Song of Aria #25 - Rain
“Dia kehilangan kendali atas dirinya enam tahun lalu. Ia tahu kalau keluarganya mempunyai penyakit itu turun-temurun, dan ia sudah siap menghadapinya. Ia tahu kalau kadang kesadarannya menghilang. Biasanya orang yang mengalami gangguang jiwa seperti dirinya tidak bisa keluar dari dunianya. Ia akan merasa bahwa ada seseorang yang mengambil alih kendali tubuhnya dan ia tidak akan ingat apa-apa saat itu tiba. Tapi selama berada di sini ia sudah bisa merasakan ketenangan dan bisa mengambil alih kendali dirinya sedikit demi sedikit,” kata Dr. Anna yang menangani Aira di tempat itu.
Erland sekarang
sedang berdiri jauh dari Aira di tempat yang tersembunyi bersama Dokter yang
menangani Aira di rehabilitasi itu. Ia mati-matian menahan hasratnya untuk
berlari ke sana dan memeluk gadis itu. Ia tidak ingin mengagetkan Aira
sekarang. Untuk kesekian kalinya ia harus bersabar dan menunggu sebentar sampai
waktunya tepat.
“Apa mereka akan
baik-baik saja jika keluar dari sini? Mereka akan merasa nyaman tinggal di sini
dan tidak mau keluar lagi… atau canggung masuk ke dunia luar,” Erland
mengungkapkan kekuatirannya.
“Anggaplah ini
tempat pelarian bagi mereka. Mereka yang ada di sini adalah orang-orang separuh
gila yang masih sadar akan dirinya sendiri. Mereka butuh tempat yang tenang
untuk meredakan perasaan mereka sendiri. Jika pasien di sini sudah bisa
dinyatakan sembuh, maka kami akan membawa mereka keluar dari tempat ini agar
mereka bisa berbaur lagi dengan orang-orang biasa. Tentu saja kerjasama dari
keluarga dan orang yang dipercayai pasien akan sangat membantu.” Jawabnya
panjang lebar.
“Mereka tidak
terlihat seperti sedang berobat atau diterapi.”
“Mereka diterapi. Yang
diterapi adalah kesadaran mereka. Di sini, rasa saling tolong menolong akan
ditumbuhkan satu sama lain sehingga mereka bisa mengendalikan emosi mereka
dengan baik. Mereka akan membiasakan diri mereka dengan hal yang miring-miring…
maksudku adalah hal yang tidak sewajarnya.”
“Membiasakan?”
“Tidak ada manusia
yang bisa berubah hanya dalam semalam. Yang mereka butuhkan adalah membiasakan
diri dengan hal yang miring-miring itu. Jika mereka memaksakan diri untuk cepat
berubah, maka itu akan membuat bagian lainnya menjadi kacau.”
Seperti kata
‘kebiasaan’, kita tidak dapat mengubah cara kita berjalan atau makan hanya
dalam waktu singkat. Semua butuh proses.
Erland menemukan
tempat Aira dirawat setelah menemukan sebuah kartu rumah terapi yang jatuh di
kaki piano belakang. Ia awalnya tidak yakin dengan hal ini. Hanya saja apa
salahnya untuk menghubungi tempat itu. Akhirnya ia menelepon dan meminta
konfirmasi tentang keberadaan Aira. Keputusannya tepat. Aira ada di sana.
Dengan menempuh
waktu hampir empat jam, ia akhirnya sampai di alamat itu. Letaknya di atas
bukit dan udaranya benar-benar dingin. Airnya terasa seperti es saat disentuh.
Tempat ini sangat luas dan terbagi atas gedung utama bErlandtai dua yang di
dalamnya ada ruangan dokter dan ruangan-ruangan lainnya yang seperti ruang
kelas dan ruang bermain. Kemudian ada Hall, kantin, dan lapangan terbuka. Di
sisi lain yang menghadap ke barat, ada rumah-rumah kecil yang dibangun dari
kayu. Di sanalah tempat Aira dan pasien lainnya tinggal selama masa perawatan.
Tempat ini sangat
lengkap. Ada kebun dan beberapa ladang. Dokter itu bilang kalau Aira sangat
cekatan merawat tumbuhan. Ia sering ke taman bunga mawar ini. Bunga-bunga mawar
itu tumbuh dengan beraneka warna dan menyebarkan harum yang sangat memukau.
“Apa kau ingin
bertemu dengannya?” tanya dokter itu.
Melihat Aira yang
baik-baik saja di sini membuat Erland mengurungkan dulu niatnya. Akhirnya, ia
menjalankan dulu rencana pertamanya. Rencana yang telah ia susun selama melaju
kemari. Ia menggenggam erat buku yang ada ditangannya.
“Aku akan tinggal.
Tapi, tolong berikan ini padanya,” pintanya sambil memberikan buku itu.
“Katakan saja buku ini dari seseorang, dan izinkan aku untuk mengamatinya tanpa
terlihat.”
Dokter itu setuju
dan kemudian pergi menghampiri Aira dari arah yang berlawanan seolah-olah ia
baru datang.
Aira sedang membersihkan rumput-rumput liar di sekitar kebun
mawar itu. Ia mengenakan sarung tangan dan topi agar terlindungi dari panas
matahari.
“Aira,” panggil
seseorang dengan suara lembutnya.
Aira berhenti dan
mendongak ke atas. Seorang wanita muda yang cantik sedang berdiri di depannya.
Ia segera berdiri menyambutnya.
“Dokter,” katanya.
“Bagaimana keadaanmu
hari ini?”
“Ya. Aku merasa
baik.”
“Ada sesuatu yang
mengganggumu?” tanyanya karena mendengar sedikit nada ragu dalam suaranya.
“Ah, tidak. Sama
sekali tidak ada,” jawabnya cepat.
“Baiklah,” katanya.
“Tapi jangan lagi menutupi perasaanmu. Oh ya, ada kiriman untukmu.”
Aira menerima buku
itu dan mencermatinya. “Dari siapa?”
“Entahlah. Ada
seseorang yang memberikannya padaku tanpa mengatakan nama pengirimnya.”
Baru kali ini ia
mendapat paket seperti ini.
“Ini tidak buruk
kan?” tanya dokter itu.
Aira menggeleng
sambil tersenyum, “tentu saja tidak.”
“Kalau begitu aku
permisi dulu.” Ia berjalan meninggalkan Aira sendirian dengan buku ditangannya.
Ia penasaran dan
memilih beristirahat dibangku taman itu. Ia mulai membacanya.

0 comments: