Song of Aria #27 - Rain
Aira tidak menyangka kalau ia begitu larut dalam kisah masa
lalu Erland. Kenyataan itu seakan menghantamnya dan ia merasa hampir hilang
kendali lagi. Erland Avendale, seperti yang ia duga, terlalu sempurna untuknya.
Lalu pikirannya yang lain datang menyerbunya. Aira tersentak
kaget. Ia baru menyadari kalau ternyata Erland mengetahui keberadaannya
sekarang! Ini membuat Aira panik dan berharap kalau semua ini hanya mimpi. Tapi
itu tidak benar. Mimpi hanya terjadi saat kau tidur saja dan ia tahu kalau
sangat salah untuk lari dari kenyataan karena cepat atau lambat kenyataan itu
akan menemukannya.
Aira berdiri dan melemparkan pandangannya keseluruh penjuru
dengan wajah penuh harap. “Erland? Apa kau di sana?” Hening. Tidak ada jawaban.
“Erland. Apa kau di sana?” tanyanya lagi. “Erland, jawab aku! Apa kau di sana?
Apa kau kemari? Apa kau ingin menemuiku? Apa kau ingin melihatku? Erland!
Jawab! Jawab! JAWAB!”
Dan emosi itu membuncah dengan harapan dan keputus asaan
yang membuat Aira menangis keras sendirian.
Tapi Erland tahu bukan hanya Aira saja yang merasakan hal
itu. ia juga merasakannya dan memalingkan wajahnya ke samping demi menahan air
matanya. Hanya saja air mata itu tetap saja menetes dan ia menggemertakkan
giginya agar ia tidak ikut berteriak seperti Aira.
Ini masih belum saatnya walaupun tubuhnya berteriak ingin
berlari dan mendekapnya agar bisa menguatkan diri mereka yang rapuh. Erland
masih bisa bertahan karena Aira harus membaca itu semua.
Suatu hari ada tiga ekor kupu-kupu yang terbang mengintari
bunga bewarna merah di taman yang aku sering lewati bersama Jack. Ia berkata
padaku, “Devil, mereka semua itu
tidak adil.”
Aku memiringkan kepalaku karena bingung dengan apa yang ia
katakan… mungkin lebih tepatnya aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang
ia katakan. “Apa maksudmu?”
Ia terkekeh, “maaf. Aku lupa kalau kau masih tiga belas
tahun.”
Aku tidak suka dengan pandangannya mengenai umurku. “Aku
tahu mereka bilang apa. Mereka bilang aku terlalu berani untuk menjadi
berandalan kecil yang bisa membunuh. Tapi ingat, Lexus Hall bukanlah area
bermain anak-anak. Tanpa mereka sadari mereka mengajariku bagaimana caranya
bertahan dan kau tahu itu.”
“Itulah yang aku bicarakan tadi. Kau termasuk salah satu
korban ketidak adilan itu.”
“Bagaimana denganmu sendiri?”
“Aku? “
“Kau menampung anak-anak itu di rumahmu dan mengajari
bagaimana cara menipu dan mencuri… bukankah itu juga tidak adil?” tantangku.
“Kami berbeda denganmu, bocah. Aku tahu siapa dirimu. Kau
hanya bosan dengan hidupmu dan bermain-main di tempat ini hanya untuk mencari
kesenangan. Dasar bocah aneh. Kau seharusnya bersyukur punya keluarga yang
dekat denganmu,”
“Tidak saaat hidupmu dikekang.”
Jack berhenti dan menghadap padaku. “Kau hanya melibatkan
dirimu dalam masalah, bocah.”
“Aku sudah hidup dalam masalah dan aku cepat belajar untuk
menanganinya.” Jawabku. Berdebat dengannya membuatku selalu puas dan aku selalu
tersenyum saat dia juga merasakan mendapat lawan yang sepadan.
Jack adalah orang baik yang sangat berhutang nyawa padaku…
begitu juga denganku. Kami bisa menjadi dekat semenjak aku hampir membunuh
orang yang menyerangnya. Dia adalah tipe yang sangat hangat dan aku sangat
menyukaianya.
Jack kembali tertawa lepas. “Hidupku sudah keras dari
dulunya. Kami hanya berusaha untuk bertahan hidup dengan melakukan hal itu.”
Aku berpikir sejenak. “Tidakkah kau mempunyai rencana jangka
panjang?”
“Ya. Aku punya itu.”
“Benarkah?” tanyaku bersemangat.
“Ya. Aku sudah menabung saat Erland Foster memungutku dan
mengajariku cara mencuri, menipu, dan berinfestasi. Aku juga mengajarkan itu
pada mereka dan menuntut mereka untuk menabung… tunggu! Jangan tertawa! Apa ini
aneh?”
Aku tertawa saat tanpa sadar aku teringat kalau dulu aku sangat
menakutinya. Siapa sangka Jack merupakan sosok yang sangat hangat dan terbuka…
kecuali saat dia memakai topeng iblisnya di belakangku. Kemudian aku berhenti
tertawa dan berlari memeluknya.
“Atkins…,” ia menatapku bingung.
Aku melepaskan pelukanku dan menjauh darinya. “Jika aku
pergi dari sini, apa kita masih bisa seperti ini?” tanyaku takut.
Jack menatapku dengan wajah yang sulit dibaca. Kemudian dia
menghela napas lega dan tersenyum padaku. “Akhirnya kau mengerti di mana
seharusnya kau berada. Pergilah dan aku akan menerimamu kembali sebagai dirimu
yang sesungguhnya. Sekarang, katakan siapa namamu?”
“Bukankah kau sudah tahu?”
“Mudah menipu orang lain, tapi tidak denganku.”
Aku tersenyum. Dia memang paling pintar membaca wajah dan
mata orang sehingga kadang aku merasa ngeri kalau dia jangan-jangan bisa
membaca pikiranku. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Sudah cukup untuk
semuanya.
“Erland,” jawabku. “Erland Avendale.”
Esok paginya aku pergi kembali kekehidupanku yang semula.
Aku kembali ke rumah dan mendapati satu dunia asing dalam hidupku. Inilah dunia
yang sudah kutinggalkan… dan dunia yang harus kujalani kembali. Di sini… dari
tempat ini.

0 comments: