Song of Aria #25 - Rain

7:55 PM fe 0 Comments


        “Dia kehilangan kendali atas dirinya enam tahun lalu. Ia tahu kalau keluarganya mempunyai penyakit itu turun-temurun, dan ia sudah siap menghadapinya. Ia tahu kalau kadang kesadarannya menghilang. Biasanya orang yang mengalami gangguang jiwa seperti dirinya tidak bisa keluar dari dunianya. Ia akan merasa bahwa ada seseorang yang mengambil alih kendali tubuhnya dan ia tidak akan ingat apa-apa saat itu tiba. Tapi selama berada di sini ia sudah bisa merasakan ketenangan dan bisa mengambil alih kendali dirinya sedikit demi sedikit,” kata Dr. Anna yang menangani Aira di tempat itu.
   Erland sekarang sedang berdiri jauh dari Aira di tempat yang tersembunyi bersama Dokter yang menangani Aira di rehabilitasi itu. Ia mati-matian menahan hasratnya untuk berlari ke sana dan memeluk gadis itu. Ia tidak ingin mengagetkan Aira sekarang. Untuk kesekian kalinya ia harus bersabar dan menunggu sebentar sampai waktunya tepat.
   “Apa mereka akan baik-baik saja jika keluar dari sini? Mereka akan merasa nyaman tinggal di sini dan tidak mau keluar lagi… atau canggung masuk ke dunia luar,” Erland mengungkapkan kekuatirannya.

   “Anggaplah ini tempat pelarian bagi mereka. Mereka yang ada di sini adalah orang-orang separuh gila yang masih sadar akan dirinya sendiri. Mereka butuh tempat yang tenang untuk meredakan perasaan mereka sendiri. Jika pasien di sini sudah bisa dinyatakan sembuh, maka kami akan membawa mereka keluar dari tempat ini agar mereka bisa berbaur lagi dengan orang-orang biasa. Tentu saja kerjasama dari keluarga dan orang yang dipercayai pasien akan sangat membantu.” Jawabnya panjang lebar.
   “Mereka tidak terlihat seperti sedang berobat atau diterapi.”
   “Mereka diterapi. Yang diterapi adalah kesadaran mereka. Di sini, rasa saling tolong menolong akan ditumbuhkan satu sama lain sehingga mereka bisa mengendalikan emosi mereka dengan baik. Mereka akan membiasakan diri mereka dengan hal yang miring-miring… maksudku adalah hal yang tidak sewajarnya.”
   “Membiasakan?”
   “Tidak ada manusia yang bisa berubah hanya dalam semalam. Yang mereka butuhkan adalah membiasakan diri dengan hal yang miring-miring itu. Jika mereka memaksakan diri untuk cepat berubah, maka itu akan membuat bagian lainnya menjadi kacau.”
   Seperti kata ‘kebiasaan’, kita tidak dapat mengubah cara kita berjalan atau makan hanya dalam waktu singkat. Semua butuh proses.
   Erland menemukan tempat Aira dirawat setelah menemukan sebuah kartu rumah terapi yang jatuh di kaki piano belakang. Ia awalnya tidak yakin dengan hal ini. Hanya saja apa salahnya untuk menghubungi tempat itu. Akhirnya ia menelepon dan meminta konfirmasi tentang keberadaan Aira. Keputusannya tepat. Aira ada di sana.
   Dengan menempuh waktu hampir empat jam, ia akhirnya sampai di alamat itu. Letaknya di atas bukit dan udaranya benar-benar dingin. Airnya terasa seperti es saat disentuh. Tempat ini sangat luas dan terbagi atas gedung utama bErlandtai dua yang di dalamnya ada ruangan dokter dan ruangan-ruangan lainnya yang seperti ruang kelas dan ruang bermain. Kemudian ada Hall, kantin, dan lapangan terbuka. Di sisi lain yang menghadap ke barat, ada rumah-rumah kecil yang dibangun dari kayu. Di sanalah tempat Aira dan pasien lainnya tinggal selama masa perawatan.
   Tempat ini sangat lengkap. Ada kebun dan beberapa ladang. Dokter itu bilang kalau Aira sangat cekatan merawat tumbuhan. Ia sering ke taman bunga mawar ini. Bunga-bunga mawar itu tumbuh dengan beraneka warna dan menyebarkan harum yang sangat memukau.
   “Apa kau ingin bertemu dengannya?” tanya dokter itu.
   Melihat Aira yang baik-baik saja di sini membuat Erland mengurungkan dulu niatnya. Akhirnya, ia menjalankan dulu rencana pertamanya. Rencana yang telah ia susun selama melaju kemari. Ia menggenggam erat buku yang ada ditangannya.
   “Aku akan tinggal. Tapi, tolong berikan ini padanya,” pintanya sambil memberikan buku itu. “Katakan saja buku ini dari seseorang, dan izinkan aku untuk mengamatinya tanpa terlihat.”
   Dokter itu setuju dan kemudian pergi menghampiri Aira dari arah yang berlawanan seolah-olah ia baru datang.
Aira sedang membersihkan rumput-rumput liar di sekitar kebun mawar itu. Ia mengenakan sarung tangan dan topi agar terlindungi dari panas matahari.
   “Aira,” panggil seseorang dengan suara lembutnya.
   Aira berhenti dan mendongak ke atas. Seorang wanita muda yang cantik sedang berdiri di depannya. Ia segera berdiri menyambutnya.
   “Dokter,” katanya.
   “Bagaimana keadaanmu hari ini?”
   “Ya. Aku merasa baik.”
   “Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya karena mendengar sedikit nada ragu dalam suaranya.
   “Ah, tidak. Sama sekali tidak ada,” jawabnya cepat.
   “Baiklah,” katanya. “Tapi jangan lagi menutupi perasaanmu. Oh ya, ada kiriman untukmu.”
   Aira menerima buku itu dan mencermatinya. “Dari siapa?”
   “Entahlah. Ada seseorang yang memberikannya padaku tanpa mengatakan nama pengirimnya.”
   Baru kali ini ia mendapat paket seperti ini.
   “Ini tidak buruk kan?” tanya dokter itu.
   Aira menggeleng sambil tersenyum, “tentu saja tidak.”
   “Kalau begitu aku permisi dulu.” Ia berjalan meninggalkan Aira sendirian dengan buku ditangannya.
   Ia penasaran dan memilih beristirahat dibangku taman itu. Ia mulai membacanya.

You Might Also Like

0 comments: