She #19 - Rain

12:07 PM fe 0 Comments



Lelah.
Ia merasa kalau semua tenaganya terkuras habis setelah pukul empat pagi berlalu. Semua pelanggan telah pulang. Pit Stop telah ditutup. Ia bahka tidak sadar kalau lagu berisik itu sudah berhenti lama.
Ren sedang berusaha mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk membersihkan lantai dansa. Ia masih berusaha menghiraukan bau alkohol yang beredar di udara, dan juga menahan rasa mualnya karena bau itu. Udara mendadak dingin dan ia masih harus mengepel ruangan luas ini sampai bersih. Mint juga begitu. Tapi ia sama sekali tidak terlihat lelah. Wajahnya menunjukkan banyak tenaga yang masih tersimpan.

“Gimana, Ren? Masih kuat?” teriak Mint yang berdiri jauh darinya.
“Aku pusing,” keluh Ren lelah dan mual.
Mint tertawa, “Dulu aku juga gitu. Lebih parah lagi, aku muntah waktu bersihin lantai dansa,” ceritanya. “Tapi nanti juga terbiasa, kok. Aku jamin.”
Rasanya Ren sudah sangat terengah-engah dengan tugasnya ini. Semua tenaganya terbuang percuma karena rasa cemas dan takutnya sendiri. Ia sudah menghindari banyak pelanggan nakal hari ini dan itu justru lebih melelahkan dari apapun juga.
Dan di saat rasa pusing melandanya hebat, ia langsung jatuh terduduk.
“Ren!” Mint yang melihat itu langsung berlari menghampirinya. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat Andrea lebih dulu sampai di sana.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pada Ren yang terlihat pucat pasi.
Ren menggeleng lemah. Ia ingin bangkit berdiri tapi semua tenaganya lenyap seketika. Rasa pusing dan sakit kepala melandanya hebat. Andrea memeriksa suhu badannya dan kaget.
“Demam,” gumamnya pelan. Lalu ia langsung menggendong Ren dipunggungnya.
Ren yang sudah tidak bisa apa-apa lagi hanya memasrahkan dirinya pada apa yang dilakukan Andrea padanya. Ia sama sekali tidak protes. Ia hanya bisa mengerutkan dahi dan memejamkan matanya untuk mengusir rasa sakitnya.
Andrea tahu kalau Ren terlalu gugup dan lelah malam ini. Ia segera berjalan keluar sebelum Ferry turun dan memanggilnya.
“Kenapa dia?” tanya pria tambun itu sambil buru-buru menghampiri Andrea.
“Dia demam,” jawab Andrea.
Ferry melihat wajah Ren dan langsung merasa simpati. “Aku panggil Ginny dulu,” dan pada Mint ia berkata, “Mint, tolong bersihkan lantai dansa juga ya. Bisa, kan?”
“Ya,” jawabnya cemas.


Andrea duduk dikursi samping tempat tidur Ren setelah Ginny mengganti bajunya yang basah karena keringat. Keringat itu masih mengalir dari dahinya. Ia mengompres Ren dan terus berada di sana.
“Biar aku yang jaga dia. Kamu tidur saja,” kata Ginny yang duduk di sampingnya.
Tapi Andrea diam, tak bergerak. Matanya terus menatap wajah pucat Ren yang tertidur setelah dipaksa minum obat oleh Ginny tadi.
“Kamu tidur saja,” Andrea membalikkan saran itu pada Ginny. “Lagi pula kamu kerja semalaman.”
Ginny menghela napasnya. “Kamu sendiri nggak tidur dua hari ini. Bisa-bisa kamu lagi yang sakit.”
“Aku nggak apa-apa,” katanya sambil tetap menatap Ren.
Ginny diam mencoba mencari solusi. Akhirnya dia menyerah dan berkata, “Ok. Aku tidur dulu. Nanti kita gantian.”
Ia membiarkan Andrea di sana.
Setelah Ginny pergi dan menutup pintu Andrea masih tetap ada di sana. Ia sama sekali tidak berkutik dari tatapannya. Dalam hatinya ia sangat marah. Marah pada dirinya sendiri yang tidak memperhitungkan tekanan yang akan diterima gadis itu.
Ia tahu kalau Ren banyak menarik diri selama bekerja. Ia juga tahu kalau Ren tertekan, cemas, dan lebih banyak menghindar hingga energinya terserap dengan ketakutan-ketakutannya itu.
Satu hal lagi, sekalipun logika Ren hampir sama dengan logika lelaki yang praktis tapi hari ini ia menemukan kalau Ren terlihat sangat lemah dalam hal pertahanan diri.
Ia memarahi dirinya habis-habisan dan tidak berdaya saat menatap wajah pucat itu yang tertidur pulas. Ia menggenggam tangan Ren yang dingin dan merasa gagal dalam melindungi gadis itu.
Tapi ia tahu kalau Ren sangat keras kepala. Jadi percuma saja menyuruhnya pulang, bisa-bisa ia tidak akan bicara lagi dengan gadis itu.
Dan jika itu terjadi… Entahlah.

You Might Also Like

0 comments: