang berat untukku walau lama kelamaan aku mulai
terbiasa. Tapi malam ini aku sadar kalau hati itu tak selamanya bisa kita
genggam dan kendalikan. Aku membiarkannya mengejar orang yang paling ia cintai
dan mengubur pengakuanku dalam-dalam. Aku paham perasaannya sekarang dan aku
paham perasaan Ciro saat menyerah.
Tanpa sadar ia
telah menunjukkan banyak hal padaku dan aku merasa kalau pelajaran inilah yang
paling mengena diantara semuanya.
Dan aku tak
menangis.
Aku justru
tersenyum pada malam yang dingin dan cerah.
Dan akhirnya aku sadar
kalau aku mencintai seseorang yang memiliki senyum angkuh di wajahnya.
Seseorang yang bisa menjadi apapun semaunya.

0 comments: