She #19 - Rain
Lelah.
Ia merasa kalau semua tenaganya terkuras
habis setelah pukul empat pagi berlalu. Semua pelanggan telah pulang. Pit Stop telah ditutup. Ia bahka tidak
sadar kalau lagu berisik itu sudah berhenti lama.
Ren sedang berusaha mengerahkan
sisa-sisa tenaganya untuk membersihkan lantai dansa. Ia masih berusaha menghiraukan
bau alkohol yang beredar di udara, dan juga menahan rasa mualnya karena bau
itu. Udara mendadak dingin dan ia masih harus mengepel ruangan luas ini sampai
bersih. Mint juga begitu. Tapi ia sama sekali tidak terlihat lelah. Wajahnya
menunjukkan banyak tenaga yang masih tersimpan.
“Gimana, Ren? Masih kuat?” teriak Mint
yang berdiri jauh darinya.
“Aku pusing,” keluh Ren lelah dan mual.
Mint tertawa, “Dulu aku juga gitu. Lebih
parah lagi, aku muntah waktu bersihin lantai dansa,” ceritanya. “Tapi nanti juga
terbiasa, kok. Aku jamin.”
Rasanya Ren sudah sangat terengah-engah
dengan tugasnya ini. Semua tenaganya terbuang percuma karena rasa cemas dan
takutnya sendiri. Ia sudah menghindari banyak pelanggan nakal hari ini dan itu
justru lebih melelahkan dari apapun juga.
Dan di saat rasa pusing melandanya hebat,
ia langsung jatuh terduduk.
“Ren!” Mint yang melihat itu langsung
berlari menghampirinya. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat
Andrea lebih dulu sampai di sana.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pada Ren
yang terlihat pucat pasi.
Ren menggeleng lemah. Ia ingin bangkit
berdiri tapi semua tenaganya lenyap seketika. Rasa pusing dan sakit kepala
melandanya hebat. Andrea memeriksa suhu badannya dan kaget.
“Demam,” gumamnya pelan. Lalu ia
langsung menggendong Ren dipunggungnya.
Ren yang sudah tidak bisa apa-apa lagi
hanya memasrahkan dirinya pada apa yang dilakukan Andrea padanya. Ia sama
sekali tidak protes. Ia hanya bisa mengerutkan dahi dan memejamkan matanya
untuk mengusir rasa sakitnya.
Andrea tahu kalau Ren terlalu gugup dan
lelah malam ini. Ia segera berjalan keluar sebelum Ferry turun dan
memanggilnya.
“Kenapa dia?” tanya pria tambun itu
sambil buru-buru menghampiri Andrea.
“Dia demam,” jawab Andrea.
Ferry melihat wajah Ren dan langsung
merasa simpati. “Aku panggil Ginny dulu,” dan pada Mint ia berkata, “Mint,
tolong bersihkan lantai dansa juga ya. Bisa, kan?”
“Ya,” jawabnya cemas.
Andrea duduk dikursi samping tempat
tidur Ren setelah Ginny mengganti bajunya yang basah karena keringat. Keringat
itu masih mengalir dari dahinya. Ia mengompres Ren dan terus berada di sana.
“Biar aku yang jaga dia. Kamu tidur
saja,” kata Ginny yang duduk di sampingnya.
Tapi Andrea diam, tak bergerak. Matanya
terus menatap wajah pucat Ren yang tertidur setelah dipaksa minum obat oleh
Ginny tadi.
“Kamu tidur saja,” Andrea membalikkan
saran itu pada Ginny. “Lagi pula kamu kerja semalaman.”
Ginny menghela napasnya. “Kamu sendiri
nggak tidur dua hari ini. Bisa-bisa kamu lagi yang sakit.”
“Aku nggak apa-apa,” katanya sambil
tetap menatap Ren.
Ginny diam mencoba mencari solusi.
Akhirnya dia menyerah dan berkata, “Ok. Aku tidur dulu. Nanti kita gantian.”
Ia membiarkan Andrea di sana.
Setelah Ginny pergi dan menutup pintu
Andrea masih tetap ada di sana. Ia sama sekali tidak berkutik dari tatapannya. Dalam
hatinya ia sangat marah. Marah pada dirinya sendiri yang tidak memperhitungkan
tekanan yang akan diterima gadis itu.
Ia tahu kalau Ren banyak menarik diri
selama bekerja. Ia juga tahu kalau Ren tertekan, cemas, dan lebih banyak
menghindar hingga energinya terserap dengan ketakutan-ketakutannya itu.
Satu hal lagi, sekalipun logika Ren
hampir sama dengan logika lelaki yang praktis tapi hari ini ia menemukan kalau
Ren terlihat sangat lemah dalam hal pertahanan diri.
Ia memarahi dirinya habis-habisan dan
tidak berdaya saat menatap wajah pucat itu yang tertidur pulas. Ia menggenggam
tangan Ren yang dingin dan merasa gagal dalam melindungi gadis itu.
Tapi ia tahu kalau Ren sangat keras
kepala. Jadi percuma saja menyuruhnya pulang, bisa-bisa ia tidak akan bicara
lagi dengan gadis itu.
Dan jika itu terjadi… Entahlah.

0 comments: